Penilaian Status Gizi Balita di Posyandu Dahlia Kelurahan Tanjung- Purwokerto Selatan

LAPORAN PRAKTIKUM

MATA KULIAH PENILAIAN STATUS GIZI

Image 

 

 
   

 

 Image

 

 

 

 

 

 Oleh:

Nama                    : Siska Fiany

NIM                      : G1B011006

Posyandu                         : Dahlia

Kelompok                        : 4

 

 

 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT

PURWOKERTO

2013


BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Tujuan Praktik
  2. Mengetahui status gizi balita melalui pengukuran antropometri dan pemeriksaan klinis.
  3. Mengetahui pola asupan gizi balita berdasarkan hasil recall 24 jam dan food frequency.
  4. Mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap ibu mengenai gizi balita.
    1. B.     Latar Belakang Penilaian Status Gizi

Pertumbuhan dan perkembangan mengalami peningkatan yang pesat pada usia dini, yaitu dari 0 sampai 5 tahun. Masa ini sering juga disebut sebagai fase ”Golden Age”. Golden age merupakan masa yang sangat penting untuk memperhatikan tumbuh kembang anak secara cermat agar sedini mungkin dapat terdeteksi apabila terjadi kelainan. Selain itu, penanganan kelainan yang sesuai pada masa golden age dapat meminimalisir kelainan pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga kelainan yang bersifat permanen dapat dicegah  (Chamidah A. N., 2009).

Tujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas  Sumber Daya Manusia (SDM) yang dilakukan secara berkelanjutan. Upaya  peningkatan kualitas SDM dimulai pada proses tumbuh kembang anak sejak  pembuahan sampai mencapai dewasa utama. Pada masa tumbuh kembang anak, pemenuhan kebutuhan dasar seperti perawatan dan makanan bergizi  yang diberikan dengan penuh kasih sayang dapat membentuk SDM yang  sehat, cerdas dan produktif (Radiansyah, 2007 dalam Octaviani et al., 2008).

Kualitas seorang anak dapat dinilai dari proses tumbuh kembang. Proses tumbuh kembang merupakan hasil interaksi faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik/keturunan adalah faktor yang berhubungan dengan gen yang berasal dari ayah dan ibu, sedangkan faktor lingkungan meliputi lingkungan biologis, fisik, psikologis, dan sosial (Chamidah, A. N., 2009)

Salah satu upaya cukup penting terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah upaya peningkatan status gizi masyarakat. Status gizi masyarakat merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas hidup dan produktifitas kerja (Supariasa, et al., 2001 dalam Octaviani et al., 2008). Peningkatan status gizi sangat diperlukan apalagi pada balita yang masih berada dalam masa golden age.

Permasalahan gizi masih merupakan masalah yang penting untuk diselesaikan. Menurut Damayanti (2011) penyebab dasar dari 54% kematian bayi di Indonesia adalah gizi kurang yang berdampak pada penurunan daya tahan tubuh. Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2010 prevalensi Kurang Energi Protein (KEP) pada balita berdasarkan berat badan per umur (BB/U) adalah 17,9%. Angka ini masih diatas target pencapaian MDG’s tahun 2015 sebesar 15,5%. Data menunjukkan di Provinsi Kalimantan Barat, tahun 2009 persentase kasus KEP sebanyak 20,79%. Data Kota Pontianak tahun 2009 menunjukkan dari total bayi dan balita yang ditimbang, 1 persentase balita Bawah Garis Merah (BGM) sebanyak 10,3%, kondisi ini merupakan angka tertinggi dari seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Barat. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa permasalahan gizi di Indonesia (Damayanti, 2011).

Penilaian status gizi bisa menjadi salah satu metode untuk mencegah terjadinya permasalahan gizi. Status gizi anak dapat dinilai dengan beberapa cara yaitu salah satunya dengan antropometri. Antropometri yaitu suatu metode yang didasarkan atas pengukuran keadaan fisik dan komposisi tubuh pada umur dan tingkat gizi yang baik. Status gizi balita akan diketahui dengan adanya penilaian status gizi pada balita (Supariasa, et al., 2001).  Penilaian status gizi sangat berperan dalam pemantauan gizi anak.  Apabila penilaian status gizi dilakukan secara rutin, adanya tanda atau gejala gangguan pertumbuhan maupun perkembangan anak dapat diketahui secara dini.oleh karena itu, terjadinya permasalahan gizi dapat diminimalisir.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A.    Status Gizi

Status gizi merupakan salah satu faktor yang menentukan sumber daya manusia dan kualitas hidup (Fauzan, 2012). Menurut Anggraeni (2010) status gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu. Sebagai contoh adalah terjadinya gizi kurang merupakan akibat dari keadaan tidak seimbangnya konsumsi makanan dalam tubuh seseorang (Anggraeni dan Aviarini , 2010).

Status Gizi Anak adalah  keadaan kesehatan anak yang ditentukan oleh derajat kebutuhan fisik energi dan zat-zat gizi lain yang diperoleh dari pangan dan makanan yang dampak fisiknya diukur secara antropometri (Suharjo, 1996 dalam Prasetio et al., 2011), dan dikategorikan berdasarkan standar baku WHO-NCHS dengan indeks BB/U, TB/U dan BB/TB.

  1. B.     Penilaian Status Gizi

Penilaian status gizi dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Penilaian penilaian secara tidak langsung yaitu survey konsumsi makanan, statistik vital, dan faktor ekologi. Sedangkan penilaian secara langsung dibagi menjadi 4 penilaian yaitu antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik (Supariasa et al., 2001).

  1. Antropometri

Penilaian status gizi pada balita dapat dilakukan pengukuran dengan antropometri, Antropometri berasal dari kata anthropos dan metros. Anthoropos artinya tubuh dan metros artinya ukuran. Jadi antropometri adalah ukuran tubuh. Pengertian ini bersifat sangat umum sekali. Ditinjau dari sudut pandang gizi maka antopometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi (Supariasa, et al., 2001).

Jenis parameter antropometri diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Umur

Faktor umur sangat penting dalam penentua status gizi. Kesalahan pada penentuan status umur akan menyebabkan interpretasi status gizi menjadi salah. Hasil pengukuran berat badan dan tinggi badan yang akurat,  tidak berarti apabila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat. Menurut Puslitbang Gizi Bogor (1980), batasan umur yang digunakan adalah tahun umur penuh (Completed Year) dan bagi anak umur 0-2 tahun digunakan bulan usia penuh (Completed Month) (Supariasa, et al., 2001).

  1. Berat Badan

Berat badan merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan paling sering digunakan. Berat badan menggambarkan jumlah protein, lemak, air, dan mineral pada tulang. Berat badan seseorang sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : umur, jenis kelamin, aktifitas fisik, dan keturunan. Berat badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang memberikan gambaran masa tubuh (otot dan lemak) (Supariasa, et al., 2001).

Alat yang digunakan di lapangan sebaiknya memenuhi beberapa persyaratan:

1)      Mudah digunakan dan dibawa dari satu tempat ke tempat lain.

2)      Mudah diperoleh dan relatif murah harganya.

3)      Ketelitian penimbangan sebaiknya maksimum 0,1 kg

4)      Skala mudah dibaca

5)      Cukup aman untuk menimbang anak balita.

Alat yang memenuhi persyaratan dan dianjurkan untuk menimbang anak balita adalah dacin (Supariasa, et al., 2001).

  1. Tingggi Badan

Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Dalam keadaan normal, tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur. Pertumbuhan tinggi badan, tidak seperti berat badan, relatif kurang sensitif terhadap masalah defisiensi gizi dalam waktu pendek. Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan baru akan tampak pada saat yang cukup lama. Pengukuran tinggi badan untuk balita yang sudah dapat berdiri dilakukan dengan alat pengukur tinggi “mikrotoa” (Microtoise) yang mempunyai ketelitian 0,1 cm (Supariasa, et al., 2001).

  1. Lingkar Lengan Atas (LILA)

Lingkar lengan atas sensitif untuk suatu golongan tertentu (Prasekolah), tetapi kurang sensitive pada golongan lain terutama orang dewasa. Alat yang digunalan merupakan suatu pita pengukur berupa fiberglass atau jenis kertas tertentu berlapis plastic. LILA memberikan gambaran tentang keadaan jaringan otot dan lapisan lemak bawah kulit. LILA mencerminkan cadangan energi, sehingga dapat mencerminkan :

1)      Status KEP pada balita

2)      KEK pada ibu WUS dan ibu hamil: resiko bayi BBLR

Kesalahan pengukuran LILA (ada berbagai tingkat ketrampilan pengukur) relatif lebih besar dibandingkan dengan tinggi badan, mengingat batas antara baku dengan gizi kurang, lebih sempit pada LILA dari pada tinggi badan. Ambang batas pengukuran LILA pada bayi umur 0-30 hari yaitu ≥ 9,5 cm. sedangkan pada balita yaitu < 12,5 cm (Supariasa, et al., 2001).

Antopometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot, dan jumlah air dalam tubuh. Indeks antropometri yang umum digunakan untuk menilai status gizi balita adalah berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), Berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) serta lingkar lengan atas menurut umur (LILA/U) (Anggraeni dan Aviarini , 2010).

Indeks Antropometri dijabarkan sebagai berikut:

  1. Berat Badan Menurut Umur (BB/U)

Berat badan adalah salah satu parameter yang yag memberikan gambaran massa tubuh. Massa tubh sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan yang mendadak, misalnya karena terserang penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan atau menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. Berat badan adalah parameter antropometri yang sangat labil (Supariasa, et al., 2001).

  1. Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U)

Tinggi badan menurut antropometri  yang menggambarkan pertumbuhan skeletal. Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti berat badan, relative tidak sensitive terhadap kekurangan gizi dalam waktu yang pendek. Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan akan Nampak dalam waktu yang relative lama. Berdasarkan karakteristik tersebut, maka indeks ini menggambarkn status gizi masa lalu. Beaton dan Bengoa (1973) menyatakan bahwa indeks (TB/U) disamping menggambarkan status gizi masa lampau, juga lebih erat kaitannya dengan status sosial ekonomi (Supariasa, et al., 2001).

  1. Berat Badan Menurut Tinggi Badan

Berat badan memiliki hubungan yang linear dengan tinggi badan. Pada keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan denga kecepatan tertentu. Indeks BB/TB merupakan indicator yang baik untuk menilai status gizi saat ini (sekarang). Indeks BB/TB merupakan indeks yang independen terhadap umur (Supariasa, et al., 2001).

Dari berbagai jenis indeks tersebut, untuk menginterpretasikan dibutuhkan ambang batas, penentuan ambang batas diperlukan kesepakatan para ahli gizi. Ambang batas dapat disajikan kedalam 3 cara yaitu persen terhadap median, persentil dan standar deviasi unit. Standar deviasi unit disebut juga Z-skor. WHO menyarankan menggunakan cara ini untuk meneliti dan untuk memantau pertumbuhan (Supariasa et al., 2001).

Rumus perhitungan Z skor adalah :

 

 

Tabel 2.1. Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak berdasarkan Indeks

 

 

Sumber: Keputusan Manteri Kesehatan RI, No. 1995 Tahun 2010

 

 

Tabel 2.2. Kategori Interpretasi Status Gizi Berdasarkan Tiga Indeks  (BB/U,TB/U, BB/TB  Standart Baku Antropometri WHO-NCHS)

No.

Anak

Indeks Antropometri

Keterangan

BB/U

TB/U

BB/TB

1

Baik

Pendek

Gemuk

Kronis-Gemuk

2

Lebih

Pendek

Gemuk

Kronis-Gemuk

3

Baik

Normal

Gemuk

Gemuk

4

Lebih

Normal

Gemuk

Tidak kronis – gemuk

5

Lebih

Normal++

Normal

gizi baik, tidak akut/kronis

6

Lebih

Normal

Gemuk

Gemuk

7

Lebih

Normal

Normal

Baik

8

Baik

Pendek

Normal

Kronis

9

Baik

Normal

Normal

gizi baik, tidak akut/kronis

10

Baik

Normal

Normal

Baik

11

Kurang

Pendek

Normal

Kronis – tidak akut

12

Kurang

Normal

Normal

Baik

13

Baik

Normal

Kurus

Akut

14

Baik

Normal++

Kurus

Tidak kronis – akut

15

Kurang

Pendek

Kurus

Kronis-Akut

16

Kurang

Normal

Kurus

Tidak kronis – akut

17

Kurang

Normal

Kurus

Akut

            Sumber: Depkes RI, 2004

  1. Pemeriksaan Fisik-Klinis

Pemeriksaan fisik-klinis merupakan metode yang sangat penting dalam menilai status gizi masyarakat. Metode ini diddasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel (supervicial epithelial tissues) seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid (Supariasa, et al., 2001).

Penggunaan metode ini umumya untuk survei klinis secara cepat (rapid clinical surveys). Survei ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. Disamping itu pula digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign)  atau gejala (symptomp) atau riwayat penyakit (Supariasa, et al., 2001).

Tabel 2.3 Gejala Fisik yang Diduga Berkaitan dengan Malnutrisi dengan Keadaan Normal

Keadaan Normal

Tanda yang Berhubungan dengan Malnutrisi

Rambut: berkilat, tak mudah lepas

Kehilangan sinarnya yang berkilat, kering, tipis, tanda bendera (signoda bendera), mudah lepas

Muka: warna sama, halus, tampak sehat, tidak bengkak

Depigmentasi, flek hitam di bawah mata, membengkak, pembesaran kelenjar parotis, nasolabial seboroik

Mata: bercahaya, bersih, tidak ada luka, kelembaban tidak tampak, pembuluh darah sclera

Konjungtiva puat, injeksi konjungtiva, bercak bitot, palpebritis angularis, konjungtiva kering, kornea kering, keraomalasia, jaringan parut kornea, injeksi sekeliling kornea

Bibir: halus, tidak ada pembengkakan

Cheilosis, fisura angularis, jaringan parut sekitar sudut bibir

Lidah: halus, tidak ada pembengkakan, merah

Membengkak, scarlet, kasar, magenta, halus, kemerahan, papiLILA atrofi, hipertropi hiperemik

Gigi: tidak ada lubang, tidak ada rasa nyeri

Tanggal, erupsi, tidak normal, tanda-tanda fluorosis,, berlubang

Gusi: sehat, merah, tidak ada pendarahan, tidak ada pembengkakan

Mudah berdarah, penarikan gusi

Wajah: tidak ada pembengkakan

Pembesaran kelenjar gondok, kelenjar parotis

Kulit: bersih, tidak ada pembengkakan, tidak ada bercak-bercak

Kerin, keratosis folikularis, membengkak, ambaran dermatosis peLILAgra, despimentasi, petechiae, jaringan lemak bawah kuli berkurang atau hilang

Kuku: kemerahan, keras

Kolanika, rapuh

Otot dan rangka: tonus otot baik, dapat lari dan jalan tanpa rasa sakit

Wasted, kraniotabes, pembesaran epifise, fontanel tetap membuka, blew-legs, pendarahan musculoskeletal, tidak bias berjalan dengan baik

System kardiovaskular: ritme dan denyut jantung normal, tidak ada murmur, tekanan darah normal

Takikardi, pembesaran jantung, ritme tidak normal, kenaikan tekanan darah

System gastrointestinal: tidak ada massa yang teraba

Hepatomegali, splenomegali, (biasanya ada penyakit lain)

Sistem saraf: stabil, refleks normal

Tidak teriritasi, parasesia, pada keadaan berat tidak bisa berjalan, reflex lutut dan umit menurun atau hilang

Sumber: Supariasa et al., 2001

  1. Survei konsumsi makanan

Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi. Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga, dan individu serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap konsumsi makanan tersebut. Survei ini dapat mengidentifikasikan kelebihan dan kekurangan zat gizi. Survei konsumsi dapat dilakukan dengan cara mewawancarai setiap responden. (Fauzan, 2012).

Metode yang digunakan untuk pengukuran konsumsi dibedakan menjadi dua, yaitu bersifat kualitatif, seperti dietary history dan frekuensi makanan; dan bersifat kuantitatif, seperti recall 24 jam, penimbangan makanan, food record, dan metode inventaris. Hasil pengukuran ini dapat digunakan untuk berbagai tujuan, antara lain untuk menentukan tingkat kecukupan konsumsi gizi mayarakat sebagai dasar perencanaan program gizi dan pendidikan gizi (Supariasa, et al., 2001).

  1. a.      Metode Recall 24 jam

24 hour Food Recall (recall 24 jam) merupakan metode yang paling sederhana dan mudah dilakukan yaitu dengan meminta responden untuk mengingat seluruh makanan yang dikonsumsi dalam 24 jam sebelumnya. Hal penting yang perlu diketahui bahwa dengan recall 24 jam data yang diperoleh cenderung lebih bersifat kualitatif. Oleh karena itu, untuk mendapatkan data kuantitatif maka jumlah konsumsi makanan individu ditanyakan secara teliti dengan menggunakan alat Ukuran Rumah Tangga (URT) seperti sendok, gelas, piring dan lain-lain atau ukuran lainnya yang biasa dipergunakan sehari-hari (Supariasa, et al., 2001).

Petugas melakukan konversi dari URT ke dalam ukuran berat (gram). Dalam menaksir/memperkirakan ke dalam ukuran berat (gram) pewawancara menggunakan alat bantu seperti contoh URT atau dengan menggunakan model dari makanan (food model). Setelah itu menganalisis bahan makanan ke dalam zat gizi dengan menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM). Selanjutnya membandingkan dengan Daftar Kecukupan Gizi yang diAnjurkan (DKGA) atau Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk Indonesia.

Sebelum melakukan perhitungan Tingkat Konsumsi Energi (TKE) individu, dilakukan perhitungan BB ideal dan AKG individu (energi).

Perhitungan tersebut sebagai berikut:

BB ideal (untuk anak 1-5 tahun) = (Umur dalam tahun x 2) + 8

AKG individu (energi) =  BB ideal    x   Energi Standar

                                                         BB standar

TKE individu =    Konsumsi (energi)    x   100%

                          AKG individu (energi)

Kriteria :

Baik                        : > 100% AKG

Sedang        : 80-90% AKG

Kurang        : 70-80% AKG

Defisit         : < 70% AKG

Perhitungan Tingkat Konsumsi Protein (TKP) juga didahului dengan perhitungan AKG individu (protein). Perhitunan tersebut sebagai berikut:

AKG individu (protein) =   BB ideal    x   Protein Standar

                                           BB standar

TKP individu =     Konsumsi (protein)      x   100%

                           AKG individu (protein)

Kriteria:

Lebih           : > 100% AKG

Baik                        : 80-100% AKG

Kurang        : < 80% AKG

  1. b.      Metode Frekuensi Makanan (Food Frequency)

Food Frequency Methode adalah untuk memperoleh data tentang frekuensi konsumsi sejumlah bahan makanan atau makanan jadi selama periode tertentu seperti hari, minggu, bulan dan tahun. Frekuensi konsumsi bahan pangan dapat digunakan untuk melihat kebiasaan makan seseorang. Metode ini dapat dilakukan dengan cepat baik diisi sendiri oleh responden atau dengan wawancara. Disamping itu tidak merepotkan responden disbanding metode lainnya. (Supariasa, et al., 2001).

Langkah-langkah pelaksanaan metode frekuensi makanan yaitu:

1)      Responden diminta member tanda pada daftar makanan yang tersedia pada kuesioner mengenai frekuensi penggunaannya dan ukuran proporsinya.

2)      Melakukan rekapitulasi tentang penggunaan jenis bahan makanan terutama bahan makanan yang merupakan sumber-sumber zat gizi tertentu selama periode tertentu pula (Supariasa et al., 2001).

 

.

 

 

BAB III

METODE PELAKSANAAN

  1. A.    Waktu Pelaksanaan

Praktikum Penilaian Status Gizi (PSG) ini dilaksanakan pada hari Jum’at, tanggal 06 Desember 2013.

  1. B.     Tempat Pelaksanaan

Praktikum Penilaian Status Gizi (PSG) ini dilaksanakan di Posyandu Dahlia Kelurahan Tanjung Kecamatan Purwokerto Selatan.

  1. C.    Alat dan Bahan
    1. Dacin
    2. Microtoice
    3. Pita LILA
    4. Kuisioner Food frequency
    5. Lembar recall 24 jam
      1. Nasi
      2. Mie
      3. Roti
      4. Telur
      5. Daging sapi
      6. Daging ayam
      7. Hati
      8. Ikan
      9. Tempe
      10. Tahu
      11. Kacang ijo
      12. Bayam
      13. Kangkung
      14. Wortel
      15. Kacang panjang
      16. Buncis
      17. Pisang
      18. Jeruk
      19. Apel
      20. Peer
      21. Papaya
      22. Semangka
      23. Susu sapi
      24. Susu kedelai
      25. Biscuit
      26. Bakso
      27. gorengan
  1. Alat :
  1. Bahan
 

 

 

  1. D.    Prosedur Pengukuran Status Gizi
  1. Gantungkan dacin pada dahan pohon atau penyangga kaki tiga

     

     

    Penimbangan Balita dengan Dacin

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Catat hasil penimbangan

 

    

 
   

 

 

 

 

 

 

 

  1. Prosedur Pengukuran Tinggi Badan
  1. Persiapan Alat

1)      Letakkan Microtoise di lantai yang rata dan menempel pada dinding yang tegak lurus

2)      Tarik pita meteran tegak lurus ke atas sampai angka pada jendela kaca menunjukkan angka nol (0)

3)      Paku/tempelkan ujung pita meteran pada dinding

4)      Tarik kepala microtoise ke atas sampai ke paku

Lepaskan alas kaki (sepatu atau sandal), topi (penutup kepala).

 

Pelaksanaan pengukuran Tinggi Badan

 

     
   
 
     

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Prosedur Pengukuran Lingkar Lengan Atas
 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Wawancara

Wawancara kuesioner  praktikum gizi yang terdiri dari:

  1. Identitas keluarga
  2. Identitas bayi/balita
  3. Pemeriksaan antropometri
  4. Pemeriksaan klinis
  5. Form konsumsi makan bayi/balita
  6. Form food kuantitatif
  7. Kebiasaan makan balita
  8. Sikap terhadap gizi
  9. Riwayat kesehatan

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. A.    Hasil
    1. 1.      Identitas keluarga dan balita
      1. Identitas Keluarga

Nama Kepala Keluarga : Darsun

Alamat                                : RT/RT 02/05 Kelurahan Tanjung

Tabel 4.1. Identitas Keuarga Balita

No

Nama

L/P

Umur (th)

Pendidikan

Pekerjaan

Pendapatan

Antropometri

BB (Kg)

TB (cm)

1.

Darsun

L

42

SD

Sales Marketing

> Rp 1.000.000

58

160

2.

Supinah

P

36

SD

IRT

66

156

3.

Andika

L

17

STM

47

159

4.

Aditya

L

11

SD

32

150

5.

Aldiansyah

L

3

Belum sekolah

14,4

101

 

  1. Identitas Bayi/Balita

Nama                      : Aldiansyah Tri Pamungkas

Tanggal Lahir         : 2 Januari 2010

Umur                      : 3 Tahun

Jenis Kelamin         : Laki-laki

Balita yang menjadi sampel praktikum bernama Aldiansyah Tri Pamungkas. Lahir pada tanggal 2 januari tahun 2010, berjenis kelamin laki-laki. Umur Aldi saat dilakukannya praktikum adalah 3 tahun, dikarenakan pengukuran umur berdasarkan tahun penuh, Aldi masih belum sekolah. Aldi mempunyai orang tua bernama Darsun (42 tahun) dan Supinah (36 tahun), keduanya mempunyai riwayat pendidikan SD. Bapak Aldi adalah seorang yang bekerja sebagai sales marketing dengan pendapatan setiap bulan > Rp 1.000.000,-. Ibu Aldi seorang ibu rumah tangga yang mempunyai berat badan 66 Kg dengan tinggi badan 156 cm. Aldi merupakan anak terakhir dari 3 bersaudara mempunyai 2 kakak laki-laki yang bernama Andika (17 tahun) dan Aditya (11 tahun).


  1. 2.      Antropometri

Hasil pemeriksaan antropometri balita ditunjukkan dalam Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Pemeriksaan Antropometri Balita

No.

Berat Badan

Tinggi Badan /Panjang Badan

LILA

Status Gizi

BB/U

TB/U

BB/TB

Gabungan

1.

14,4 Kg

101 cm

 

15 cm

Gizi        Baik

Normal

Normal

gizi baik, tidak akut/kronis

                   

Berdasarkan table 4.2. Hasil pemeriksaan antropometri yang didapatkan adalah :

Berat badan  : 14,4 Kg

Tinggi Badan: 101 cm

LILA                        : 15 cm

Perhitungan Indeks antropometri berdasarkan hasil yang telah didapatkan menggunakan standar deviasi unit atau disebut juga Z-skor. Rumus perhitungan Z skor adalah :

 

 

  1. BB/U

=

 

Z-Skor (BB/U)       14,4 – 16,2

=

 

                                16,2 – 14,3

–    0.95  (Gizi baik)

  1. TB/U

=

 

Z-Skor (TB/U)        101  –  102,8

=

 

                                102,8 – 98,6

–    0.4    (Normal)

  1. BB/TB

=

 

Z-Skor (BB/TB)     1 14,4 – 15,6

=

 

                                   15,6 – 14,4

  -1   (Normal)

Berdasarkan pengukuran dengan menggunaka dacin, berat badan Aldi adalah sebesar 14,4 Kg, tinggi badan Aldi diukur dengan mikrotoa dan hasilnya adalah Aldi mempunyai tinggi badan sebesar 101 cm sedangkan pengukuran LILA menggunakan pita LILA dan hasil yang didapatkan adalah linkar lengan atas Aldi sebesar 15 cm. Hasil perhitungan Z-Skor BB/U yaitu -0.95, apabila dibandingkan dengan kategori status gizi berdasarkan indeks BB/U maka Aldi termasuk dalam kategori gizi baik. Selain itu, hasil perhitungan Z-Skor TB/U yaitu -0.4, apabila dibandingkan dengan kategori status gizi berdasarkan indeks TB/U maka Aldi termasuk dalam kategori normal. Selanjutnya hasil perhitungan Z-Skor BB/TB yaitu -1, apabila dibandingkan dengan kategori status gizi berdasarkan indeks BB/TB maka Aldi termasuk dalam kategori normal. Oleh karena itu, hasil Z-skor status gizi gabungan dari Aldi adalah gizi baik- normal (tidak akut/kronis).

  1. 3.      Pemeriksaan Fisik-Klinis

Tabel 4.3. Hasil Pemeriksaan Fisik-Klinis Balita

No

Badan

Wajah

Kulit

Oedema

Rambut

Mata

Leher (palpasi)

Status mental

Keterangan

1.

Sedang

Normal

Sawo matang

Tidak ada

Hitam

Normal

Negative

Baik

 

Hasil pemeriksaan klinis menunjukkan bahwa badan, wajah, kulit, rambut, mata, leher dan status mentalnya normal serta tidak terdapat oedema pada tubuhnya serta tidak ada benjolan di lehernya.

  1. 4.      Konsumsi makan balita
  2. a.      Recall 24 Jam

Hasil yang didapatkan dari perhitungan recall makanan 24 jam adalah sebagai berikut:

Tabel 4.4. Analisis niali gizi hasil Recall konsumsi makan balita selama 24 jam terakhir

Waktu

Nama Makanan

Nama Bahan Makanan

URT

Gram

Kalori

Protein

Lemak

Karbohidrat

Pagi

Rames

Nasi

¾ gelas

100

180

3

0,3

39,8

 

 

Kangkung

½ gelas

50

11

1,25

0.3

1,55

 

 

Tempe goring

1 ptg

25

87,5

6,125

6,65

2,6

 

Susu kedelai

 

¾ gelas

200

82

7

5

10

Selingan

Donat

Terigu

1 sdm

6,25

21,875

0,5

5

 

 

 

Telur

1/8 butir

7,5

11,875

1,25

0,75

 

 

Minyak

½ sdm

5

45

5

 

Lapis ketan

1 ptg

50

82

0.9

1,5

17,25

 

Susu Kedelai

¾ gelas

200

82

7

5

10

Siang

Sayur Sop

¾ mgkok

150

40,5

1,95

3

1,5

 

Sosis goreng

2 sdm

50

224

7,25

21,15

1,15

 

Susu Kedelai

¾ gelas

200

82

7

5

10

Waktu

Nama Makanan

Nama Bahan Makanan

URT

Gram

Kalori

Protein

Lemak

Karbohidrat

Selingan

Melon

½ ptg

50

14

0,25

0,1

3,45

 

Pisang ambon

1 ptg

75

40

10

 

Susu Kedelai

¾ gelas

200

82

7

5

10

Sore/ malam

Mie telor

Mie kering

1 bungkus

50

95

10

6

 

 

Telor

1 butir

60

95

10

6

 

 

Minyak

½ sdm

5

45

5

 

Susu Kedelai

¾ gelas

200

82

7

5

10

Selingan

Biskuit

½ ptg besar

10

35

0,8

8

Total

1437,75

78,275

70,75

150,3

 

Jadi,  berdasarkan hasil recall :

1)      Kalori yang dikonsumsi Aldi selama 24 jam adalah 1437,75 kal

2)      Protein yang dikonsumsi Aldi selama 24 jam adalah 78,275 gram

3)      Lemak yang dikonsumsi Aldi selama 24 jam adalah 70,75 gram

4)      Karbohidrat yang dikonsumsi Aldi selama 24 jam adalah 150,3 gram

Tahap berikutnya menghitung berat badan ideal dan menetapkan ngka kecukupan gizi berdasarkan berat badan yang dibandingkan dengan

BBI = (Umur dalam tahun x 2) + 8

        = (3 x 2) + 8

        = 14

Berat badan ideal Aldi adalah 14 Kg sehingga angka kecukupan energinya adalah 1.550 Kkal sedangkan angka kecukupan proteinnya adalah 39 gram. Perhitungan AKG Aldi yang memiliki berat badan ideal 14 Kg adalah sebagai berikut:

1)      AKE    : 14  x 1550

                          17

            : 1276,4 kkal

2)      AKP     : 14 x 39

                           17

                         : 32,1 gram

Hasil Recall dibandingkan dengan AKG individu

Rumus AKG = Konsumsi Zat Gizi x 100%

                              AKG

 

 

1)      TKE     = 1437,5 Kkal x 100%

       1276,4 Kkal

 =  112,6 %

2)      TKP     = 78, 275 gram x 100%

       32,1 gram

 = 243,8 %

Berdasarka hasil perhitungan maka:

Tingkat konsumsi Energi (TKE) Aldi adalah sebesar 112,6% berarti konsumsi energi Aldi tergolong baik, karena >100%.

Tingkat konsumsi protein (TKP) Aldi adalah sebesar (243,8%) berarti konsumsi protein Aldi tergolong lebih, karena >100%.

  1. b.      Frekuensi Makanan Kuantitatif

Hasil Kuesioner frekuensi makanan kuantitatif menunjukkan bahwa:

1)      Makanan pokok yang paling sering dikonsumsi oleh Aldi adalah Nasi dengan skor 50.

2)      Lauk hewani yang paling sering dikonsumsi oleh Aldi adalah ikan dengan skor 15.

3)      Lauk nabati yang paling sering dikonsumsi oleh Aldi adalah tahu dan tempe dengan skor 25.

4)      Sayuran yang paling sering dikonsumsi oleh Aldi adalah wortel dengan skor 25.

5)      Buah yang paling sering dikonsumsi oleh Aldi adalah jeruk, apel, peer, papaya dan semangka dengan skor 10.

6)      Susu yang paling sering dikonsumsi oleh Aldi adalah susu kedelai dengan skor 50

7)      Jajanan yang paling sering dikonsumsi oleh Aldi adalah kue biskuit dengan skor 25

  1. 5.      Hasil analisis masing-masing kuesioner
    1. a.        Kebiasaan makan Balita (Pola Asuh Makan)

Sewaktu Aldi baru lahir ibunya langsung memberikan ASI, namu saat penelitian berlangsung Aldi sudah tidak lagi mengkonsumsi ASI karena dia sudah berumur 3 tahun. Aldi mulai berhenti menyusui saat umurnya 12 bulan, ibunya tidak melakukan program penyapihan terhadap Aldi. Akan tetapi ketika umur Aldi 12 bulan, dia sudah tidak mau lagi menyusu dari ASI ibunya dan langsung berpindah mengonsumsi susu sapi.

Aldi mulai Mengkonsumsi MP-ASI ketika berumur 8 bulan. Sebelumnya Aldi hanya mengkonsumsi ASI dari ibu hingga berumur 8 bulan. Jenis MP-ASI yang diberikan berupa bubur Nessle/Promina. Alas an ibu memberikan MP-ASI adalah agar MP-ASI dapat mendampingi ASI yang dikonsumsi. Pada umur 12 bulan Aldi sudah mulai makan makanan orang dewasa. Jenis makanan orang dewasa yang diberikan adalah nasi dan sayur sop wortel. Wortel adalah sayuran yang paling disukai Aldi dibanding kan jenis sayuran lainnya.

Frekuensi makan Aldi dalam sehari biasanya adalah 3 kali per hari. Biasanya ibu Aldi selalu memberikan sarapan pagi kepada Aldi baik itu berupa nasi dan lauk maupun jajanan berat. Ibu Aldi memberikan makan kepada Aldi dengan cara menyuapinya, tetapi terkadang Aldi mau makan sendiri dengan pengawasan ibu atau anggota keluarga lain. Ibu Aldi biasa menyusun menu makanan sekaligus menentukan porsi makan untuknya. Setiap makanan yang diberikan oleh ibu, kadang-kadang Aldi mengkonsumsi sampai habis terkadang juga masih tersisa. Selama ini ibu Aldi tidak mengalami kesulitan dalam hal memberi makan kepada Aldi.

  1. b.      Sikap Ibu Terhadap Gizi

Hasil wawancara tentang sikap ibu terhadap gizi ditunjukkan dalam Tabel 4.5.

Tabel 4.5. Sikap Ibu terhadap Gizi

No

Pernyataan

Jawaban

Setuju

Ragu-ragu

Tidak Setuju

1

Salah satu cara untuk mengetahui kesehatan dan pertumbuhan anak adalah dengan menimbang balita.

a

2

Hasil penimbangan (Berat Badan) balita sebaiknya dicatat pada Kartu Menuju Sehat (KMS/Buku KIA).

a

3

Jika berat badan balita tetap dibanding hasil penimbangan bulan yang lalu berarti anak itu tetap sehat

a

4

ASI yang pertama kali keluar (kolostrum) sangat baik untuk bayi.

a

5

Jika balita berumur 6 bulan, di samping ASI harus ditambahkan makanan lain.

a

6

Sayuran hijau perlu dihidangkan sehari-hari karena mengandung vitamin A.

a

                       

Berdasarkan tabel diatas bisa dilihat bahwa skor sikap ibu Supinah terkait gizi sangat baik. Hal ini terbukti dengan semua pertanyaan sikap dijawab dengan benar.

  1. c.        Riwayat Kesehatan

Ibu dan bapak Aldi sakit dalam jangka waktu seminggu terakhir. Gejala yang dirasakan oleh ibu adalah mual dan tidak nafsu makan akibat penyakit magh yang diderita, gejala tersebut dirasakan sekitar 1 minggu. Sedanngkan Bapak Aldi merasakan gejala pusing selama 3 hari dikarenakan mempunyai penyakit hipertensi. Biasanya jika terdapat anggota keluarga yang sakit jika sakitnya masih ringan membeli obat sendiri di warung, akan tetapi ketika sakitnya parah maka dibawa ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang lebih optimal. Jarak antara rumah Aldi dengan tempat pengobatan adalah sekitar 0,5 km atau 500 m. Aldi mengalami sakit denagn gejala batuk dan pilek pada bulan yang lalu.

  1. d.         Keterlibatan dalam program posyandu

Ibu Aldi mengerti tentanga adanya posyandu. Menurut ibu Aldi Posyandu mempunyai program penimbangan, imunisasi, pemberian makanan tambahan dan penyuluhan seperti penyuluhan tentang pertumbuhan dan perkembangan anak. selama ada kegiatan posyandu, ibu Aldi secara rutin membawa anaknya ke posyandu. Menurut ibu Aldi manfaat dari posyandu adalah agar dapat mengetahui berat badan balita dan mengetahui kesehatan balita.

  1. B.     Pembahasan
    1. 1.      Pemeriksaan Antropometri

Praktikum penilaian status gizi dilakukan untuk menilai status gizi anak di Posyandu Dahlia. Praktikan mendapatkan responden bernama Aldi, yaitu seorang balita berumur 3 tahun. Menurut Suharjo (1996) status Gizi anak merupakan keadaan kesehatan anak yang ditentukan oleh derajat kebutuhan fisik energi dan zat-zat gizi lain yang diperoleh dari pangan dan makanan yang dampak fisiknya diukur secara antropometri. Sesuai dengan pernyataan Suharjo responden dalam praktikum ini dinilai status gizinya salah satunya melalui metode antropometri.

Hasil penimbangan berat badan Aldi menggunakan dacin, dia memiliki berat badan 14,4 kg. Berdasarkan hasil pernitungan, nilai Z-skor dari indeks  berat badan menurut umur (BB/U) adalah berada pada standar deviasi -0,95.  Ha ini menunjukkan bahwa status gizi Aldi berdasarkan indeks BB/U adalah bergizi baik karena karena memiliki nilai Z-skor -0,95. Hal ini dikarenakan menurut Depkes (2004)  jika indeks BB/U antara -2 SD sampai +2 SD artinya balita bergizi baik. Hal ini juga menggambarkan bahwa massa tubuh Aldi adalah keadaan normal.

Pengukuran betat badan Aldi menggunakan dacin. Kelebihan dari pengukuran yang dilakukan adalah pengukuran dimulai dengan angka nol dan pakaian pada tubuh Aldi sudah seiminimal mungkin agar tidak mempengaruhi hasil pengukuran. Kekurangan dari pengukuran yang dilakukan adalah tinggi mata pengukur tidak sesuai dengan tinggi dacin. Akan tetapi kekurangan tersebut diatasi dengan pembacaan hasil pengukuran dibantu oleh kader posyandu setempat. Selain itu, pada saat pengukuran dacin tidak dilengkapi dengan bandul penyeimbang.

Hasil tinggi badan Aldi saat dilakukannya pemeriksaan antropometri adalah 101 cm. Setelah dilakukan perhitungan Z-skor, hasil yang didapatkan adalah -0,4. Hal ini menunjukkan bahwa tinggi badan Aldi menurut umurnya (TB/U) adalah normal, karena masih berada pada nilai standar deviasi antara -2 SD sampai +2 SD. Indeks TB/U merupakan indeks yang menggambarkan massa lalu yang erat kaitannya dengan status sosial-ekonomi. Hal ini juga menunjukkan bahwa di masa lampau Aldi juga bergizi baik dan menggambarkan bahwa status sosial-ekonomi keluarga Aldi cukup baik. Pernyataan tersebut juga didukung dengan identitas keluarga bahwa pendapatan orangtua > Rp. 1.000.000,- per bulan.

Pengukuran tinggi badan Aldi menggunakan alat mikrotoa. Kelebihan pengukuran sesuai dengan prosedur yang dianjurkan. Kekurangan dari pengukuran ini yaitu tidak terlalu sensitif untuk menggambarkan kekurangan gizi dalam waktu yang pendek.

Hasil Z-skor pengukuran antropometri berdasarkan indeks BB/TB adalah sebesar -1. Berarti terlepas dari parameter umur status gizi Aldi tergolong baik dikarenakan nilai Z-skor masih berada -2 SD sampai +2 SD. Hal ini menunjukkan bahwa saat dilakukannya pemeriksaan antropometri status gizi Aldi memang dalam keadaan baik.

Hasil pengukuran LILA pada lengan kiri Aldi adalah sebesar 15 cm. Ambang batas LILA pada balita menurut Supariasa (2002) yaitu < 12,5 cm apabila nilai LILA seseorang kurang dari ambang batas maka dinyatakan kekurangan energi protein (KEP). LILA Aldi jika dibandingkan dengan ambang batas hasilnya adalah berada diatas ambang batas. Hal ini bahwa  konsumsi protein Aldi sudah cukup atau tidak kekurangan protein.

  1. 2.      Pemeriksaan Fisik-Klinis

Pemeriksaan fisik klinis dari Aldi menunjukkan bahwa fisik Aldi termasuk dalam kategori normal. Hal ini bisa dilihat dari hasil pemeriksaan bahwa badan Aldi normal, kulitnya sawo matang, mata normal bening, rambut hitam normal, tidak ada oedema di tubuhnya dan saat dipalpasi lehernya normal tidak terdapat benjolan. Selain itu kondisi mentalnya juga baik, hal ini terlihat dari perkembangannya yang sesuai dengan anak sebayanya tidak ada satupun tanda atau gejala gizi buruk atau malnutrisi  pada Aldi. Berarti, berdasarkan pemeriksaan klinis-fisik kondisi gizi dari Aldi adalah baik.

  1. 3.      Penilaian Status Gizi berdasarkan Survei konsumsi
    1. a.        Recall 24 jam

Hasil recall menunjukkan bahwa tingkat konsumsi energi (TKE) Aldi adalah sebesar 112,6% AKG jika dibandingkan dengan kategori TKE berarti konsumsi energi Aldi tergolong baik, karena >100% AKG. Konsumsi energi yang baik ini dimungkinkan karena Aldi mempunyai kebiasaan makan makanan pokok tiga kali sehari sehingga sesuai dengan kalori yang dibutuhkannya.

Tingkat konsumsi protein (TKP) Aldi adalah sebesar 243,8% AKG jika dibandingkan dengan kategori TKP berarti konsumsi protein Aldi tergolong lebih, karena >100% AKG. Konsumsi protein yang berlebiih terlihat dari hasil recall bahwa Aldi sangat suka meminum susu kedelai yang tinggi protein. Frekuensi konsumsi susu kedelai oleh Aldi bahkan hingga 4-5 kali per hari. Hal ini akan berdampak negatif jika menjadi kebiasaan secara terus menerus. Menurut Putri (2011), asupan protein yang berlebihan dapat menyebabkan penurunan fungsi pada ginjal. Almatsier (2005) juga menyatakan bahwa kelebihan protein tidak menguntungkan bagi tubuh. Makanan yang tinggi protein biasanya tinggi lemak sehingga dapat menyebabkan obesitas. Kelebihan asam amino akan memberatkan ginjaldan hati yang harus memetabolisme dan mengeluarkan kelebihan nitrogen. 

Sebaiknya Aldi dapat mengontrol konsumsi susu kedelai tersebut. Peran ibu sangat dibutuhkan dalam hal ini. Pola asuh makan yang baik dari ibu akan membuat kebiasaan makan Aldi lebih baik jika dibiasakan sejak dini. Hal ini sesuai dengan pernyataan  Masithah et al., (2005) bahwa pola asuh makan berhubungan signifikan dengan tingkat kecukupan protein anak batita. Selain itu, menurut Setiati (2006), faktor penyebab tidak langsung status gizi pada anak balita adalah pengetahuan, sikap dan praktek pola asuh anak ini sangat berhubungan dengan tingkat pendidikan ibu yang masih rendah, serta kurangnya informsi tentang pola asuh dan status gizi.

  1. b.      Food Frequency secara kuantitatif

Hasil kuesioner frekuensi konsumsi makan balita menunjukkan bahwa diantara makanan pokok Aldi paling sering memakan nasi yaitu dengan skor 50 artinya Aldi memakan nasi hingga 3 kali per hari. Kebiasaan makan makanan pokok pada Aldi sudah cukup baik. Hal ini bisa dilihat juga dari hasil perhitungan tingkat konsumsi energi yang sudah baik. Menurut Dedeh et al 2010 Kecukupan energi diperlukan untuk kegiatan sehari-hari dan proses metabolisme tubuh. Energi yang diperlukan seseorang tergantung dari BMR individu masing-masing tingkat pertumbuhan dan aktifitas fisik.

Jenis lauk hewani yang paling sering dikonsumsi oleh Aldi adalah telur dan ikan dengan skor 10. Artinya Aldi mengonsumsi ikan dan telur sekitar 1-3 kali per minggu. Hasil kuesioner menunjukkan konsumsi lauk nabati paling sering adalah tempe dan tahu yaitu dengan skor 25 dengan frekuensi konsumsi 4-6 kali per minggu. Dilihat dari frekuensi kosumsi lauk, Aldi sudak mempunyai kebiasaan yang cukup baik yaitu untuk memenuhi kebutuhan akan zat gizi protein dan lemak yang dibutuhkan. Menurut Arisman (2004) besaran pasokan protein dihitung berdasarkan kebutuhan untuk bertumbuh kembang dan jumlah nitrogen yang hilang lewat air seni, tinja, dan kulit. Jika asupan asam amino kurang, pertumbuhan jaringan dan organ, berat dan tinggi badan, serta lingkar kepala akan terpengaruh. Konsumsi protein hewani dan nabati yang cukup dapat mendukung tumbuh kembang.

Alatsier (2005) juga menyatakan protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat digantikan oleh zat gizi lain yaitu membangun serta memelihara sel-sel dalam tubuh. Konsumsi lauk dapat memenuhi  kebutuhan akan lemak. Almatsier menyatakan bahwa kebutuhan lemak tidak dianjurkan secara mutlak. WHO menganjurkan konsumsi lemak sebanyak 20-30% kebutuhan energi total dianggap baik untuk kesehatan.

Sayuran yang paling sering dikonsumsi oleh Aldi adalah wortel dengan skor 25 dengan rata-rata konsumsi adalah sekitar 4-6 kali per minggu. Worel kaya akan vitamin A Kategori buah yang paling sering dikonsumsi oleh Aldi adalah jeruk, apel, peer, papaya dan semangka dengan skor 10. Menurut Apriliaw (2011) sayuran dan buah-buahan yang berwarna jingga kaya akan beta karoten sebagai antioksidan yang bisa mencegah penyakit jantung, kanker kulit dan penuaan dini. Wortel dikenal memiliki kandungan vitamin A yang sangat tinggi. Wortel memiliki unsur lain seperti kalori, protein, hidrat arang, kalsium, dan besi. Pernyataan tersegut menunjukkan bahwa kebiasaan Aldi mengonsumsi wortel sangat baik bagi kesehatannya.

Almatsier (2005) juga menyatakan bahwa sayuran dan buah sebagai sumber vitamin dan mineral berfungsi menunjang metabolisme dalam tubuh. Hasil kuesioner menunjukkan Aldi kebiasaan konsumsi buah yang cukup baik. Hal ini terlihat dari rata-rata frekuensi makanan yang sama pada beberapa yaitu seperti pisang, peer, semangka dan lain-lain sekitar 1-2 kali per minggu. Data tersebut menunjukkan bahwa Aldi mempunyai kebiasaan makan buah yang beragam, yang akan menunjang dalam pemenuhan kebutuhan vitamin dan mineral.

Susu yang paling sering dikonsumsi oleh Aldi adalah susu kedelai dengan skor 50. Jajanan yang paling sering dikonsumsi oleh Aldi adalah kue biskuit dengan skor 25. Susu kedelai mengandung protein yang tinggi. Hal ini yang mengakibatkan tingkat konsumsi protein Aldi berlebih hingga 243,8% AKG. Data kuesioner menunjukkan bahwa Aldi mengonsumsi susu kedelai >1x per hari, bahkan ibu Aldi menyatakan anaknya bisa meminum susu kedelai sebanyak 5 x per hari. Dilihat dari data tersebut perlu usaha untuk menurunkan frekuensi konsumsi susu kedelai. Hal ini tentunya dengan bantuan dari ibu dan  anggota keluarga lain untuk memberikan pengertian pada Aldi agar mengonsumsi susu kedelai sesuai kebutuhan. Menurut Nursalam (2005) ini, susu masih merupakan makanan yang penting karena mengandung semua zat gizi dasar yang dibutuhkan anak yang sedang tumbuh. Idealya konsumsi susu bagi balita cukup dua gelas per hari.

  1. 4.      Kebiasaan Makan Balita (Pola Asuhan Makan)
    1. Pemberian ASI, Makanan Tambahan atau Makanan Pendamping ASI

Informan dari praktikum ini adalah ibu respoonden yang bernama Ibu Supinah. Ibu Supinah menyatakan bahwa Aldi hanya mengonsumsi ASI tanpa makanan tambahan hingga berumur8 bulan. Hal ini tidak sesuai dengan  anjuran pemerintah tentang pemberian ASI eksklusif. Menurut PP RI No. 33 Tahun 2012 ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan hingga berumur 6 (enam) bulan tanpa menambahkan dan/atau mengganti dengan makanan atau minuman lain disebut ASI Eksklusif. Artinya pemberian ASI eksklusif dari Ibu terhadap Aldi melebihi waktu 6 bulan yang dianjurkan. Ibu Supinah menyatakan hal ini terjadi karena Aldi memang tidak mau dan tidak bisa makan apapun selain ASI ketika umurnya masih dibawah 8 bulan.

WHO/UNICEF merekomendasikan empat hal penting yang harus dilakukan yaitu; pertama memberikan air susu ibu kepada bayi segera dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir, kedua memberikan hanya air susu ibu (ASI) saja atau pemberian ASI secara eksklusif sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan, ketiga memberikan makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) sejak bayi berusia 6 bulan sampai 24 bulan, dan keempat meneruskan pemberian ASI sampai anak berusia 24 bulan atau lebih (Depkes, 2006).

Aldi mulai berhenti menyusui saat umurnya 12 bulan, walaupun ibunya tidak melakukan program penyapihan terhadap Aldi. Hal ini tidak sesuai dengan anjuran WHO yang keempat. Aldi mulai Mengkonsumsi MP-ASI ketika berumur 8 bulan. Menurut Sidi et al. (2004), makanan pendamping ASI merupakan makanan yang diberikan pada bayi mulai umur 6 bulan guna pemenuhan energi dan zat gizi lain yang tidak dicukupi oleh ASI. Sebelumnya Aldi hanya mengkonsumsi ASI dari ibu hingga berumur 8 bulan. Jenis MP-ASI yang diberikan berupa bubur Nessle/Promina. Alasan ibu memberikan MP-ASI adalah agar MP-ASI dapat mendampingi ASI yang dikonsumsi.

Pada umur 12 bulan Aldi sudah mulai makan makanan orang dewasa. Jenis makanan orang dewasa yang diberikan adalah nasi dalam bentuk bubur dan sayur sop wortel. Wortel adalah sayuran yang paling disukai Aldi dibandingkan jenis sayuran lainnya. Frekuensi makan Aldi dalam sehari biasanya adalah 3 kali per hari. Dilihat dari pemberian makan, ibu Supinah sudah cukup baik. Ibu Supinah masih perlu meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya makanan yang beranekaragam. Menurut Azwar (2002), konsumsi makanan sehari-hari kurang beranekaragam, maka akan timbul ketidakseimbangan antara masukan dan kebutuhan zat gizi yang diperlukan untuk hidup sehat dan produktif.

 

Data hasil wawancara kuesioner menunjukkan bahwa pola asuh makan ibu yang diberikan Ibu Supinah terhadap Aldi sudah cukup baik. Hal ini terlihat dari  pembiasaan sarapan pagi kepada Aldi baik itu berupa nasi dan lauk maupun jajanan berat. Selain itu memberikan makan kepada Aldi hingga berusaha untuk  menyuapinya walaupun  terkadang Aldi mau makan sendiri dengan pengawasan ibu atau anggota keluarga lain. Ibu Aldi juga biasa menyusun menu makanan sekaligus menentukan porsi makan untuknya. Setiap makanan yang diberikan oleh ibu, kadang-kadang Aldi mengkonsumsi sampai habis walaupun terkadang juga masih tersisa. Selama ini ibu Aldi tidak mengalami kesulitan dalam hal memberi makan kepada Aldi. Pola asuh makan yang baik dipengaruhi oleh beberapa hal salah satunya adalah pengetahuan dari ibu itu sendiri. Menurut Suhardjo (2005), dalam penyediaan makanan keluarga dalam hal ini dilakukan oleh seorang ibu, banyak yang tidak memanfaatkan bahan makanan yang bergizi, hal ini disebabkan salah satunya karena kurangnya pengetahuan akan bahan makanan yang bergizi. Semakin banyak pengetahuan gizinya, semakin diperhitungkan jenis dan jumlah makanan yang dipilih untuk dikonsumsinya.

  1. Sikap Ibu Terhadap Gizi

Berdasarkan hasil wawancara dengan kuesioner, diketahui bahwa ibu responden mempunyai sikap yang baik terhadap gizi balita. Ibu Supinah menyetujui bahwa salah satu cara untuk mengetahui kesehatan dan pertumbuhan anak adalah dengan menimbang balita dan hasil penimbangan (Berat Badan) balita sebaiknya dicatat pada Kartu Menuju Sehat (KMS/Buku KIA). Selain itu Ibu Supinah tidak menyetujui jika berat badan balita tetap dibanding hasil penimbangan bulan yang lalu berarti anak itu tetap sehat. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan ibu responden mengenai KMS sudah cukup baik. Bila grafik berat badan mengikuti grafik pertumbuhan pada KMS atau terjadi kenaikan berat badan dari bulan sebelumnya, artinya anak tumbuh baik, kecil resiko anak untuk mengalami gangguan pertumbuhan. Sebaliknya apabila grafik berat badan tidak sesuai dengan grafik pertumbuhan, anak kemungkinan berisiko mengalami gangguan pertumbuhan. (Kemenkes RI, 2010).

Ibu Supinah juga menyetujui bahwa ASI yang pertama kali keluar (kolostrum) sangat baik untuk bayi. Kolostrum adalah, cairan pelindung yang kaya akan zat anti infeksi dan berprotein tinggi yang keluar dari hari pertama sampai hari keempat atau ketujuh setelah melahirkan (Sidi, 2004). Selain itu, Ibu Supinah menyetujui apabali balita berumur 6 bulan, di samping ASI harus ditambahkan makanan lain dan sayuran hijau perlu dihidangkan sehari-hari karena mengandung vitamin A. Sayuran sebagai sumber vitamin dan mineral berfungsi menunjang metabolisme dalam tubuh Salah satunya adalah vitamin A yang merupakan  zat gizi mikro yang diperlukan oleh tubuh yang berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh (imunitas) dan kesehatan mata (Almatsier, 2005). Hal ini membuktikan bahwa sikap ibu responden terkait dengan gizi memang suadah sangat baik dan berbanding lurus dengan status gizi Aldi yang baik.

  1. Riwayat Kesehatan

Data hasil wawancara kuesioner riwayat kesehatan menunjukkan bahwa dalam waktu  seminggu terakhir terdapat anggota keluarga balita yang sakit yaitu ibu Supinah dan Bapak Darsun. Penyakit yang diderita adalah maagh dan hipertensi. Ibu Supinah mengatakan bahwa Aldi juga mengalami sakit influenza dengan gejala batuk pilek sekitar sebulan yang lalu. Dimungkinkan sebulan yang lalu status gizi Aldi kurang baik sehingga terkena penyakit ISPA, sedangkan sakit ibunya bukan penyakit menular sehingga dimungkinkan bukan karena tertular dari penyakit anggota keluarga lain.

 Notoatmodjo (2007) menyatakan bahwa menjaga status gizi yang baik, sebenarnya bisa juga mencegah atau terhindar dari penyakit terutama penyakit ISPA. Misal dengan mengkonsumsi makanan 4 sehat 5 sempurna dan memperbanyak minum air putih, olah raga yang teratur serta istirahat yang cukup. Saat pemeriksaan dilakukan kondisi Aldi sehat. Hal ini sesuai dengan hasil penilaian status gizi Aldi yang cukup baik. Kesadaran ibu dalam hal mencari pelayanan esehatan sudah cukup baik. Hal ini terlihat dari hasil wawancara bahwa Ibu segera memeriksakan Aldi ke dokter terdekat apabila Aldi mengalami sakit yang tidak bisa diiobati sendiri.

  1. Keterlibatan dalam Kegiatan Posyandu

Pengetahuan ibu responden tentang Posyandu sangat baik. Hal ini ditunjukkan dengan ibu responden selalu aktif mengikuti kegiatan Posyandu antara lain dengan aktif penimbangan, pemberian makanan tambahan, penyuluhan dan pencatatan KMS (Kartu Menuju Sehat) untuk mengetahui pertumbuhan responden sehingga pertumbuhan responden selalu terpantau. Ibu Supinah juga mengatakan bahwa ia mengetahui tentang manfaat menimbang balita, antara lain dapat mengetahui BB balita dan mengetahui kesehatan balita. Dengan demikian, keterlibatan ibu dalam kegiatan Posyandu juga mendukung peningkatan status gizi balita.

 

 

 

 


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. A.    Kesimpulan
  2. Pola asupan gizi untuk balita dalam praktikum ini cukup, karena konsumsi balita masih berada dalam pengawasan dan penjagaan dari ibu secara langsung. Hasil survei konsumsi pangan dengan metode recall sehari menunjukkan bahwa responden memiliki Tingkat Kecukupan Energi yang baik dan Tingkat Konsumsi Protein yang lebih. Hasil survei konsumsi pangan dengan metode food frequency secara kuantitatif menunjukkan bahwa gambaran pola konsumsi bahan makanan responden sudah cukup variatif, namun berlebihan dalam mengkonsumsi susu kedelai yang menyebabkan tingkat konsumsi protein berlebihan.
  3. Sikap ibu terhadap gizi sudah baik dapat dilihat dari skor sikap yang didapatkan, dan pengetahuann tentang pentingnya Posyandu tergolong baik pula. Hal ini pula yang dimungkinkan mempengaruhi pola asuhan makanan ibu terhadap balita tergolong baik, sehingga status gizi balita juga baik.
    1. B.     Saran
    2. Sebaiknya ada penghargaan bagi balita percontohan yang grafik KMSnya selalu naik dan bagi ibu yang selalu rutin ke posyandu dalam rangka memotivasi masyarakat agar partisipasi aktif masyarakat dalam setiap kegiatan posyandu terus meningkat.
  1. Status gizi balita yang bernama Aldi berdasarkan indeks gabungan adalah Gizi baik-normal (tidak akut/kronis) dengan Z-Skor BB/U adalah – 0,95, TB/U adalah – 0,4 dan , Z-Skor BB/TB adalah -1. Status gizi berdasarkan pemeriksaan Fisik- Klinis adalah gizi baik karena tidak ada tanda-tanda fisik malnutrisi.
  1. Sebaiknya mahasiswa lebih teliti dalam menilai status gizi bayi/balita di Posyandu agar data yang diperoleh dapat dijadikan dasar perencanaan intrervensi yang valid dan reliable
  2. Sebaiknya mahasiswa terus meningkatkan keterampilan dalam menilai status gizi agar mampu menilai status gizi bayi/balita dengan berbagai metode pengukuran secara benar dan akurat.
  3. Sebaiknya ibu bayi/balita di posyandu diberikan penyuluhan mengenai pentingnya makanan yang beragam dan konsumsi gizi seimbang beserta pembuatan menu seimbang untuk bayi/balita.

 

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. 2005. Prinsip Dasar Gizi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

 

Anggraeni R. dan  A. Indarti. 2010. Klasifikasi Status Gizi Balita Berdasarkan Indeks Antropometri (BB/U) Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan. Jurnal SNASTI.

 

Apriliaw. 2011. Alpha Carotine Dan Beta Carotine. http://dilihat.com/news/alpha-carotine-dan-beta-carotine/. Diakses tanggal 19 Desember 2013.

 

Arisman, 2004. Gizi dalam Daur Kehidupan. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

                                                                                                                       

Azwar A. 2002. Pedoman Umum Gizi Seimbang – Bebas Januari 2001. Bina Kesehatan Masyarakat. Jakarta.

 

Chamidah, A N. 2009. Deteksi Dini Gangguan Pertumbuhan dan Perkembangan Anak. Jurnal Pendidikan Khusus Vol 1 (3).

 

Damayanti, Dini Fitri. 2011. Analisis Peran Manajerial Pengurus Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dalam Pelaksanaan Program Peningkatan Pemberian ASI (PPASI) di Wilayah Kota Pontianak Tahun 2011. Masters thesis, Universitas Diponegoro. Semarang.

 

Dedeh. K., H. Hilman., Astuti, & I. Saeful. 2010. Sehat Dan Bugar Berkat Gizi Seimbang. PT Penerbit Sarana  Bobo. Jakarta.

 

Departemen Kesehatan RI. 2004. Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Depkes RI. Jakarta.

 

­­­­­­­______. 2006. Pedoman Umum Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-Asi) Lokal Tahun 2006. Depkes RI. Jakarta.

 

Fauzan , Effendy. 2012. Hubungan Status Gizi Dengan Tingkat Prestasi Belajar Pada Siswa Kelas X SMK Negeri 2 Indramayu. Thesis. Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta

 

Kemenkes RI. 2010. Peraturan Menteri Kesehatan RI Penggunaan Kartu Menuju Sehat (KMS) Bagi Balita. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat, Jakarta.

 

Keputusan Manteri Kesehatan RI, No. 1995 Tahun 2010 Standar Antropometri Penilaian Stattus Gizi Anak. 30 Desember 2010.  Menteri Kesehatan RI. Jakarta.

 

Masithah, Tita., Soekirman., dan D. Martianto. 2005. Hubungan Pola Asuh Makan dan Kesehatan dngan Status Gizi Anak Batita di Desa Mulya Harja. Media Gizi dan Keluarga 29 (2) : 29-39.

 

Nindyani V. 2012. Pengembangan Kemampuan Membilang Melalui Kegiatan Bermain Dengan Benda-Benda Konkrit Pada Anak-Anak Kelompok A TK Lembaga Tama III Sutran Sabdodadi Bantul Tahun Pelajaran 2011/2012. Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.

 

Notoatmodjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku Manusia. Rineka Cipta. Jakarta.

 

Nursalam. 2005. Ilmu kesehatan anak. Salemba Medika. Jakarta.

 

Octaviani, Ulfa., N. Juniarti., dan A.  Mardiyah. 2008. Hubungan Keaktifan Keluarga Dalam Kegiatan Posyandu Dengan Status Gizi Balita Di Desa Rancaekek Kulon Kecamatan Rancaekek. Hasil Penelitian.  Universitas Padjajaran. Bandung.

 

Peraturan Pemerintah RI No. 33 Tahun 2010 Air Susu Ibu Eksklusif.  Depkes RI. Jakarta.

 

Prasetio, Tomi., E. Martiana., dan N. R. Mubtada.. 2011. Aplikasi Untuk Diagnosa Gizi Pada Balita Serta Kandungan Kalori Yang Diperlukan Guna Mendapatkan Gizi Seimbang Menggunakan Metode Fuzzy Sugeno. Makalah Proyek Akhir. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Semarang.

 

Putri, Hanif P. 2011. Hubungan tingkat Pengetahuan Gizi dengan Asupan Gizi pada Bodybuilder. Artikel Penelitian. Universitas Diponegoro. Semarang.

 

Setiati, Ruruh. 2006. Hubungan Pengetahuan Sikap dan Praktek Pola Asuh Ibu dengan Status Gizi Anak Balita pada Keluarga Miskin Penerima DBLT Desa Kaligono Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo. Skripsi. Universitas Diponegoro. Semarang.

 

SIDI, I.P.S, Suradi, R., Masoara, S., Boedihardjo, dan S.D, Marmoto, W. 2004, Manfaat dan Keunggulan ASI. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi. Perkumpulan Perinatologi Indonesia. Jakarta.

 

Suhardjo. 2005. Perencanaan Pangan Dan Gizi. PT Bumi Aksara. Jakarta.

 

Supariasa I. D. N., B. Bakri., dan I. Fajar. 2001. Penilaian Status Gizi. EGC. Jakarta.

 

 

2 responses to “Penilaian Status Gizi Balita di Posyandu Dahlia Kelurahan Tanjung- Purwokerto Selatan

  1. selama siang ibu.. saya mau tanya, ibu dapat tabel 2.2 dari mana yah?saya mau pakai juga tabel seperti itu untuk TA saya..terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s