Bismillah

RESUME BUKU

Membina Angkatan Mujahid🙂

BAB I

HASAN AL- BANNA PELETAK TEORI GERAKAN ISLAM KONTEMPORER

Hasan Al-Banna adalah sang peletak dasar teori gerakan Islam. Seorang pengemuka gagasan yang aplikatif dan diterima oleh setiap muslim. Fikrah Hasan Al-Banna adalah Fikrah yang syamil (Komprehensif). Perjalanan baru umat Islam, dimulai dan bermula dari Hasan Al-Banna. Beliau telah berhasil memadukan hukum-hukum syari’at dengan perkembangan zaman; antara cita-cita melangit dan relitas di lapangan; antara kesempurnaan tarbiyah dan ta’lim dengan aktivitas politik serta ekonomi; dan lain-lain hal yang memenuhi hajat kaum muslimin dewasa ini. Berikut adalah kata-kata yang beliau lontarkan sehubungan dengan tarbiyah:

“Pendidikan dan pembinaan umat, memperjuangkan prinsip-prinsip nilai, dan pencapaian cita-cita sesungguhnya memerlukan partisipasi seluruh umat, atau paling tidak sekelompok dari mereka, yakni memperjuangkan tegaknya :

–          Kekuatan jiwa yang besar, yang dimanifestasikan dalam bentuk tekad yang kuat dan tegar.

–          Kesetiaan yang utuh, bersih dari sikap lemah dan munafik

–          Pengorbanan yang suci, yang tidak dipedayakan oleh sifat tamak dan bakhil

–          Selain itu juga mengetahui, meyakini dan menjunjunga tinggi primsip yang menjamin ter peliharanya diri dari kesalahan, penyelewengan, bujuk rayu, dan tipu daya.”

BAB II

KUNCI MEMAHAMI DAKWAH IKHWANUL MUSLIMIN

Kunci utama untuk memahami ikhwanul muslimin dan dakwahnya adalah setiap muslim berkewajiban memberikan kesetiaan kepada jamaah dan imamnya. Syarat jamaah Islamiyah meliputi pemahaman dan kesadaran terhadap jamaah itu, serta kesucian pemimpinnya. Jamaah yang memiliki memiliki ciri-ciri keIslaman sejati tanpa tambahan sifat ainnya. sebuah jamaah patut diebut sebagai jamaah Islamiyah kertika telah memenuhi syarat-syarat itu, berarti telah memenuhi syarat jamaah ikhwanul muslimin.

Kunci kedua keberadaan dan tegaknya ikhwanul muslimin adalah hal yang harus diperjuangkan dan aksi yang harus dilakukan didalamnya. Kunci ketiga dakwah ikhwanul muslimin sebagai simbol bagi berkibarnya panji politik Islam di banyak wilayah Islam. Kunci keempat ikhwanul muslimin adalah gerakan total yang dapat mengakomodasi seluruh tuntutan dan menghimpun semua potensi. Reformasi Islam di masa kini adalah trade mark ikhwanul muslimin yang pertama.

Pembaharuan dan paham zaman menjadi kunci memahami dakwah ikhwanul muslimin, antara lain:

  1. Mewarisi yang ada pada Rosulullah dan para sahabat dimana jiwa menjadi suci, hati takut kepada Allah, dan ruh manjadi ma’rifat kepada-Nya serta khusyuk beribadah.
  2. Proses menghidupkan Islam.
  3. Menghidupkan sistem nilai Islam, baik secara global maupun sektoral.

Prinsip umum dakwah ikhwanul muslimin, merupakan kunci0kunci lain memahami dakwah ikhwan dan permasalahannya.

  1. Ikhwanul muslimin memahami bahwa dalam Islam terdpat ini semua: tujuan Islam; sarana Islami;khithahnya Islami, sistemnya Islami; kaidah-kaidah Islami; undang-undang dan peraturannya  Islami.
  2. Ikhwan adalah jamaah yang masuk dalam wilayah syariat Islam.
  3. Memelihara opini umum baik di tingkat regional, nasional maupun internasional, merupakan salah satu prinsip Islam.
  4. Dua hal yang harus dijadikan pegangan ikhwan yaitu ia harus dibenarkan oleh syariat dan ia harus sebanding dengan senjata musuh dan dapat mencapai tujuan.
  5. Pegangan ikhwan yang berkaitan dengan politik luar negeri adalah prinsip maslahah dengan maslahah.
  6. Sebuah wilayah Islam yang bersatu tanpa ada yang saling mendominasi.
  7. Dalam Islam ada hukum yang dapat berubah seiring dengan perkembangan zaman.

Hal yang harus diketahui oleh ikhwanul muslimin :

  1. Memahami permasalahan dakwah yang dihadapi.
  2. Kebutuhan hati akan dinamika, kebutuhan jiwa akan kenersihan dan kebutuhan ruh akan pengabdian yang ikhlas keopada Allah.
  3. Memahami kapasitas intelektual orang yang kita ajak bicara.

BAB III

TANGGUNG JAWAB  BESAR

Tangung jawab terbesar adalah mmelakukan tajdid (pembaruan) dan naql (alih generasi). Yakni pembaruan ajaran Islam dan proses perubahan terhadap pribadi muslim dari satu kondisi ke kondisi yang lain dan perubahan umat Islam dari satu fase ke fase yang lain.

  1. Tentang ikhwanul muslimin meliputi dua fenomena : pertama, ikhwan sebagai sebuah jamaah yang memusatkan perhatian pada pelayanan umum, dan kedua ikhwan sebagai sebuah gerakan pembaruan.
  2. Mengubah umat sebagai prolog dari proses mengubah dunia.

BAB IV

TENTANG TUJUAN

Ustadz Hasan Al-Banna mengatakan “Ringkasnya kita memiliki tujuan, pribadi muslim, rumah tangga muslim, masyarakat muslim, pemerintahan Islam, dan negara yang memandu negara-negara Islam, yang menyatukan ragam kaun muslimin, mengembalikan kejayaannya, merebut kembali tanah airnya yang hilang, yang terampas, dan negeri yang pernah dirampok. Selanjutnya, negara itu akan mengibarkan panji jihad dan dakwah Islam sehingga dunia ini damai dibawah ajaran Islam.”

Dua tujuan pokok:

  1. Membebaskan negeri Islam dari semua kekuasaan asing.
  2. Menegakkan di atas tanah air ini negara Islam yang merdeka.

Risalah Ta’alim beliau mengatakan tentang tingkatan amal yang dituntut dari seorang akh adalah:

  1. Perbaikan diri sendiri (membentuk pribadi muslim)
  2. Pembentukan keluarga muslim
  3. Bimbingan masyarakat
  4. Pembebasan atanah air dari setiap penguasa asing
  5. Memperbaiki keadaan pemerintah sehingga menjadi pemerintah Islam yang baik.
  6. Usaha mempersiapkan seluruh aset negeri di dunia ini untuk kemaslahatan Islam
  7. 7.       Penegakan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam di seluruh negeri.

BAB V

TENTANG SARANA

  1. Sarana tujuan pertama membutuhkan tiga sarana yaitu murobbi (pembina) yang arif, manhaj (sistem) yang diliputi dengan ilmu, dzikir, serta amal, dan lingkungan yang sehat dimana seorang muslim menyerap ilmu, amal, serta akhlak.
  2. Sarana tujuan kedua :Seorang akh harus memberikan perhatian yang besarterhadap persoalan rumah tangganya; Jamaah harus memberikan hak sewajarnya kepada aktivis wanita, dengan cara menyebarkan buku, membuat majelis khalaqoh yang baik, disamping pembinaan kader akhwat secara intensif;Seorang akh harus memilih istri yang shalihah; Seorang akh seyogyanya diikat dengan anak-anaknya, saudara-saudaranya juga dengan perangkat-perangkat jamaah; Jamaah seharuusnya mendirikan unit-unit tertentu guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut; Jamaah dan individu harus sama-sama memelihara rumah tangganya dari penyelewengan; jamaah juga harus menyelenggarakan majelis-majelis untuk kaum wanita  dan dengan kualitas pengajar yang terjamin; pemimpin harus memberikan perhatian secara khusus terhadap buku-buku tentang wanita; sedapat mungkin jamaah menggalakkan pernikahan di kalangan anggotanya dan mau menikahi para janda; semua ini harus terwujud sesudah tegaknya kekuasaan.
  3. Sarana tujuan ketiga : mengenalkan Islam, jamaah dan pembinaan atas moralitas Islam, serta disiplin barisan kaum muslimin. Langkahnya yaitu dengan membentuk halaqah-halaqah baik umum maupun khusus, usrah, katibah, diskusi secara kontinyu, dan amar ma’ruf nahi mungkar.
  4. Sarana tujuan keempat: daulah Islamiyah tidak akan tegak kecuali di atas pondasi ta’rif, ta’win dan tanfidz. Ketika kita berhasil mengikat seluruh umat dengan halaqah dan ketika terdapat generasi yang dapat menegakkan daulah Islam, maka saat itulah kita telah sampai pada situasi kalimatullahi hiyal ‘ulya.namun terdapat pula dua persoalan yang dihadapi yaitu pertama  kekuatan aqidah dan Iman, energi yang harus dicurahkan untuk peningkatan aqidah an iman dewasa ini haruslah besar. Membutuhkan sosk keteladanan, manhaj yang bersih, lingkungan yang sehat, dan keragaman iklim ynag aling membantu; Kedua kekuatan persatuan dan ikatan, perlu usaha penyatuan yang ekstra.
  5. Sarana tujuan kelima: aktivitas yang terkoordinir sejak awal langkahnya dibawah satu pucuk pimpinan, maka terwujudlah satu dakwah, satu institusi, satu perencanaan secara bersama, satu tarbiyah dan lain-lain langkah kekinian.
  6. Sarana tujuan keenam: malangkah diatas mukadimah yang benar yang dari sanalah Islam di berbagai wilayah bertolak dan dari sanalah kita nanti memeproleh hasil akhir sesuai dengan dengan tujuan besar ini.
  7. Sarana tujuan ketujuh: beraktivotas terus-menerus yang sesuai dan layak untuk memastikan bahwa dunia akan menerima dakwah ini.

BAB VI

TAHAPAN-TAHAPAN DAKWAH

Dalam Risalah Ta’alim Hasan Al-Banna mengatakan “Tahapan dakwah ini ada tiga macam:

  1. 1.       TA’RIF yaitu dakwah dengan menyebarkan fikrsah Islam kepada masyarakat. sistem yang digunakan kelembagaan. Urgensinya adalah kerja sosial untuk kepentingan umum, sedangkan medianya adalah nasehat dan bimbingan sekali waktu serta membangun tempat yang berguna di waktu yang lain dan berbagai media aktivitas lainnya.
  2. 2.       TAKWIN yaitu tahapan dakwah ditegakkan dengan melakukan seleksi terhadap anasir positif untuk memikul beban jihad danuntuk menghimpun berbagai bagian yang ada. Sistemnya tasawufmurni dalam tataran rohani dan bersifat militer dalam tataran operasional. Solgan untuk dua aspek ini adalah : perintah dan taat tanpa ada keraguan.
  3. 3.       TANFIDZ yaitu tahapan jihad, tanpa kenal sikap plin-plan, bekerja secara terus menerus, untuk menggapai tujuan akhir, dan kesiapan menggung cobaan dan ujian yang tidak mungkin bersabar atasnya kecuali orang-orang yang tulus.

Bentuk-bentuk kegiatan :

  1. Bentuk pertama :  seluruh jamaah berkonsentrasi pada ta’rif melalui ceramah, halaqah, penyebaran buku dan penjelasan. Dilanjutkan seleksi secara cermat terhadap unsur yang mampu memernakan tanfidz. Setelah itu dilakukan aktifitas tanfidz secara teliti dan terncana.
  2. Bentuk kedua : seluruh unsur jamaah disaat yang sama mempersiapkan ta’rif, takwin dan tanfidz beserta sarananya masing-masing.
  3. Bentuk ketiga: seluruh jamaah selalu bergerak secara serentak dimulai dari tahapan ta’rif, dilanjutkan denagn takwin dan kemudian tanfidz.
  4. Bentuk keempat: jamaah ahnay memusatkan kegiatan pada ta’rif dan takwin secara nersamaan. Sedangkan tahap tanfidz dipersiapkan dan dikaji oleh pemimpin  hingga pemimpin yakin dapat melakukan tanfidz secara menyeluruh.
  5. Bentuk kelima: ta’rif, takwin dan tanfidz dilakukan dalam waktu yang bersamaan dan diawasi oleh suatu unit tersendiri.

Berhubungan dengan beberapa pendapat tentang ta’rif, takwin dan tanfidz diperlukan upaya meliputi : kematangan teori tentang ta’rif, takwin dan tanfidz; adanya pribadi yang matang dalam tiga tahapan ini; serta adanya perangkat yang matang pada tiga tahap tersebut.

BAB VII

RISALAH TA’ALIM DAN SENDI-SENDI PEMBENTUKAN PRINADI ISLAMI

Rukun bai’at ada 10 yaitu fahm (pemahaman), ikhlas, amal (aktivitas), jihad, tadhiyah (pengorbanan), taat (kepatuhan), tsabat (keteguhan), tajarrud (kemurnian), ukhuwah, dan tsiqah (kepercayaan).

  1. Fahm (pemahaman), yakin bahwa dikrah kita adlah Islam yang bersih. Hendaknya memahami Islam dalam batas ushulul ‘isyrin (20 prinsip).
  2.  Ikhlas, adalah bahwa akhlul muslim dalam setiap kata, aktivitas, dan jihadnya harus dimaksudkan semata-mata untuk mencari ridlo Allah dan pahala-Nya, tanpa mempertimbangkan aspek kekayaan, penampilan, pangkat, gelar, kemajuan, atau keterbelakangan.
  3. Amal (aktivitas), adalah buah dari ilmu dan keikhlasan.
  4. Jihad, peringkat pertama jihad adalah pengingkaran dengan hati dan peringkat terkhirnya adalah berperang dijalan Allah.
  5. Tadhiyah (pengorbanan),dalam bentuk jiwa, harta, waktu, kehidupan dan segala sesuatu yang dipunyai oleh seseorang untuk meraih tujuan.
  6. Taat (kepatuhan), menunaikan perintah dengan serta merta, baik dalam keadaan sulit maupun mudah, saat bersemangat maupun malas. Dikarenakan tiga tahapan dakwah yaitu ta’rif, takwin dan tanfidz.
  7. Tsabat (keteguhan), seorang akh hendaknya bekerja sebagai mujahid di jalan yang menghantarkan pada tujuan, betapapun jauh jangkauannya dan lama masanya hingga bertemu dengan Allah dalam keadaan yang tetap demikian.
  8. Tajarrud (kemurnian), bahwa engkau harus  membersihkan pola pikir dari prinsip nilai dan pengaruh individu yang lain, karena Ia adalah setinggi-tinggi dan selengkap-lengksap fikrah.
  9. Ukhuwah, terikatnya hati dan nurani dengan ikatan aqidah.
  10. Tsiqah (kepercayaan) adalah rasa puasnya seorang tentara atas komandannya, dalam hal kapasitas kepemimpinannya maupun kaikhlasannya, dengan kepuasan mendalam yang menghasilkan perasaan cinta, penghargaan, penghormayan, dan ketaatan.

Kewajiban-Kewajiban Seorang Mujahid

  1. Wirid harian Al-Qur’an tidak kurang dari 1 Juz. Usahakan khatam alqur’an tidak lebih dari satu bulan dan tidak kurang dari tiga hari.
  2. Membaca Al-qur;an dengan baik
  3. Mengkaji sirah nabi dan sejarah para generasi salaf sesuai dengan waktu yang tersedia.
  4. Bersegera melakukan general check up secara berkala atau berobat, ketika merasa sakit.
  5. Menjauhi sikap berlebihan dalam mengkonsumsi kopi, teh, dan minuman perangsang semisalnya.
  6. Perhatikan urusan kebersihan dalam segala hal menyangkut tempat tinggal, pakaian, makanan, badan, dan tempat kerja, karena agama dibangun di atas dasar kebersihan.
  7. Jujur dalam berkata dan jangan sekali-kali berdusta.
  8. Menepati jenji dan jangan mengingkarinya, bagaimanapun kondisi yang engkau hadapi.
  9. Menjadi seorang yang berani dan tahan uji. Berani terus ternag dalam hal kebenaran, ketahanan menyimpan rahasia, berani mengakui kesalahan, adil terhadap diri sendiri, dan dapat menguasainya dalam keadaan marah sekalipun.
  10. Senantiasa bersikap tenang dan terkesan serius, namun jangan menghalangi canda yang benar, senyum dan tawa.
  11. Memiliki rasa malu yang kuat, beperasaan yang sensitif, dan peka oleh kebaikan dan keburukan, munculnya rasa bahagia yang pertama dan rasa tersiksa untuk yang kedua. Bersikap rendah hati, tidak taklid, dan tidak lunak hati. Menuntut orang lain yang bermartabat lebih rendah untuk mendapatkan martabat yang sesungguhnya.
  12. Bersikap adil dan benar dalam memutuskan segala perkara pada setiap situasi.
  13. Menjadi perkara keras dan terlatih dalam aktivitas sosial. Berbahagia dalam mempersembahkan bakti bagi orang lain, meskipun hanya dengan kata-kata yang baik, dan senantiasa bersegera dalam berbuat kebaikan.
  14. Berhati kasih, dermawan, toleran, pemaaf, lemah lembut kepada manusia maupun binatang, berperilaku baik terhadap semua orang, menjaga etika-etika sosial Islam, dan lain-lain.
  15. Pandai membaca dan menulis, muthaba’ah terhadap risalah ikhwan, mempunyai perpustakaan seberapapun ukurannya, dan lain-lain.
  16.  Memiliki proyek ekonomi, utamakan proyek mandiri betapapun kecilnya dan selalu merasa cukup.
  17. Jangan terlalu berharap utnuk menjadi pegawai negeri, namun jika ada kesempatan jangan ditolak. Janganlah engkau melepaskannya kecuali benar-benar bertentangen dengan tugas dakwah.
  18. Memperhatikan penunaian tugas-tugas (kecermatan dan kualitasnya), jangan menipu dan tepatilah kesepakatan.
  19. Memenuhi hak diri sendiri dengan baik, memenuhi hak orang lain dengan sempurna dan jangan menunda-nunda pekerjaan.
  20. Menjauhkan diri dari judi dan segala macamnya, apapun maksud dibaliknya. Manjauhi mata pencaharian yang haram.

BAB VIII

URAIAN PELENGKAP

  1. Terdapat lima belas kaidah yang sesuai dengan tabiat dakwah dalam manhaj tsaqafah, ta’lim dan tarbiyah.
  2. Peringkat keanggotaan dan hal-hal prinsip di dalamnya.
  3. Beberapa standar, penjelasan metodologi

BAB IX

PENUTUP

Semoga Manfaat .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s