PERENCANAAN PROGRAM PENANGANAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

TUGAS TERSTRUKTUR

MATA KULIAH PENDIDIKAN KESEHATAN MASYARAKAT

“PERENCANAAN PROGRAM PENANGANAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KECAMATAN PURWOKERTO TIMUR

 

 

Disusun Oleh:

 

Disusun oleh:

1.    Arum Sulistyaningsih (G1B011002)

2.    Siska Fiany                  (G1B011006)
3.    Eni Iswati                     (G1B011010)
4.    Hanum Choirunisa     (G1B011014)
5.    Prista Arzenith            (G1B011016)
6.    Indah Cahyani            (G1B011021)
7.    Nadia Ade Pratiwi      (G1B011076)

 

 

 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT

PURWOKERTO

 

2012

 

  1. A.      Latar Belakang

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Penyakit demam berdarah meningkat pada musim hujan karena pada saat musim hujan terdapat banyak genangan air yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk. Penyakit demam berdarah banyak ditemui pada lingkungan yang padat penduduk. Semakin padat penduduk maka semakin mudah penularan penyakit demam berdarah sebab nyamuk Aedes aegypti hanya dapat terbang sejauh kurang lebih seratus meter.

Penyakit DBD bersifat endemis, sampai saat ini penyakit DBD masih merupakan masalah kesehatan yang cukup serius untuk diwaspadai, karena sering menimbulkan wabah dan menyebabkan kematian pada banyak orang terutama anak-anak. Jumlah kasus DBD pada tahun 2010 di Indonesia sebanyak 156.086 kasus dengan jumlah kematian akibat DBD sebesar 1.358 orang. Dengan demikian, angka insiden (AI) DBD pada tahun 2010 adalah 65,7 per 100.000 penduduk dan angka kematian kasus sebesar 0,87%.3 Tahun 2010 angka insiden DBD Jawa Tengah sebesar 368,7/ 100.000 penduduk dengan jumlah kasus sebanyak 5.556 kasus dengan 47 kematian (Aryanti, 2012).

Jumlah kejadian Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Banyumas pada 5 (lima) tahun terakhir cenderung mengalami peningkatan. Hasil pendataan dari instansi terkait jumlah kejadian DBD adalah sebagai berikut : 72 orang (th 2002) IR 0,69 per 10.000 penduduk, 97 orang (th 2003) IR 0,80 per 10.000 penduduk, 175 orang (th 2004) IR 1,22 per 10.000 penduduk dan 135 orang (th 2005) IR 0, 87 per 10.000 penduduk, 329 orang (2006 ) IR 1, 87 per 10.000 penduduk. Peningkatan kejadian terjadi di wilayah ibukota Kabupaten (wilayah perkotaan), pada th. 2006 kejadianya cukup tinggi, dari 329 kejadian sebanyak 114 kejadian terjadi di kota Purwokerto.

Dari 4 (empat) Kecamatan yang termasuk dalam wilayah kota Purwokerto data dari tahun 2004, 2005, dan 2006 dapat dilihat dari 27 Kelurahan yang ada 16 Kelurahan masuk dalam katagori endemis sedangkan 11 Kelurahan lainya masuk dalam katagori sporadis dan Kecamatan Purwokerto Timur menempati urutan pertama dari banyaknya kejadian Demam Berdarah Dengue. Dari 6 (enam) Kelurahan yang masuk dalam wilayah Kecamatan Purwokerto Timur 4 (empat) Kelurahan masuk dalam katagori Kelurahan endemis dan 2 (dua) Kelurahan sporadis.

Jumlah penderita DBD pada tahun 2011 terdapat 11 penderita di wilayah puskesmas II Purwokerto Timur. Namun, pada mingu ketiga di bulan Januari 2012 tercatat ada 8 orang yang positif terjangkit DBD. Hal ini membuktikan adanya peningkatan kasus DBD yang signifikan di wilayah Purwokerto Timur (Suara Merdeka, 2012).

 

  1. B.       Gambaran Kebutuhan dan Sumber Daya Komunitas

B.1. Gambaran Kebutuhan

Penduduk kota Purwokerto sampai dengan bulan Desember 2006 berjumlah 227.647 yang tergabung dalam 62.226 kepala keluarga dengan kepadatan penduduk per km2 1.230 orang. Mayoritas penduduk Purwokerto berumur 15-44 tahun. Tingkat pendidikan masyarakatnya rata-rata adalah SMA (Dinkes Banyumas, 2006). Tingkat pendidikan yang mereka miliki cukup mendukung untuk melaksanakan perilaku hidup sehat, selainitudidukung pula dengan sarana pelayanan kesehatan yang lengkap, akan tetapi justru wilayah Purwokerto Timur menjadi daerah endemik DBD. Hal ini disebabkan oleh faktor lingkungan yang kurang mendukung. Faktor lingkungan tersebut dibedakan menjadi tiga, yaitu :

  1. Lingkungan fisik

Penduduk Purwokerto Timur cukup padat hingga mencapai kurang dari 10 m2 per orang. Suhu yang ada di wilayah Purwokerto Timur berkisar antara 25-300 sedangkan kelambabannya adalah 73,9%. Padatnya penduduk dapat mempercepat penularan DBD karena nyamuk Aedes aegypti yang berperan sebagai vektor penularan DBD hanya dapat terbang sekitar 100 meter. Nyamuk Aedes aegypti cocok hidup dalam lingkungan yang memiliki kelembaban cukup tinggi, kelembaban yang ada di wilayah Purwokerto Timur yaitu sebesar 73,9% cukup mendukung dalam proses pertumbuhan maupun perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

  1. Lingkungan biologi

Lingkungan biologi sangat mempengaruhi penularan DBD.  Daerah purwokerto timur merupakan wilayah yang masih banyaknya tanaman hias dan tanaman pekarangan, yang mempengaruhi kelembaban dan pencahayaan didalam rumah. Adanya kelembaban yang tinggi dan kurangnya pencahayaan dalam rumah merupakan tempat yang disenangi nyamuk untuk hinggap beristirahat. Pada musim hujan vektor penyakit demam berdarah populasinya meningkat dengan bertambah banyaknya sarang–sarang nyamuk diluar rumah sebagai akibat sanitasi lingkungan yang kurang bersih, sedang pada musim kemarau Aedes aegypti bersarang dibejana-bejana yang selalu terisi air seperti bak mandi, tempayan, drum dan penampungan air.

  1. Lingkungan Sosial

Kebiasaan masyarakat Purwokerto Timur yang merugikan kesehatan dan kurang memperhatikan kebersihan lingkungan seperti kebiasaan menggantung baju, kebiasaan tidur siang, kebiasaan tidak membersihkan tempat penampungan air (TPA), kebiasaan tidak membersihkan halaman rumah, dan juga partisipasi masyarakat khususnya dalam rangka pembersihan sarang nyamuk, maka akan menimbulkan resiko terjadinya transmisi penularan penyakit DBD di masyarakat. Kebiasaan ini akan menjadi lebih buruk dimana masyarakat sulit mendapatkan air bersih, sehingga mereka cenderung untuk menyimpan air dalam tandon bak air, karena tempat penampungan air (TPA) tersebut sering tidak dicuci dan dibersihkan secara rutin pada akhirnya menjadi potensial sebagai tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti.

Faktor-faktor lingkungan tersebut merupakan faktor resiko yang dapat meningkatkan kejadian penyakit DBD pada masyarakat yang ada di wilayah Purwokerto Timur sehingga perlu adanya perbaikan dan pengelolaan lingkungan agar menjadi lebih sehat. Lingkungan yang sehat dapat menurunkan tingginya angka kejadian DBD di Purwokerto Timur.

B.2. Sumber Daya Komunitas

Sumberdaya komuniatas yang ada di Purwokerto Timur yang dapat mengurangi kasus DBD adalah

  1. Dasa wisma

Dasa wisma adalah kelompok ibu yang berasal dari 10 rumah yang bertetangga. Kegiatannya diarahkan pada peningkatan kesehatan keluarga. Daerah Purwokerto khususnya Purwokerto Timur telah telah memiliki dasawisma, namun dasa wisma tersebut masih belum diberdayakan secara maksimal, untuk memaksimalkan dasawisma yang telah dibentuk menjadi lebih berdaya guna dan berhasil maka dilaksanakan progam penanggulangan penyakit DBD dengan mengendalikan vektor melalui dasa wisma

  1. Ibu Rumah Tangga

Ibu rumah tangga mempunyai waktu lebih banyak untuk mengurus rumah dan lingkungan sekitarnya dibandingkan dengan pria sebagai pencari nafkah.  Ibu rumah tangga tersebut memiliki potensi yang besar dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan DBD melalui pengendalian vektor dengan cara membersihkan rumahnya secara teratur dan tidak membiarkan rumah berantakan yang nantinya dapat digunakan sebagai sarang nyamuk.

  1. Budaya gotong royong

Gotong royong merupakan suatu usaha secara bersama-sama untuk mengatasi suatu permasalahan termasuk permasalahan kesehatan khususnya dalam program pemberantasan sarang nyamuk. Budaya gotong royong telah melekat pada masyarakat Purwokerto Timur, hal ini dibuktikan dengan diselenggarakan kerja bakti. Kegiatan pemberantasan sarang nyamuk tidak akan efektif jika hanya dilakukan oleh beberapa orang saja namun perlu adanya kerjasama antar masyarakat yang ada di suatu daerah yang bersangkutan. Kebiasaan gotong royong ini sangat mendukung untuk menunjang kesuksesan program pemberantasan sarang nyamuk.

 

 

  1. C.      Tujuan

a)      Tujuan Umum

Mengendalikan angka morbiditas dan mortalitas akibat penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

b)      Tujuan Khusus

  1. Pengubahan pola  perilaku Hidup tidak Bersih dan tidak Sehat
  2. Penerapan  perilaku 3 M (Menguras, Menutup, Mengubur)
  3. Peningkatan pengetahuan akan penyakit Demam berdarah Dengue
  4. Meningkatkan peran serta masyarakat (PSM) dalam pemberantasan nyamuk (PSN)

 

  1. D.      Sasaran

Ibu-ibu yang bertempat tinggal di wilayah Purwokerto Timur.

  1. E.       Materi Pendidikan Kesehatan

a)      Pengertian Demam Berdarah

Penyakit Demam Berdarah Dengue adalah penyakit infeksi virus akut yang disebabkan oleh virus Dengue dan terutama menyerang anak- anak dengan ciri- ciri demam tinggi mendadak dengan manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan shock dan kematian (Keri, 2007).

b)      Etiologi dan Penularan

Penyakit DBD disebabkan oleh virus Dengue dari kelompok Arbovirus B yaitu anrthropod-borne virus atau virus yang disebabkan oleh artropoda. Virus ini termasuk genus flavivirus dari famili flaviviridae. David Bylon, 1779 melaporkan bahwa epidemilogi dengue di Batavia disebabkan oleh tiga faktor utama yaitu virus, manusia dan nyamuk. Demam berdarah nerupakan salah satu jenis penyakit menular yang ditularkan melalui perantara vektor nyamuk Aedes aegypti (perkotaan) dan mungkin juga Albopictus (pedesaan).  Distribusi kedua jenis nyamuk ini hampir meliputi seluruh daerah di Indonesia kecuali daerah dyang mencapai ketinggian 1000 m diatas permukaan laut.

Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti adalah :

  1. sayap dan badannya belang-belang atau bergaris-garis putih
  2. berkembangbiak di air jernih yang tidak beralaskan tanah seperti bak mandi, WC, tempayan, drum, dan barang-barang yang menampung air seperti kaleng, ban bekas, pot tanaman air, tempat minum burung dan lain-lain.
  3. Jarak terbang ± 100 meter
  4. Nyamuk betina bersifat multiple bitters (menggigit beberapa orang karena sebelum nyamuk tersebut kenyang sudah berpindah tempat)
  5. Tanah dalam suhu panas dan kelembaban tinggi

Nyamuk yang menjadi vektor DBD adalah nyamuk yang mrnjadi terinfeksi saat menggit manusia yang sedang sakit dan viremia (terdapat virus dengue dalam darahnya). Menurut laporan terakhir virus dapat pula ditularkan secara transovarial dari nyamuk ke telur-telurnya.

Virus berkembang dalam tubuh nyamuk selama 8-10 hari terutama dalam kelenjar air liurnya, dan jika nyamuk ini mrnggigit orang lain maka virus dengue akan dipindahkan bersama air liur nyamuk. dalam tubuh manusia, virus ini akan berkembang selama 4-6 hari dan orang tersebut akan mengalami sakit demam berdarah dengue. Virus dengue memperbanyak diri dalam tubuh manusia dan berada dalam darah selama satu minggu.

Orang yang didalam tubuhnya terdapat virus dengue tidak senuanya akan sakit demam berdarah. Ada yang mengalami demam ringan dan sembuh dengan sendirinya, atau bahkan sama sekali tanpa gejala sakit. Tetapi semuanya merupakan pembawa virus dengue selama satu minggu, sehingga dapat menularkan kepada orang lain di berbagai wilayah yang ada nyamuk penularnya. Sekali terinfeksi, nyamuk menjadi infektiv seumur hidupnya (Widoyono, 2008).

Penyebaran penyakit DBD di Jawa biasanya terjadi mulai bulan januari sampai mei. Faktor yang mempengaruhi morbiditas dan mortalitas penyakit DBD antara lain :

  1. Imunitas pejamu
  2. Kepadatan populasi nyamuk
  3. Transmisi virus dengue
  4. Virulensi virus
  5. Keadaan geografis setempat

Faktor penyebab kasus DBD antara lain :

  1. Pertumbuhan penduduk
  2. Urbanisasi yang tidak terkontrol
  3. Transportasi (Widoyono, 2008).

c)      Patogenesis

infeksi virus terjadi melalui gigitan nyamuk, virus memasuki aliran darah manusia untuk kemudian bereplikasi atau memperbanyak diri. Sebagai perlawanan, tubuh akan membentuk antibodi, selanjutnya akan terbentuk kompleks virus antibodi dengan virus yang berfungsi sebagai antigennya.

Kompleks antigen-antibodi tersebut akan melepasskan zat-zat yang merusak sel-sel pembuluh darah, yang disebut dengan proses autoimun. Proses tersebut menyebabkan permeabilitas kapiler meningkat yang salah satunya ditunjukan dengan melebarnya pori-pori pembuluh darah kapiler. Hal tersebut akan mengakibatkan bocornya sel-sel darah, antara lain trombosit dan eritrosit. Akibatnya, tubuh akan mengalami perdarahan mulai dari bercak sampai perdarahan hebat pada kulit, saluran pencernaan (muntah darah, berak darah), saluran pernafasan (mimisan, batuk darah) dan oragan vital (janutng, hati, ginjal) yang sering mengakibatkan kematian (Widoyono, 2008).

d)     Gejala dan Tanda

Pasien penyakit DBD pada umumnya disertai dengan tanda-tanda berikut :

  1. Demam selama 2-7 hari tanpa sebab yang jelas
  2. Manivestasi pendarahan dengan tes Rumpel Ledde (+), mulai dari petekie(+) sampai perdarahan spontan seperti mimisan, muntah darah atau berak darah hitam.
  3. Hasil pemeriksaan trombosit menurun (normal : 150.000-300.000µL), hematokrit meningkat (normal : pria <45, wanita < 40).
  4. Badan dingin, gelisah, tidak sadar (DSS, Dengue Shock Syndrome).

Kriteria diagnosis yang di ungkapkan oleh WHO pada tahun 1997 adalah sebagai berikut:

  1. Kriteria klinis.

1)      Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas dan berlangsung terus menerus selama 2-7 hari.

2)      Terdapat manivestasi pendarahan.

3)      Pembesaran hati

4)      Shyok

  1. Kriteria laboratoris.

1)      Trombositopenia (<100.000/mm3)

2)      Hemokonsentrasi (Ht meningkat >20%).

Seorang pasien dinyatakan penderita penyakit DBD bila terdapat minimal 2 gejala klinis yang positif dan 1 hasil laboratorium yang positif. Bila gejala dan tanda tersebut kurang dari ketentuan diatas maka pasien dinyatakan demam dengue (Widoyono, 2008).

e)      Pencegahan dan Pemberantasan

Cara- cara mencegah dan memberantas nyamuk antara lain :

  1. Abatisasi

Abatasasi yaitu penaburan abate dengan dosis 10 gr untuk 100 liter air pada tampungan air yang ditemukan jentik nyamuk. Sebaiknya abatisasi dilakukan setiap 3 bulan sekali. Ada dua macam kegiatan abatisasi yaitu pertama  abatisasi selectif yang dilakukan pada tempat-tempat penampungan air yang ditemukan jentik. Kedua abatisasi masal yaitu dilakukan pada smua tempat penampungan air di desa/ kelurahan apabila terjadi KLB (Kejadian Luar Biasa).

  1. 3 M (Menutup, Menguras, dan Mengubur)

Cara ini efektif dalam usaha pencegahan nyamuk untuk berkembang biak. Jika nyamuk tidak bisa berkembang biak maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Upaya-upaya yang dilakukan dalam kegiatan 3 M adalah sebagai berikut :

  1. Menutup dengan rapat tempat penampungan air seperti menutup tempayan air. Menutup lubang-lubang pada bambu pagar dan lubang pohon dengan tanah.
  2. Menguras bak mandi dan tempat-tempat penampungan air sekurang-kurangnya seminggu sekali.
  3. Mengubur barang-barang bekas ke dalam tanah, seperti kaleng-kaleng, botol pecah dan lain-lain.

f)       Perbaikan Drainase

Memperbaiki saluran-saluran air bawah tanah, baik itu alami maupun buatan. Contohnya selokan-selokan yang ada di sekitar rumah penduduk perlu pembersihan secara kontinue agar terbebas dari jentik-jentik nyamuk. Bisa dilakukan dengan  cara gotong-royong oleh masyarakat setempat. Pembersihan sebaiknya dilakukan oleh bapak-bapak maupun pemuda dari daerah setempat yang biasa di lakukan oleh bapak-bapak penduduk sekitar dan di lakukan sebulan sekali.

g)      Ovitrap

Pemasangan ovitrap merupakan salah satu upaya pemantauan (kegiatan surveilans) untuk mendeteksi apakah di dalam dan sekitar rumah menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti yang berperan sebagai vektor DBD (demam berdarah dengue) atau tidak.

Gambar 1. Ovitrap

Ovitrap berarti perangkap telur (ovum= telur, trap= perangkap) terbukti menekan pertumbuhan nyamuk hingga 50%. Ovitrap mudah dibuat, murah, dan efektif.

Bahan-bahan yang diperlukan adalah

1. Kasa Nyamuk

2. Ember Hitam

3. Air Bersih

Cara membuat Ovitrap adalah sebagai berikut :

Langkah 1: Pasang kasa nyamuk pada ember
Langkah 2: Isi ember dengan air hingga 1/3 tinggi kasa nyamuk tergenang air
Langkah 3: Sebaiknya tempatkan di tempat yang gelap dan di sudut ruangan
Langkah 4: Setelah satu minggu anda bisa mempunyai segerombolan nyamuk mati di dalam perangkap. Ganti air dan bersihkan kasa nyamuk setiap seminggu sekali.

Gambar2.  Perangkap telur nyamuk

h)      PHBS

Perilaku hidup bersih dan sehat yang dapat mencegah peningkatan kepadatan vektor yaitu sebagai berikut :

  1. Menghindari perilaku menggantung baju
  2. Rajin membersihkan  tempat-tempat yang terdapat genangan air di sekitar rumah.
  3. Rajin membersihkan pekarangan dari sampah-sampah yang dapat menampung air seperti kaleng dan botol.
  4. Menghindari perilaku tidur siang
  5. Menjaga kebersihan saluran air.
  6. Memasang obat nyamuk (elektrik/bakar), dalam memasang obat nyamuk kita harus memperhatikan keadaan nyamuknya.
  7. Memakai lotion nyamuk pada pagi dan malam hari.
  8. Memasang kelambu pada tempat tidur
  9. Pelihara ikan, dengan memelihara ikan di dalam bak mandi atau kolam dapat membantu mengendalikan nyamuk. Ini karena ikan memakan jenti-jentik dan telur nyamuk.
  10. Pelihara tanaman pengusir nyamuk. Sekarang sudah banyak dijual dipasaran tanaman yang dapat mengusir nyamuk. Biasanya Zodia atau Lavender . tanaman ini mengusir nyamuk melalui bau yang dikeluarkan oleh tanaman tersebut.
    1. F.       Metode Pendidikan Kesehatan

Metode yang digunakan dalam mengatasi kasus DBD di kawasan Purwokerto Timur yaitu dengan menggunakan peer group yang berupa dasawisma dan dikombinasikan dengan demonstrasi yang ada di wilayah tersebut

Langkah-langkah dalam pelaksanaan program:

  1. Memilih salah seorang dari anggota dasa wisma yang berjumlah 10 orang ibu-ibu yang rumahnya berdekatan sebagai peer educator
  2. Mengadakan penyuluhan kepada setiap peer educator setiap 2 minggu sekali dalam jangka waktu 3 bulan secara bertahap dengan informasi yang berbeda namun masih berkaitan
  3. Peer educator kemudian menyampaikan informasi yang telah didapatkan dari tenaga kesehatan kepada anggota peer groupnya .
  4. Diadakan evaluasi secara rutin setiap seminggu setelah pemberian informasi kepada peer educator, serta pemberian nilai yang berupa bintang di setiap rumah yang telah melaksanakan pencegahan terhadap DBD.

Program yang akan dilaksanakan selama 3 bulan tersebut terdiri dari  pertemuan, yaitu :

a)         Pertemuan pertama : pada pertemuan pertama diberikan informasi mengenai pengertian DBD, penyebab dan penularan, patogenesis, gejala dan tanda, pencegahan DBD yang disertai dengan pembagian  abate  sebagai upaya pencegahan dini terhadap penyakit DBD. Alokasi waktu yang diberikan untuk pertemuan ini adalah 1 jam untuk pemberian informasi dan 30 menit untuk diskusi.

b)        Pertemuan kedua : pada pertemuan kedua diberikan informasi mengenai pencegahan DBD dengan menerapkan 3M (Menutup, menguras, dan mengubur) dengan alokasi waktu selama 45 menit untuk pemberian informasi dan 15 menit untuk diskusi. Agar informasi yang diterima dapat lebih dipahami dan mudah untuk diaplikasikan maka dilakukan pula demonstrasi menganai 3M dengan alokasi waktu selama 30 menit beserta pembagian kalender yang memuat informasi mengenai pencegahan DBD yang memuat gambar dan sedikit penjelasannya

c)         Pertemuan ketiga : pada pertemuan ketiga diberikan informasi mengenai pencegahan DBD melalui perbaikan drainase di lingkungan sekitar dengan alokasi waktu selama 70 menit untuk pemberian informasi dan 20 menit untuk diskusi

d)        Pertemuan keempat : pada pertemuan keempat diberikan informasi mengenai Ovitrap sebagai salah satu upaya untuk mengendalikan perkembangbiakan nyamuk khususnya nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penularan DBD dengan alokasi waktu selama 45 menit untuk pemberian informasi dan 15 menit untuk diskusi, setelah itu dilakukan demonstrasi mengenai pembuatan dan penggunaan ovitrap selama 30 menit.

e)         Pertemuan kelima : pada pertemuan kelima diberikan informasi mengenai PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat) sebagai upaya untuk mencegah DBD dengan alokasi waktu selama 1 jam untuk pemberian informasi dan 30 menit untuk diskusi. Penyampaian informasi tersebut memuat perilaku yang dapat mencegah DBD seperti pola tidur, kebiasaan menggantung baju dan kebiasaan yang jarang untuk membersihkan rumah. Pertamuan ini dilengkapi dengan penayangan film yang berkaitan dengan PHBS yang dapat mencegah DBD dengan alokasi waktu selama 15 menit

f)         Pertemuan keenam : pada pertemuan keenam akan diselanggarakan acara sebagai penutup dari rangkaian program pemberantasan DBD di wilayah Purwokerto Timur yang bertempat di lapangan Purwokerto Timul pada hari Minggu pukul 10.00-14.00 WIB. Dalam acara ini seluruh anggota peer group beserta keluarganya dapat hadir untuk mengikuti acara tersebut. Rangkaian acara penutup tersebut terdiri dari :

1)        Penampilan wayang yang berisi cerita tentang DBD dengan alokasi waktu selama 1 jam

2)        Pemberian penghargaan kepada peer group yang memiliki bintang terbanyak karena menjalankan program yang telah diberikan dengan alokasi waktu selam 1 jam

 

  1. G.      Media Pendidikan Kesehatan

Media yang digunakan dalam pendidikan kesehatan untuk menangani kasus DBD adalah

a)      Slide

Slide merupakan media visual yang diproyeksikan melalui alat yang disebut dengan proyektor slide. Untuk menggunakan program slide diperlukan adanya slide proyektor yang berfungsi memproyeksikan gambar ke layar. Medium slide mampu memproyeksikan program lebih besar ke layar.

b)      Film

Film disebut juga gambar hidup (motion pictures), yaitu serangkaian gambar diam (still pictures) yang meluncur secara cepat dan diproyeksikan sehingga menimbulkan kesan hidup dan bergerak. Film merupakan media yang menyajikan pesan audio, visual dan gerak.

c)      Benda nyata (asli)

Benda nyata adalah alat penyampaian informasi yang berupa benda atau obyek yang sebenarnya atau asli

d)     Kalender bergambar

Kalender adalah sarana penataan waktu dan penandaan hari yang dilengkapi dengan gambar mengenai pencegahan DBD. Kalender efektif digunakan untuk media promosi, khususnya promosi kesehatan karena berisi penunjuk hari sehingga akan dilihat hampir setiap hari.

e)      Wayang

Wayang adalah salah satu karya seni Indonesia yang memaparkan cerita mengenai suatu peristiwa yang dimainkan oleh seorang dalang dengan menggunakan wayang atau boneka.

Media tersebut digunakan dalam setiap pertemuan dengan rincian sebagai berikut

  1. Pertemuan Pertama : slide show
  2. Pertemuan kedu : slide show, benda asli (cangkul, sampah, ember beserta tutupnya, air, gayung), kalender bergambar
  3. Pertemuan ketiga : slide show
  4. Pertemuan keempat : slide show, benda asli (kasa nyamuk, ember hitam, air bersih)
  5. Pertemuan kelima : slide show, film
  6. Pertemuan keenam: wayang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas. 2006. Profil Kesehatan Banyumas

 

Lestari, Keri.2007. Epidemiologi dan Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. Jurnal of Farmaka, Vol. 5(3):12-29

.

Widoyono.2008.Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan Pmberantasannya. Jakarta: Penerbit Erlangga

Syukron Jazakumullah :)

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s