Penyakit Jantung koroner

TUGAS TERSTRUKTUR

MATA KULIAH EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR

 “PENYAKIT JANTUNG KORONER (PJK)”

 

Disusun oleh

Raditya W                             G1B009

Siska Fiany                            G1B011006

Winda Julita                          G1B011033

Yuditha Nindya K.R.             G1B011059

 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU- ILMU KESEHATAN

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT

2013

BAB I

PENDAHULUAN

Arus modernisasi yang berjalan cepat menyebabkan adanya perubahan pola hidup yang salah pada masyarakat. Seperti perubahan konsumsi makanan yang berlebihan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Konsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh dan kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, kurang gerak, konsumsi alkohol dan berbagai gaya hidup yang tidak sehat lainnya dapat menjadi faktor risiko berbagai penyakit jantung.

 
   

Ada beberapa jenis penyakit jantung yang disebabkan oleh perubahan gaya hidup salah satunya penyakit jantung iskemik.

Penyakit jantung iskemik merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan ketidakcukupan perfusi myocardial (otot jantung) yang disebabkan oleh berkurangnya suplai darah atau meningkatnya kebutuhan oksigen otot jantung, atau keduanya (Falk, et al, 2009). Penyakit jantung iskemik dibedakan menjadi dua, yaitu Stable Angina Secondary (SAS) atau biasa juga disebut dengan Coronary Heart Disease (CHD) dan Acute Coronary Syndrome (ACS). Acute Coronary Syndrome dibedakan lagi menjadi dua jenis, yaitu Acute Myocardial Infarction (AMI) dan Unstable Angina (UA). Penyakit jantung yang menjadi penyebab utama kematian di dunia adalah Coronary Heart Disease (CHD) atau dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan penyakit jantung koroner (PJK).

Penyakit jantung koroner (PJK) adalah penyakit jantung yang terutama disebabkan karena penyempitan atau penyumbatan arteri koronaria akibat proses aterosklerosis atau spasme atau kombinasi keduanya. Penyakit jantung koroner terjadi ketika terdapat plak pada arteri koroner yang berkembang sehingga mengurangi suplai oksigen ke dalam myocardium dan pada akhirnya mengakibatkan otot jantung rusak atau mati. Hal ini sering ditandai dengan keluhan nyeri dada (Texas Heart Institute, 1996).

Penyakit jantung koroner (PJK) menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, apalagi dengan adanya fasilitas diagnostik dan unit-unit perawatan penyakit jantung koroner intensif yang semakin tersebar merata. Berdasarkan data DALY penyakit jantung bertanggung jawab atas 10% kematian di negara dengan pendapatan menengah dan bawah serta 18% negara dengan pendapatan tinggi (Mackay dan George, 2004). Penyakit jantung koroner berkurang di beberapa negara berkembang, namun meningkat di negara-negara maju dan transisi, sebagian besar merupakan akibat dari meningkatnya usia lanjut, urbanisasi, dan perubahan gaya hidup. Risiko serangan jantung dapat berubah ketika orang bermigrasi. Sebagai contoh, orang di negara Jepang memiliki rasio penyakit jantung koroner yang rendah, namun ketika bermigrasi ke Amerika Serikat, orang Jepang telah ditemukan bila memiliki tingkat risiko yang meningkat. Hampir mendekati risiko orang yang lahir di AS (Mackay dan George, 2004).

 

 

BAB II

PERMASALAHAN

 

American Heart Association pada tahun 2004 memperkirakan prevalensi penyakit jantung koroner di Amerika Serikat sekitar 13.200.000. Angka kematian karena PJK di seluruh dunia tiap tahun didapatkan 50 juta, sedangkan di negara berkembang terdapat 39 juta. WHO pada tahun 2002 memperkirakan di seluruh dunia setiap tahunnya 3,8 juta pria dan 3,4 juta wanita meninggal karena PJK (World Health Organization, 2006).

Sekitar 600.000 orang meninggal karena penyakit jantung di Amerika Serikat setiap tahunnya dimana terdapat kasus 1 dari 4 kematian. Penyakit jantung menjadi penyebab kematian pria dan wanita. Lebih dari setengah dari kasus kematian yang disebabkan oleh penyakit jantung sepanjang tahun 2009 adalah pria (CDC, 2013).  Adapun wilayah yang memiliki rasio kematian tertinggi oleh penyakit jantung selama tahun 2006 adalah wilayah Mississippi dan rasio terendah adalah wilayah Minnesota.

Pada tahun 2010 diperkirakan lebih dari 79.000 (2,4%) orang dewasa berusia di atas 18 tahun di Republik Irlandia telah diketahui oleh seorang dokter dalam kurun waktu 12 bulan sebelumnya bahwa mereka mengidap penyakit jantung koroner (secara klinis terdiagnosis Penyakit Jantung Koroner). Secara klinis diagnosis PJK lebih sering ditemukan pada mereka yang lanjut usia. Pada tahun 2010 hampir 9% orang dewasa berusia 65 tahun atau lebih didiagnosis PJK secara klinis (Institute of Public Health Ireland, 2012).

Penyakit jantung koroner adalah jenis penyakit jantung yang paling sering ditemukan, dimana terdapat lebih dari 385.000 orang meninggal setiap tahunnya.  Penyakit jantung koroner sendiri dapat menghabiskan 108.9 juta U$D setiap tahunnya. Jumlah ini termasuk biaya pelayanan kesehatan, pengobatan, dan biaya produktivitas yang hilang.

 

 

 

 

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. Keluhan dan Gejala

Keluhan utama penderita PJK pria pada umumnya adalah sakit dada sebelah kiri , yang biasanya seperti ditusuk, diremas, tertindih barang berat dan sebagainya. Pada wanita keluhan utamanya biasanya berupa sesak nafas bila mengeluh sakit, karenanya lebih kearah perut atau punggung bawah atau pada rahang dan tenggorokan, kadang kadang dirasakan seperti masuk angin, mual-mual, dan kelelahan.

Gejala yang paling umum dari penyakit arteri koroner adalah angina (juga disebut angina pectoris). Angina sering disebut sebagai nyeri dada. Hal ini juga digambarkan sebagai ketidaknyamanan dada , berat , sesak , tekanan , sakit , terbakar , mati rasa , kepenuhan , atau meremas. Hal ini dapat keliru untuk pencernaan atau mulas. Angina biasanya dirasakan di dada , tetapi juga dapat dirasakan di bahu kiri , lengan , leher, punggung atau rahang . Gejala lainnya yang mungkin terjadi dengan penyakit arteri koroner termasuk : Sesak napas, Palpitasi (denyut jantung tidak teratur), detak jantung lebih cepat, pusing, mual, sangat lemah, dan berkeringat.

  1. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik

Tidak ada tes tunggal untuk mendiagnosa PJK . Dokter akan menanyakan tentang riwayat medis, riwayat keluarga  dan faktor risiko yang ada pada pasien yang bersangkutan dan melakukan pemeriksaan fisik dan beberapa tes.

  1. EKG atau ECG (electrocardiogram)

Tes ini digunakan untuk mengukur tingkat dan keteraturan Anda detak jantung. Sensitivitas EKG istirahat (bila dibandingkan dengan arteriografi koroner) sekitar 50% dan spesifisitas sekitar 70%. Perubahan EKG yang luas dikaitkan dengan prognosis yang buruk karena berhubungan dengan penyakit coroner yang berat dan difus.

  1. 2.      Echocardiogram

Tes ini menggunakan gelombang suara untuk melihat gambaran jantung. Gambar yang dihasilkan  lebih rinci dari gambar x – ray .

  1. Tes Latihan

Tes latihan treadmill penting dalam pemeriksaan penunjang pasien dengan nyeri dada.  Tes ini menunjukkan seberapa baik jantung dapat memompa pada beban kerja yang lebih tinggi ketika membutuhkan lebih banyak oksigen. EKG dan tekanan darah diambil sebelum, selama, dan setelah latihan untuk melihat bagaimana respon jantung saat berolahraga. EKG pertama dan pembacaan tekanan darah dilakukan untuk mendapatkan data dasar . Bagian latihan dihentikan jika nyeri dada atau kenaikan yang sangat tajam dalam darah tekanan terjadi.

  1. Ronsen dada

Ronsen dada berfungsi untuk mengambil gambar jantung dan paru-paru. Ronsen dada biasanya normal pada pasien dengan angina. Pembesaran jantung dan/ peningkatan tekanan vena dapat, menandakan adanya infarq miokard atau disfungsi ventrikel kiri sebelumnya.

  1. Kateterisasi jantung

Sebuah tabung tipis fleksibel dilewatkan melalui arteri di bagian atas kaki (pangkal paha) atau di lengan untuk mencapai arteri koroner. Pemeriksaan ini digunakan untuk memeriksa arteri dalam untuk melihat adanya penyumbatan pada pembuluh darah. Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan tekanan dan aliran darah dalam ruang jantung , mengumpulkan sampel darah dari jantung , dan memeriksa arteri jantung dengan x-ray .

  1. Skintigrafi radionuklida

Pencitraan radionuklida tidak selalu diperlukan dalam pemeriksaan rutin pasie angina, namun dapat berguna pada kelompok tertentu seperti pada pasien yang tidak mampu melakukan latihan.

  1. Arteriografi coroner

Arteriografi coroner saat ini merupakan satu-satunya metode yag menggambarkan anatomi coroner dengan akurat. Kebanyakan studi klinis bergantung pada demonstrasi anatomi coroner untuk menentukan prognosis, dan arteriografi merupakan suatu keharusan yang dibutuhkan sebelum CABG atau angioplasty coroner (Gray, 2005).

  1. Faktor Risiko

Faktor risiko merupakan kondisi atau keadaan adanya suatu penyakit yang dapat menyebabkan proses penyakit dapat timbul. Dengan demikian, siapa saja didalam dirinya mempunyai faktor risiko untuk menderita PJK semakin tinggi, mengingat faktor risiko PJK lebih dari satu maka semakin banyak seseorang mempunyai faktor risiko maka semakin tinggi pula kemungkinan terkena PJK.

–          Faktor risiko non – dimodifikasi (orang-orang yang tidak dapat diubah) meliputi:

  1. Jenis Kelamin

Risiko serangan jantung lebih besar pada pria dibandingkan pada wanita dan pria memiliki serangan jantung sebelumnya dalam hidup daripada wanita. Namun pada usia 70 dan seterusnya , pria dan wanita sama-sama berisiko.

  1. Usia lanjut

Penyakit arteri koroner adalah lebih mungkin terjadi seiring bertambahnya usia  terutama setelah usia 65 tahun.

  1. Riwayat keluarga penyakit jantung.

Jika orang tua memiliki penyakit jantung (terutama jika mereka didiagnosis dengan penyakit jantung sebelum usia 50) maka anaknya memiliki peningkatan risiko mengembangkan itu.

  1. Ras

Afrika Amerika memiliki lebih banyak tekanan darah tinggi berat dari bule dan karena itu memiliki risiko lebih tinggi penyakit jantung . Risiko penyakit jantung juga lebih tinggi di antara orang Amerika Meksiko , Indian Amerika, Hawaii asli dan beberapa Asia Amerika. Hal ini sebagian disebabkan oleh tingkat yang lebih tinggi obesitas dan diabetes pada populasi ini .

  1. Obesitas

Obesitas adalah kelebihan jumlah lemak tubuh >19% pada laki-laki dan > 21% pada perempuan. Obesitas sering didapatkan bersama-sama dengan hipertensi, DM dan hipertrigliserdemi. Obesitas juga dapat meningkatkan kadar kolesterol total dan LDL kolesterol. Risiko PJK akan jelas meningkat bila BB mulai melebihi 20% dari BB ideal. Penderita yang gemuk dengan kadar kolesterol yang tinggi dapat menurunkan kadar kolesterolnya dengan mengurangi BB melalui diet ataupun menambah olahraga.

  1. Diabetes

Penelitian menunjukkan laki-laki yang menderita DM risiko PJK 50% lebih tinggi daripada orang normal, sedangkan pada perempuan risikonya menjadi 2x lipat.

–          Faktor risiko yang dapat dimodifikasi (orang yang Anda dapat mengobati atau mengontrol) meliputi:AS

  1. Hipertensi

Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama untuk terjadinya PJK Penelitian di berbagai tempat di Indonesia (1978) mendapatkan prevalensi hipertensi untuk Indonesia berkisar antara 6-15%, sedangkan di negara-negara maju seperti misalnya Amerika National Health Survey menemukan frekuensi yang lebih tinggi yaitu mencapai 15-20%. Lebih kurang 60% penderita hipertensi tidak terdeteksi, 20% dapat diketahui tetapi tidak diobati atau tidak terkontrol dengan baik, sedangkan hanya 20% dapat diobati dengan baik.

  1. Hiperkolesterolemia

Hiperkolesterolemi merupakan masalah yang cukup penting karena termasuk salah satu faktor risiko utama PJK di samping hipertensi dan merokok. Di Amerika pada saat ini 50% orang dewasa didapatkan kadar kolesterolnya >200 mg/dl dan ± 25% dari orang dewasa umur >20 tahun dengan kadar kolesterol >240 mg/dl, sehingga risiko terhadap PJK akan meningkat. Kolesterol, lemak dan substansi lainnya dapat menyebabkan penebalan dinding pembuluh darah arteri, sehingga lumen dari pembuluh derah tersebut menyempit dan proses ini disebut aterosklerosis. Penyempitan pembuluh darah ini akan menyebabkan aliran darah menjadi lambat bahkan dapat tersumbat sehingga aliran darah pada pembuluh darah koroner yang fungsinya memberi O2 ke jantung menjadi berkurang. Kurangnya O2 akan menyebabkan otot jantung menjadi lemah, sakit dada, serangan jantung bahkan kematian.

  1. Merokok

Pada saat ini merokok telah dimasukkan sebagai salah satu faktor risiko utama PJK di samping hipetensi dan hiperkoiesterolemi. Orang yang merokok > 20 batang perhari dapat mempengaruhi atau memperkuat efek dua faktor utama risiko lainnya. Penelitian Framingham mendapatkan kematian mendadak akibat PJK pada laki-laki perokok 10x lebih besar daripada bukan perokok dan pada perempuan perokok 41/2X lebih besar daripada bukan perokok. Rokok dapat menyebabkan 25% kematian PJK pada laki-laki dan perempuan umur <65 tahun atau 80% kematian PJK pada laki-laki umur <45 tahun.

  1. Cara Pencegahan

Upaya Pencegahan Terhadap PJK dapat meliputi empat tingkat upaya :

  1. Pencegahan Pimordial

Upaya pencegahan munculnya factor predisposisi terhadap PJK dalam suatu wilayah dimana belum tampak adanya factor yang menjadi risiko PJK. Tujuannya adalah untuk menghindari terbentuknya pola hidup sosial ekonomi dan kultural yang mendorong peningkatan resiko penyakit.

  1. Pencegahan primer

Upaya awal pencegahan PJK sebelum seseorang menderita dilakukan dengan pendekatan komuniti berupa penyuluhan factor-faktor PJK terutama pada kelompok risiko tinggi. Pencegahan primer ditujukan kepada pencegahan terhadap berkembangnya proses atherosclerosis secara dini. Sehingga sasarannya adalah kelompok usia muda.

  1. Pencegahan sekunder

Upaya mencegah keadaan PJK yang sudah pernah terjadi untuk berulang atau menjadi lebih berat diperlukan perubahan pola hidup (terhadap factor-faktor yang dapat dikendalikan). Skrining juga termasuk dalam pencegahan sekunder yang bertujuan  agar kejadian PJK dapat dicegah lebih dan ditangani sejak dini. Menurut Buckley (2009), C-reaktif protein (CRP) adalah metode terbaik untuk digunakan dalam skrining dan yang paling ketat dipelajari (Buckley, et all, 2009). Skrining bisa dilakukan dengan memeriksa kadar kolesterol dan tekanan darah. Pencegahan sekunder juga mencakup kepatuhan berobat bagi mereka yang sudah menderita PJK. Pencegahan sekunder ini ditujukan untuk mempertahankan nilai prognostic yang lebih baik dan menurunkan mortalitas.

  1. Pencegahan Tersier

Tahap pencegahan ini merupakan upaya mencegah terjadi komplikasi yang lebih berat atau kematian. Pencegahan dalam tingkatan ini berupa rehabilitasi jantung. Program rehabilitasi jantung ditujukan kepada penderita PJK, atau pernah mengalami serangan jantung atau pasca operasi jantung.

  1. Cara Pengobatan dan Perawatan Penyakit

–          Terapi Penurunan Lipid

Statin (golongan obat resep untuk menurunkan tingkat kolesterol dalam darah) membatasi pembentukan kolesterol dan meningkatkan pembentukan kolesterol LDL. Terbukti secara subtansial statin dapat memberikan manfaat pada pasien dengan kondisi PJK. Meskipun juga dapat memberikan dampak merugikan yang serius seperti rhabdomyolysis jarang terjadi (kurang dari 0,1%) dan myalgia. Pengurangan kadar LDL sampai ke tingkat tertentu juga penting dilakukan. Analisis lanjutan menunjukkan bahwa pengurangan setidaknya 40 mg/dL (1,04 mmol per L) mampu menurunkan 23% kematian akibat penyakit jantung koroner yang terjadi selama 5 tahun terakhir.

Pengurangan kadar trigliserid dan peningkatan kadar kolesterol HDL juga harus dipertimbangkan dalam pengobatan penyakit jantung koroner. Meski begitu, intervensi sekunder ini dapat dilakukan setelah target penurunan kadar LDL sudah dicapai.

Asam nikotinik dapat ditambahkan dalam terapi statin ketika kadar HDL rendah atau kadar trigliserid melebihi target yang dicapai. Asam nikotinik mencegah pembentukan VLDL dan LDL, dan mengubah komposisi LDL untuk meningkatkan eliminasi LDL. Asam nikotinik juga meningkatkan kadar HDL 15 -30 %.

–          Beta Blockers

Merupakan agen antihipersensitif utama bagi pasien dengan penyakit jantung koroner, jika berfungsi baik, beta blockers juga dapat diindikasikan untuk pasien yang tidak memiliki hipertensi. Obat-obatan β1 and β2 reseptor adrenergic, menyebabkan penurunan rasio jantung, meningkatkan tekanan diastolik dan menurunkan kontraksi jantung.

Beta blocker juga bermanfaat bagi pasien dengan gejala anginal karena mereka menurunkan kebutuhan oksigen jantung. Ketika terjadi angina, pasien harus diistirahatkan  hingga rasio jantung 50 – 60 denyut per menit.

–          Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitors

Angitensin-Converting Enzyme Inhibitors (ACE) Inhibitors bisa dimanfaatkan oleh pasien PJK yang diikuti dengan MI, pasien dengan diabetes, atau pasien dengan disfungsi ventrikular kiri. Mereka juga harus mempertimbangkan perawatan bagi pasien hipertensi dengan penyakit jantung koroner yang sudah pernah diberikan terapi beta blockers. Agen ini memblokir  konversi angiotensin I menjadi angiotensin II, mengurangi vasokonstriksi dan resistensi pembuluh tepi dan mengurangi tekanan darah. ACE inhibitor juga memberikan manfaat bagi kardiovaskuler dengan mencegah dilatasi ventrikuler yang dapat  terjadi pada pasien dengan MI.

–          Calcium Channel Blockers

Merupakan alternatif pengobatan yang dapat digunakan apabila beta blocker tidak dapat ditoleransi, meskipun beta blocker jauh lebih efektif digunakan untuk mengurangi gejala angina dan mengembangkan toleransi aktivitas. Terdapat dua tingkatan Calcium Channel Blockers yaitu dihydropyridines  (contohnya amlodipine [Norvasc], nifedipine [Procardia], dan felodipine) dan nondihydropyridines (contohnya verapamil dan diltiazem [Cardizem]). Kedua kelompok ini menyebabkan vasodilatasi koroner, mengurangi kebutuhan oksigen otot jantung, meringankan gejala angina.

–          Nitrate

Nitrate dapat digunakan ketika pasien mengalami gejala angina berkelanjutan meskipun menggunakan pengobatan beta blockers, calcium channel blockers, atau kombinasi keduanya. Nitrat mengendurkan pembuluh otot halus dan utamanya menyebabkan venodilatasi, mengurangi pengisian sebelum dan mengurangi kebutuhan oksigen otot jantung. Nitrat tidak memainkan peran dalam perawatan hipertensi. Obat antihipertensive lain dan tingkatan-tingkatan obat, seperti hydralazine, aldosterone antagonists, dan diuretics, harus dipertimbangkan berdasarkan komorbiditas, seperti gagal jantung pada pasien dengan PJK.

–          Agen Antiplatelet

Terapi antiplatelet merupakan komponen penting dalam manajemen PJK karena agregasi platelet pada tempat plak atherothrombotic(lemak-lemak yang dapat membentuk thrombus sebagai komplikasi atherosclerosis) secara klinis dapat menghasilkan trombosit secara signifikan dan hasil reaksi MI. Antiplatelet yang sering digunakan di AS adalah aspirin dan clopidogrel (Plavix).

  1. Rehabilitasi

Program rehabilitasi jantung adalah suatu proses pemulihan dan penyembuhan seseorang yang mengalami kelainan jantung, ketingkat yang optimal baik secara phisik, mental, sosial dan vokasional. Terdapat 3 fase Rehabilitasi Jantung:

  1. Fase I adalah upaya yang segera dilakukan disaat pasien masih dalam masa perawatan, tujuan utama fase ini adalah mengurangi atau menghilangkan efek buruk dari ‘dekondisi’ akibat tirah baring lama, melakukan edukasi dini dan agar pasien mampu melakukan aktifitas hariannya secara mandiri dan aman.
  2. Fase II, yang dilakukan segera setelah pasien keluar dari RS, merupakan program intervensi untuk mengembalikan fungsi pasien seoptimal mungkin, segera mengontrol faktor risiko, edukasi dan konseling tambahan mengenai gaya hidup sehat.
  3. Fase III dan IV merupakan fase pemeliharaan, dimana diharapkan pasien tersebut telah mampu melakukan program rehabilitasi secara mandiri, aman, dan mempertahankan pola hidup sehat untuk selamanya, dibantu atau bersama-sama keluarga dan masyarakat sekitarnya.
  4. Prognosis

Prognosis penyakit jantung koroner akan sangat tergantung pada pada jumlah plak koroner, keparahan obstruksi, fungsi ventrikel kiri, dan adanya aritmia kompleks. Prognosis buruk jika penderita PJK telah mengalami gejala klinis berupa Infark miokard hingga terjadi mati mendadak akibat aritmia ventrikel. Prognosis baik jika fungsi ventrikel masih normal. Penderita dikatakan berisiko tinggi jika sudah terjadi kerusakan pada pangkal arteri coroner kiri.


 

BAB IV

PENUTUP

 

  1. Penyakit jantung koroner (PJK) adalah penyakit jantung yang terutama disebabkan karena penyempitan atau penyumbatan arteri koronaria akibat proses aterosklerosis atau spasme atau kombinasi keduanya.
  2. Penyakit jantung koroner adalah jenis penyakit jantung yang paling sering ditemukan, dimana terdapat lebih dari 385.000 orang meninggal setiap tahunnya.
  3. Keluhan utama penderita PJK pria pada umumnya adalah sakit dada sebelah kiri , yang biasanya seperti ditusuk, diremas, tertindih barang berat dan sebagainya. Gejala yang paling umum dari penyakit arteri koroner adalah angina (juga disebut angina pectoris). Hal ini juga digambarkan sebagai ketidaknyamanan dada , berat , sesak , tekanan , sakit , terbakar , mati rasa , kepenuhan , atau meremas.
  4. Pemeriksaan penunjang diagnostik bagi penderita penyakit jantung koroner antara lain EKG atau ECG (electrocardiogram), Echocardiogram, Tes Latihan, Ronsen dada, Kateterisasi jantung, Skintigrafi radionuklida, dan  Arteriografi coroner.
    1. Faktor risiko penyakit jantung koroner ada  dua, yaitu faktor risiko non-dimodifikasi (tidak dapat diubah) dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Faktor risiko non-dimodifikasi adalah jenis kelamin, usia lanjut, riwayat keluarga penyakit jantung, ras, obesitas, dan diabetes. Sedangkan faktor risiko yang dapat dimodifikasi di anaranya hipertensi, hiperkolesterolemia, dan merokok.
    2. Cara pencegahan terhadap penyakit jantung koroner dilakukan secara bertahap mulai dari pencegahan primordial, pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier.
    3. Beberapa terapi pengobatan dan perawatan yang dapat dilakukan bagi penderita penyakit jantung koroner antara lain terapi penurunan lipid, beta blockers, angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitors, calcium channel blockers, terapi nitrate, dan agen antiplatelet.
    4. Rehabilitasi penderita penyakit jantung koroner dilakukan sebagai proses pemulihan dan penyembuhan seseorang yang mengalami kelainan jantung, ketingkat yang optimal baik secara phisik, mental, sosial dan vokasional.
    5. Hasil terburuk dari angina pektoris adalah angina tidak stabil, infark miokard (MI), MI berulang, dan kematian mendadak akibat aritmia.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

American Heart Association. 2012. My Heart and Stroke News. Coronary Artery Disease-The ABCs of CAD.

Buckley David I, et all. 2009. C-Reactive Protein as a Risk Factor for Coronary Heart Disease: A Systematic Review and Meta-analyses for the U.S. Preventive Services Task Force. Journal Annals of Internal Medicine. Vol.151 No (7)

Falk, et al. 2009. Ischemic Heart Disease. London: Manson Publishing.

Gray H. H., et all. 2005. Lecture Notes on Cardiology Fourth Edition. Blackwell science Ltd.

Institute of Public Health in Ireland (2012). Coronary Heart Disease Briefing: Technical Documentation. Dublin: Institute of Public Health in Ireland. http://chronicconditions.thehealthwell.info/chd-method

Kochanek KD, et al. 2011. Deaths: Final Data for 2009. National Vital Statistics Reports. (3);60.

McKay, Judith dan George A. 2004. The Atlas of Heart Disease and Stroke. Geneva: World Health Organization.

Pflieger, et al. 2011. Medical Management of Stable Coronary Artery Disease. Journal of American Family Physician volume 83 number 7 ed. 1 April.

Stampfer Meir J, et all. 2000. Primary Prevention Of Coronary Heart Disease In Women Through Diet And Lifestyle. The New England Journal of Medicine.Vol. 343 No. (1)

Texas Heart Institute. 1996. “Coronary Artery Disease, Angina, and Heart Attacks.” New York: JohnWiley & Sons.

V. Luepker. Rusell. 2008. Heart Disease. USA: The McGraw Hill Companies, Inc.

World Health Organization. 2006. Deaths From Coronary Heart Disease. Diakses dari http://www.who.int/cardiovascular_diseases/cvd_14_deathHD.pdf

Zhou, Peng. 2012. Journal  of Cardiovascular Disease Research vol. 3 No. 4. Mumbai: Medknow Publications and Media Pvt, Ltd.

Website :

http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMra001529

http://www.who.int/en/

http://my.clevelandclinic.org/heart/disorders/cad/treatments.aspx

http://www.annfammed.org/content/8/4/327.abstract

http://www.cdc.gov/heartdisease/index.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s