Pencegahan Kanker Payu Dara (Breast Cancer Prevention)

PENCEGAHAN PENYAKIT KANKER PAYUDARA

Kanker payudara dikenal sebagai salah satu kanker yang paling sering menyerang kaum wanita. Selain itu kecenderungan peningkatan prevalensinya tidak dapat dihindari. Ditambah lagi kematian karena kanker payudara masih tinggi, terutama pada negara sedang bekembang. Hal tersebut terjadi karena keterlambatan diagnosis, yang berarti juga keterlambatan pengobatan. Semua ini pada gilirannya menyebabkan masalah kanker sebagai suatu masalah kesehatan yang membawa biaya yang mahal (Bustan,2007).

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa penyebab KPD (Kanker PayuDara) adalah multifaktorial dan tidak ada faktor yang dominan. Beberapa faktor resiko terjadinya KPD antara lain: usia, usia menarke, usia menopause, usia saat hamil pertama, riwayat menderita penyakit yang sama dalam keluarga, riwayat tumor jinak payudara, radiasi, hormonal, dan diet (Mc Pherchon dkk, 2000). Sehingga KPD bisa menyerang pada usia muda maupun dewasa tergantung kepada perilaku seseorang.

Salah satu realitas yang perlu diperhatikan adalah  kedatangan pasien ke rumah sakit pada stadium lanjut. Beberapa data menunjukkan bahwa lebih dari 50% pasien datang dalam stadium lanjut (stadium III atau IV). Keterlambatan pemeriksaan ke tenaga kesehatan mengakibatkan terlambatnya pengobatan. Pengobatan yang lambat berdampak pada semakin meningkatnya keparahan penyakit. Semakin parah  penyakit kanker maka akan semakin sedikit kemungkinan untuk sembuh. Dikarenakan gen BRCA sebagai penyebab KPD terus bertumbuh secara abnormal sehingga menimbulkan KPD.

Latar belakang diatas telah memperlihatkan pentingnya pencegahan pada suatu penyakit. Bukan hanya mencegah keparahan suatu penyakit, tetapi juga meningkatkan status kesehatan masyarakat agar tahan terhadap penyakit apapun. Terutama dalam hal ini adalah mencegah penyakit kanker payudara.

Pencegahan penyakit adalah suatu usaha yang di lakukan seseorang untuk mempertahankan kondisi fisik, mental dan sosial dalam keadaan sempurna agar terhindar dari suatu penyakit. Berdasarkan riwayat alamiah penyakit, pencegahan penyakit dibagi ke dalam tiga tingkat pencegahan. Pencegahan penyakit tersebut meliputi pencegahan primer, pencegahan sekunder dan pencegahan tersier.

Beracuan pada tiga tahap pencegahan penyakit, maka pencegahan yang bisa dilakukan terhadap penyakit KPD adalah sebagai berikut:

  1. Pencegahan Primer (Primary Prevention)

Pencegahan primer dilakukan pada saat fase peka atau rentan atau fase prepatogenesis. Pencegahan pada fase prepatogenesis adalah pencegahan tahap awal sebelum terkena penyakit. Pencegahan primer ini terdiri dari usaha peningkatan kesehatan (health promotion) dan perlindungan khusus (spesific protection).

Pencegahan primer adalah langkah yang dilakukan untuk menghindarkan diri dari setiap faktor yang dapat menimbulkan kanker payudara. Pada tahap ini perlu dilakukan penyuluhan tentang kanker payudara terutama mengenai faktor-faktor risiko. Selain itu, memberikan pengetahuan bagaimana melaksanakan pola hidup sehat dengan menghindari makanan berlemak, banyak konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan serta giat berolahraga ( Kodim dan Sherly, 2003).

  1. Peningkatan kesehatan

Usaha yang dapat dilakukan untuk mempertinggi nilai kesehatan, yang merupakan pelayanan terhadap pemeliharaan kesehatan pada umumnya. Beberapa usaha yang dapat ditempuh diantaranya :

1)     Penyediaan makanan yang sehat cukup kualitas maupun kuantitas.

2)     Perbaikan hygiene dan sanitasi lingkungan meliputi usaha seperti penyediaan air bersih, perbaikan cara pembuangan sampah, perbaikan saluran air dan limbah serta yang lainnya.

3)     Pendidikan kesehatan mengenai berbagai penyakit.

4)     Pembiasaan gaya hidup sehat, olahraga secara teratur.

  1. Perlindungan khusus

1)      Menjauhi makanan yang karsinogenik seperti mengurangi makan makanan yang mengandung bahan aditif berlebihan (pengawet, penyedap pemanis dan pewarna buatan) serta junkfood.

2)      Kurangi makanan bergaram atau makanan yang mengandung nitrat dan nitrit.

3)      Pembatasan makanan tinggi lemak agar tidak berlebihan.

4)      Menghindari perilaku merokok dan mengonsumsi alkohol.

5)      Menikah pada waktu yang tepat, tidak terlalu muda dan tidak terlalu lanjut usia.

6)      Tidak melahirkan anak pertama pada usia lanjut.

7)      Menyusui bayi dengan ASI.

8)      Menghindari stress.

  1. Pencegahan Sekunder (Secondary Prevention)

Pencegahan sekunder adalah usaha pencegahan pada saat penyakit sudah mencapai tahap pathogenesis. Usahanya meliputi diagnosis dini (Early diagnosis) dan pengobatan segera (Promt Tretment). Tujuannya yaitu agar seseorang yang memiliki penyakit kanker payudara dapat terdeteksi lebih awal. Selain itu, bertujuan memberikan pengobatan secara cepat dan tepat pada stadium awal, sehingga KPD dapat disembuhkan dengan biaya pengobatan lebih murah.

  1. Diagnosis dini

Menurut Bustan (2007), upaya diagnosis dini padat dilakukan berbagai jenis pemeriksaan payudara yaitu sebagai berikut:

1)     SADARI (Pemerikasaan Payudara Sendiri atau BSE (Breast Self Examination)).

Deteksi dengan tujuan merasakan dan mengenali lekak-lekuk payudara yang dimiliki sehingga jika terjadi perubahan dapat segera diketahui. Waktu terbaik untuk melakukan sadari adalah 7 sampai 10 hari setelah menstruasi selesai. Pada saat itu, payudara terasa lunak. Sadari hendaknya dilakukan sendiri dengan penuh disiplin setiap bulan.

2)     SARANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis)

Pemeriksaan klinis dilakukan secara cepat pada payudara yang dilakukan oleh dokter atau bidan. Pemeriksaan ini tidak perlu dikerjakan pemeriksaan klinik secara lengkap (Sukardja, 2000).

3)     BAJAH (Biopsi Aspirasi Jarum Halus) atau FNAB (Fine Needle Aspiration Biopsy)

Bajah tergolong dalam pemeriksaan sitologi dari sel-sel payudara dengan menggunakan aspirasi jarum halus. Prosedur biopsi yang menggunakan jarum sangat tipis yang melekat pada jarum suntik untuk menarik (aspirasi) sejumlah kecil jaringan dari lesi abnormal. Pemeriksaan Bajah dilakukan atas indikasi: untuk diagnosis preoperatif, dugaan maligna yang operable; untuk diagnosis konfirmatif; untuk kultur mikrobiologik; untuk morfologi sel tumor dan hormonal dependen (estrogen receptor dan progesteron receptor).

4)     Mamografi

Mamografi adalah sejenis pemeriksaan radiologi untuk payudara untuk mengetahui pertumbuhan KPD sejak dini. Mamo dapat mendeteksi tumor radius 0,5 cm yang masih belum dapat teraba oleh tangan. Mamografi merupakan teknik pemeriksaan paling kuat untuk penyakit KPD hanya saja biayanya relatif mahal. Sementara itu masalah yang lebih menonjol adalah menyangkut bahaya mamografi yaitu risiko radiasi, kemungkinan biopsi yang tidak perlu, overdiagnosis dan biaya.

5)     Breast Imaging  yaitu deteksi menggunakan alat seperti ultrasound atau MRI Scanning.

Cara untuk mendapatkan kelainan payudara sejak dini Bustan (2007) berpendapat untuk melakukan pemeriksaan yang tepat baik waktu maupun teknik pemeriksaannya. Sebagai pedoman dapat dipakai acuan berikut ini:

1)      Mulai umur 20 tahun: pemeriksaan sadari tiap bulan.

2)      Umur 20-40 tahun: saranis tiap 3 tahun dan mamografi awal (usia 35-40 tahun).

3)      Usia 40-50 tahun: mamografi tiap 1-2 tahun, saranis tiap tahun (tentang riwayat kesehatan dan anjuran dokter).

4)      Usia lebih dari 50 tahun: mamografi tahunan dan saranis tahunan.

Dewasa ini yang paling penting untuk menurunkan angka kematian perempuan akibat penyakit kanker payudara adalah melakukan skrining. Skrining adalah metode penyaringan orang-orang yang mempunyai penyakit KPD. Skrining yang tepat yaitu mamogram secara reguler, mengetahui bagaimana cara melakukan pemeriksaan payudara sendiri dan memeriksakan diri ke dokter secara rutin. Dengan program skrining diharapkan dilakukan pemeriksaan dasar mamografi setiap 2-3 tahun sekali pada perempuan berusia 35-50 tahun. Mamografi juga dilakukan oleh wanita berusia diatas 50 tahun setiap setahun ataudua tahun (Bustan, 2007).

  1. Pengobatan segera

Pengobatan kanker payudara pada stadium I dan II termasuk ke dalam pengobatan segera, karena sel kanker masih belum terlalu meluas. Bustan mengemukakan (2007) apabila seseorang telah terdiagnosis KPD maka penanganan atau tindakan-tindakan yang dapat dilakukan adalah pengobatan medis meliputi:

1)      Terapi hormonal

Dasar pengobatan hormonal adalah ada bukti bahwa estrogen merangsang proliferasi sel KPD. Contoh  : Tamoxifen.

2)      Khemoterapi

Khemoterapi adalah terapi untuk membunuh sel-sel kanker dengan obat-obat anti-kanker yang disebut sitostatika (Sukardja, 2000). Pengobatan khemoterapi kurang memberi hasil yang memadai. Contoh: 5 fluorouracyl, methotrexate, Mytomycin-C.

3)      Pengobatan adjuvant

Pengobatan untuk membuat regresi tumor sebelum operasi terhadap sebuah tumor besar yang masih operabel. Terapi tambahan ialah terapi yang ditambahkan pada terapi utama untuk menghancurkan sisa-sisa sel kanker yang mikroskopik yang mungkin masih ada. Tidak jarang walaupun pada terapi utama penderita kelihatan telah bebas kanker, setelah beberapa lama timbul residif atau metastase . Ini berarti setelah selesai terapi utama masih ada sisa kanker yang mikroskopik (Sukardja, 2000).

Pengobatan kanker payudara dapat dilakukan dengan tiga cara yakni kemoterapi, radiasi, dan operasi. Keberhasilan pengobatan ini tergantung dari ketentuan pasien dalam berobat dan tergantung pada stadiumnya. Pengobatan kanker payudara invasif pada stadium I dan II adalah sebagai berikut:

1)      Stadium I

Kanker ini masih relatif kecil dan belum menyebar ke kelenjar getah bening atau tempat lain.

a)      Terapi Lokal: Kanker stadium I dapat diobati dengan pembedahan payudara (Lumpectomy, mastektomi parsial) atau modifikasi mastektomi radikal. Mastektomi sendiri adalah operasi pengangkatan payudara. Masektomi terdiri tiga jenis yaitu sebagai berikut :

1)      Modified Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara, jaringan payudara di tulang dada, tulang selangka dan tulang iga, serta benjolan di sekitar ketiak.

2)      Total (Simple) Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara saja, tetapi bukan kelenjar di ketiak.

3)      Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan sebagian dari payudara. Biasanya disebut lumpectomy, yaitu pengangkatan hanya pada jaringan yang mengandung sel kanker, bukan seluruh payudara. Operasi ini selalu diikuti dengan pemberian radioterapi. Biasanya lumpectomy direkomendasikan pada pasien yang besar tumornya kurang dari 2 cm dan letaknya di pinggir payudara.

b)      Terapi radiasi: biasanya diberikan setelah operasi payudara.

c)      Terapi Ajuvan Sistemik: Kemoterapi ajuvan biasanya dianjurkan untuk tumor yang lebih besar. Untuk kanker HER2-positif, trastuzumab adjuvant (Herceptin) biasanya direkomendasikan.

2)      Stadium II

Terapi Lokal: pilihan terapi bedah dan radiasi untuk tumor sadium II mirip dengan tumor stadium I, terapi radiasi dapat dilakukan setelah mastektomi jika tumor telah membesar (lebih dari 5 cm) atau sel kanker ditemukan di beberapa kelenjar getah bening.

Terapi Adjuvant sistemik: terapi ajuvan sistemik dianjurkan untuk wanita dengan kanker payudara stadium II. Hal ini melibatkan terapi hormon, kemoterapi, trastuzumab, atau beberapa kombinasi tersebut, tergantung pada usia pasien, status reseptor estrogen, dan HER2/neu status.

  1. Pencegahan Tersier (Tertiary Prevention)

Pencegahan tersier adalah pencegahan yang dilakukan ketika penyakit sudah berada pada fase lanjut dan terminal dalam bentuk kecacatan. Biasanya pencegahan tersier pada penyakit kanker payudara dilakukan saat kanker berada pada stadium III dan Stadium IV. Pencegahan ini meliputi pembatasan kecacatan (Disability Limitation) dan Rehabilitasi (Rehabilitation). Tujuan dari pencegahan tersier yaitu untuk membatasi kecacatan dan berusaha untuk  menghilangkan gangguan kemampuan bekerja yang diakibatkan oleh penyakit KPD.

  1. Pembatasan kecacatan

1)      Stadium III

Perawatan lokal untuk beberapa jenis kanker payudara stadium IIIA sebagian besar sama dengan stadium II kanker payudara. Kanker dihilangkan dengan operasi payudara (seperti lumpectomy) diikuti dengan terapi radiasi, atau dengan mastektomi radikal yang dimodifikasi (dengan atau tanpa rekonstruksi payudara).

2)      Stadium IV

Pada fase ini, terapi sistemik adalah pengobatan utama. Hal ini tergantung pada banyak faktor, yang dapat terdiri dari terapi hormon, kemoterapi, sasaran terapi seperti trastuzumab (Herceptin) atau lapatinib (Tykerb), atau beberapa kombinasi dari perawatan ini. Trastuzumab dapat membantu wanita dengan kanker HER2-positif hidup lebih lama jika diberikan dengan kemoterapi pertama untuk penyakit stadium IV (American Cancer Society, 2010).

Pengobatan paliatif merupakan pengobatan alternatif terakhir untuk mendukung kehidupan penderita. Bentuk utama pengobatan paliatif adalah pengobatan nyeri. Sekitar 60% penderita kanker menderita nyeri (Bustan, 2007).

  1. Rehabilitasi

1)      Rehabilitasi fisik

Olahraga penting dilakukan dalam rangka pemulihan. Bagi yang telah menerima diseksi aksila dan lumpectomy bisa melakukan latihan ke pergelangan tangan, siku dan tangan seperti lipatan siku dan meluruskannya, menggerakkan pergelangan tangan dan berlawanan lingkaran searah jarum jam dan menutup/membuka tangan. Latihan ini dilakukan setiap jam atau beberapa kali.

2)      Rehabilitasi asthetis

Rehabilitasi estetika dilakukan dengan tujuan memperbaiki penampilan payudara pasca operasi, misalnya dengan menggunakan payudara protesis yang terbuat dari busa atau silikon yang membantu mengembalikan penampilan, keseimbangan payudara dan mencegah sakit leher, bahu dan tulang belakang.( HA OTCOC , 2009)

American Cancer Society. 2010. Breast Cancer. http://www.cancer.org. Diakses pada tanggal 23 November 2012.

Bustan.2007. Epidemilogi Penyakit menular.Jakarta : Rineka Cipta

Kodim, Nasrin dan Shirley Ivone Moningkey. 2003. Himpunan Bahan Kuliah Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

HA OTCOC. 2009. Project Group on Oncology & Palliative Care for Patient withBreastCancer. http://www21.ha.org.hk/files/PDF/self%20tools_printed%20matter/Occupational%20Therapy%20Postmastectomy%20English%20Mar%2009r2.pdf. diakses tanggal 23 November 2012.

Mc Pherson K, Steel CM, Dixon JM. 2000. ABC of Breas Disease: Breast cancer epidemiology, risk factors, and genetics. British Medical Journal. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10977847

Sukardja, I Dewa Gede. 2000. Onkologi Klinik Edisi 2. Surabaya: Airlangga University Press

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s