Remaja SMART, Remaja yang SEHAT ^^

Membiasakan Gaya Hidup Sehat pada Remaja Melalui  Pendekatan Psikologi

Sehat memiliki artian keadaan sejahtera badan, ekonomi dan sosial tidak hanya sekedar tidak sakit ataupun tidak cacat. Kondisi sehat dapat menunjang kehidupan manusia untuk terbebas dari penyakit atau memperpanjang hidup. Lawan sehat adalah sakit yang berarti suatu keadan seseoarang yang kurang sehat ataupun tidak sehat. Ketentuan sehat atau tidaknya seseorang ditentukan oleh faktor genetika, lingkungan, perilaku seseorang dan peran petugas pelayanan kesehatan. Dari beberapa faktor yang mempengaruhi kesehatan tersebut, faktor yang paling penting adalah faktor perilaku. Menurut H.L. Blum, faktor perilaku inilah yang sangat menentukan derajat kesehatan seseorang karena pada hakikatnya perilaku sangat erat hubungannya dengan gaya hidup.

Teori H. L. Blum

Gaya hidup adalah Pola hidup seseorang di dunia yang  menggambarkan keseluruhan diri seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya yang di ekspresikan dalam bentuk aktivitas, minat dan opini. Gaya hidup akan selalu tercermin pada setiap perilaku seseorang karena gaya hidup merupakan ssuatu kebiasaan yang selalu dilakukan secara berulang-ulang pada setiap kegiatan seseorang. Gaya hidup tidak senantiasa stagnan tetapi mudah berubah seiring berjalannya kehidupan seseorang. Perubahan gaya hidup ini bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor beberapa diantaranya adalah dikarenakan oleh budaya, kelas sosial, keluarga, pengaruh kepribadian yang dimiliki dan situasi. Menurut sudut pandang psikologi, setiap orang adalah pribadi yang berbeda sehingga gaya hidup setiap orangpun mempunyai perbedaan tersendiri.

Gaya hidup sangat erat kaitannya dengan kesehatan. Jika dihubungkan dengan kesehatan gaya hidup menentukan kebiasaan seseorang untuk berperilaku hidup bersih dan sehat atau tidak. Gaya hidup sehat adalah perilaku seseorang yang dalam kesehariannya selalu menuju ke arah kesehatan. Semua kegiatan yang dilakukan adalah dalam upaya menjaga dan atau meningkatkan kesehatan.

Telah diungkapkan bahwa gaya hidup sehat adalah perilaku yang berdasarkan pada kesehatan. Sebagai promotor kesehatan tugas sarjana kesehatan masyarakat adalah merubah perilaku hidup tidak bersih dan sehat menuju PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat). Salah satu cara agar lebih mudah untuk memberikan intervensi perilaku hidup bersih dan sehat kepada masyarakat adalah dengan pendekatan psikologi, karena kesehatan tidak hanya ditentukan oleh faktor biologis tetapi juga psikologis dan sosial. Setiap individu dalam masyarakat memiliki gaya hidupnya tersendiri. Biasanya keunikan gaya hidup dari setiap individu berada pada fase kehidupan remaja.

Remaja adalah seseorang berada pada masa peralihan dari satu tahap ke tahap yang berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola perilaku. Masa remaja ditandai dengan beberapa perubahan besar diantaranya adalah pola perilaku. Dikarenakan posisi remaja yang berada pada masa peralihan seharusnya memiliki pola pikir yang lebih menuju kedewasaan. Namun pada kenyatannya,  perilaku remaja sangat mudah untuk terpengaruh keadaan lingkungan, tidak terkecuali terkontaminasi oleh perilaku yang negatif. Perilaku yang menyimpang dari PHBS termasuk pada sesuatu yang negatif dan tidak seharusnya dilakukan oleh remaja.

Remaja hendaknya sudah memahami apa yang seharusnya dilakukan serta apa yang seharusnya dijauhi. Gaya hidup tidak sehat adalah perilaku yang seharusnya tidak di lakukan karena akan membawa seseorang pada keadaan sakit atau terkena penyakit. Psikologi kesehatan berperan dalam menjelaskan bagaimana pikiran, kepribadian dan perilaku dapat menimbulkan penyakit. Dijelaskan pula bagaimana faktor sosial ( social influence) dapat mempengaruhi perilaku atau gaya hidup seseorang yang pada akhirnya akan mempengaruhi kesehatan. Sebisa mungkin remaja dijauhkan dari beberapa perilaku negatif yang mengandung faktor risiko tinggi terhadap kesehatannya, sebagai contoh yaitu perilaku merokok, pecandu minuman keras, pecandu narkoba dan pelaku seks bebas.

Salah satu faktor yang menyebabkan perilaku tidak sehat yang telah disebutkan di atas adalah akibat adanya stress. Menurut ilmu psikologi stress adalah suatu stimulus yang membuat individu merasa tertantang atau terancam. Remaja adalah individu yang berada pada dunia peralihan sehingga besar peluang bagi mereka terkena stres yang berakibat pada perubahan perilaku tidak sehat sehingga dapat mempengaruhi kondisi kesehatan. Stress di sebabkan oleh sumber stres yang disebut stressor. Stressor bermacam-macam bentuknya seperti konflik dengan teman, konflik dengan keluarga, bermasalah dengan nilai ujian dan lain-lain.

Sebenarnya stress terdiri dari dua jenis yaitu eustress dan distress. Stress disebut eustress apabila seseorang menganggap stressor yang dihadapinya adalah suatu tantangan sehingga stimulusnya dijadikan hal yang poitif untuk mencapai sesuatu. Beda halnya dengan distress, stress ini dialami oleh individu yang yan gmenganggap bahwa stressor adalah sebuah ancaman sehingga dapat menimbulkan sebuah tekanan pada kondisi psikisnya. Model distress ini bila sudah terbiasa dilakukan oleh seseorang saat mengahadapi stressor, tanpa disadari bahwa dirinya telah berada pada gaya hidup yang tidak sehat.

Distress akan berakibat pada ketegangan karena gagal menghadapi sesuatu. Kebanyakan efek dari distress adalah membuat seseorang berperilaku negatif untuk menghadapi stressnya seperti lari dari kenyataan. Apalagi pada remaja yang emosinya masih labil serta saat berada pada kondisi distress yang parah, mereka mudah untuk terbawa pada hal-hal negatif seperti merokok, meminum alkohol, mengonsumsi narkoba serta bisa terjerumus pergaulan bebas dan lain lain. Distress sebisa mungkin harus dijauhi oleh para remaja, karena sesungguhnya mereka mampu untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan cara yang baik.

Perilaku tidak sehat tersebut tidak semata-mata karena stress tetapi bisa juga karena terbawa pergaulan remaja yang serba “mencoba”. Faktor teman sepermainan dan keluarga sangat berperan penting dalam hal ini. Teman yang baik tentu akan selalu membawa dalam hal kebaikan. Akan tetapi sebaliknya teman yang kurang baik adalam berperilaku berkemungkinan membawa temannya pada hal yang negatif. Begitu juga sama halnya dalam lingkungan keluarga. Pada keluarga yang memiliki peraturan yang ketat akan kesehatan maka anggota keluarganya pasti lebih memperhatikan tentang gaya hidup sehat, tetapi tidak pada keluarga yang kurang perhatian pada kesehatan anggota keluarga.

Sebagai remaja maka sudah seharusnya untuk benar-benar memahami arti penting kesehatan, karena keadaan sehat dan sakit itu memang berada pada dua entitas yang berbeda tetapi sehat dan sakit adalah suatu hal yang kontinum (berkesinambungan). Seseorang bisa saja terlihat sehat tetapi dalam keadaan sakit seperti contoh pada seorang pecandu rokok yang memiliki gangguan pada sistem pernapasannya. Dan juga seseorang bisa terlihat sakit tetapi sebenarnya dalam keadaan sehat seperti pada seseorang yang mempunyai kekurangan fisik (cacat) hanya memiliki satu tangan, orang tersebut terlihat seperti orang yang sakit tetapi fungsi tubuhnya tetap berjalan dengan normal. Lebih baik jika remaja membiasakan perilaku hidup sehat sejak dini karena perilaku yang akan menentukan gaya hidup dan gaya hidup sangat mempengaruhi kondisi kesehatan.

Tidak ada kata terlambat untuk menerapkan gaya hidup sehat. Bagi para remaja bisa memulai menjalani gaya hidup sehat dengan teori Bandura tentang Self efficacy. Self efficacy sendiri adalah keyakinan individu atas kontrol hasil positif dari usaha yang telah dilakukan. Remaja harus yakin bahwa gaya hidup sehat akan senantiasa menghindarkan dirinya dari segala bentuk penyakit. Keyakinan bahwa perilaku sehat akan membawa dirinya untuk lebih meningkatkan kesehatan. Sebagai contoh orang yang gosok gigi akan memiliki keyakinan akan terhindar dari masalah-masalah mulut seperti gigi berlubang, gusi bengkak dan sariawan. Juga jika seseorang tidak merokok maka sistem pernapasan kita sehat. Kemungkinan pada individu yang kurang mempunyai Self Efficacy yang kurang dia akan tetap merokok dari pada menjadi perokok pasif yang terkena imbas dari lingkungan perokok. Pemikiran tersebut harus segera dihapuskan tindakan yang dimbil seharusnya adalah tidak merokok dan menjauhi atau menghentikan kebiasaan merokok. Self efficacy dapat merendahkan tingkat stress pada remaja.

Membiasakan gaya hidup sehat juga bisa menggunakan teori Health Beliefe Model (HBM) yang di nyatakan oleh becker tahun 1974. Walaupun teori ini terkesan telah lampau tetapi memang pada kenyataannya banyak berguna bagi perubahan perilaku gaya hidup khususnya untuk menuju gaya hidup sehat. Health beliefe model adalah suatu model kepercayaan kesehatan. Dengan kepercayaan terhadap kesehatan maka perilaku mereka akan  menuju pada pemeliharaan dan peningkatan kesehatan.

Menurut teori diatas agar perilaku hidup sehat terwujud ada 3 faktor penting penentu keberhasilan. Pertama remaja harus siap merubah perilaku dalam rangka menghindari suatu penyakit. Kedua dorongan dari lingkungannya seperti dari keluarga, teman dan masyarakat sekitar agar dapat merubah perilaku, contoh orang tua memberi hukuman pada anak yang merokok dan memberi hadiah pada anak yang berperilaku sehat. Ketiga remaja tersebut menentukan perilaku sehat apa yang akan dilakukan.

Orangtua sangat berperan penting dalam rangka menerapkan gaya hidup sehat kepada anaknya sedini mungkin. Bisa denagan cara pembelajaran memberikan nasehat tentang bahaya perilaku yang tidak sehat dan memberikan contoh realnya, agar mereka jera dan tidak mengulanginya lagi.  Memberikan aturan yang tegas dan bertanggungjawab pada remaja yang tidak peduli kesehatan. Selain itu remaja juga perlu dukungan sosial untuk melakukan gaya hidup sehat contohnya seperti yang telah disebutkan kita bisa memberikan penghargaan pada orang yang tidak merokok. Kesiapan individu untuk berperilaku sehat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu susceptibility, severity, costs, benefits, cues to action, health motivation dan perceived control. Susceptibility adalah persepsi seseorang tentang kerentanan dirinya terhadap penyakit. Contoh  jika seseorang yang merokok sadar akan susceptibility, maka dia akan segera mengurangi atau menghentikan kebiasaan buruknya. Selain itu, remaja harus mengetahui bahwa perilaku hidup sehat itu sangat menguntungkan walaupun memang sesuatu yang positif kadang banyak hambatan, contohnya orang yang ingin sehat maka tidak boleh memakan gorengan dan junk food. Akan tetapi usaha mereka akan sangat bermanfaat bagi kesehatan  tubuh mereka .

Remaja juga harus menyadari bahwa perilaku tidak sehat itu lebih mahal dan banyak menghabiskan uang. Sebagai contoh dengan merokok berarti remaja sedang mengakumulasikan toksin di tubuh mereka yang suatu saat menjadi penyakit. Apabila sudah pecandu berat maka begitu banyak uang terbuang percuma untuk membeli rokok setiap harinya. Akibat yang lebih parah jika telah terjadi kesakitan, maka mereka harus mengeluarkan biaya yang tinggi untuk pengobatan.

Orang-orang sekitar juga harus memberikan motivasi agar remaja segera menerapkan PHBS. Remaja juga harus tahu bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat yang selalu dikontrol setiap perilakunya. Agar remaja segera bertindak menuju perilaku sehat maka perlu juga adanya suatu partisipasi media dan orang terdekat dalam lingkungan permainan.  Media maupun teman dapat berperan sebagai pencetus untuk memberikan promosi dan pengingat akan gaya hidup sehat sehingga menguatkan keputusan remaja supaya segera bertindak dalam mencegah dan menanggulangi penyakit tertentu.

Terimakasih, semoga bermanfaat😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s