kutu busuk (Cimex Hemipterus), kutu kepala (Pediculus humanus capitis), dan kutu kemaluan (phthirus pubis) beserta pengendaliannya

TUGAS TERSTRUKTUR
MATA KULIAH PENGENDALIAN VEKTOR EPIDEMIOLOGI

KUTU BUSUK, KUTU KEPALA DAN METODE PENGENDALIANNYA

Disusun Oleh:
Kelompok 5
Kelas B

Donna Pratiwi G1B010075
Siska Fiany G1B011006
Vasha Ramadhani G1B011080
Indah Cahyani G1B011021
Perdana Ady Wibawa G1B011083

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
PURWOKERTO
2014

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu masalah umum yang dihadapi dalam bidang kesehatan di Indonesia adalah jumlah penduduk yang besar dengan angka pertumbuhan yang cukup tinggi disertai tingkat pendidikan dan sosial ekonomi yang masih rendah. Keadaan ini dapat menyebabkan lingkungan fisik dan biologis yang tidak memadai sehingga memungkinkan berkembang biaknya vektor penyakit (Kemenkes, 2010). Binatang sebagai vektor penyakit tersebut, tidak hanya sebagai perantara penularan penyakit, melainkan juga dapat merugikan kehidupan manusia karena mengganggu secara langsung (Nurmaini, 2001).
Salah satu binatang yang berperan sebagai vektor penyakit yaitu kutu. Kutu merupakan serangga yang sangat mengganggu manusia karena selain menggigit, juga terdapat kutu yang menghisap darah. Jenis-jenis kutu yaitu kutu kepala, kutu badan, dan kutu kemaluan. Ketiga jenis kutu tersebut masing-masing akan menimbulkan gangguan seperti yang sering dijumpai yaitu kutu kepala atau Pediculus humanus capitis yang menimbulkan gatal-gatal dikepala.
Prevalensi dan insiden akibat kutu kepala ini cukup tinggi di dunia bahkan di Indonesia. Hal ini disebabkan karena telah terjadi resistensi dalam pengobatan serta menimbulkan efek samping bagi penderitanya (Sinaga, dkk, 2013). Permasalahan kutu ini mulanya banyak ditemukan pada penderita sering melakukan aktifitas tidur dan duduk, seperti didalam rumah, gedung pertunjukan, dan hotel. Saat ini permasalahan kutu mulai ditemukan di hotel berbintang, losmen asrama, dan sedikit di rumah tinggal (Ahmad, 2014).
Kutu busuk di Indonesia sampai akhir tahun 1970an masih banyak ditemukan di rumah tinggal, gedung bioskop, hotel, losmen dan lainnya tempat manusia tidur dan duduk. Namun pada kurun waktu tahun 1980an hingga 2000 permasalahan kutu busuk nyaris hilang. Lalu sejak 5 tahun yang lalu permasalahan kutu busuk ini muncul kembali, tidak hanya di Indonesia tetapi di negara-negara maju seperti New York AS, Kanada, Eropa dan Australia, Malaysia dan Singapura. Pada tahun 2007 dilaporkan bahwa telah terjadi outbreak (kejadian luar biasa) kutu busuk di 50 negara bagian di Amerika Serikat. Kebanyakan penelitian telah dilakukan di Asia, di negara Turki Prevalensi kurtu kepala bervariasi dari 0,7% menjadi 59 % dan lebih tinggi pada anak perempuan (Falagas et al., 2008).

Faktanya dengan adanya globalisasi, orang dan barang dapat dengan mudah berpindah dari satu tempat atau negara ke negara lainnya, akan berkontribusi terhadap penyebaran kutu tidak hanya di Indonesia melainkan juga di dunia (Ahmad, 2014). Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan upaya pengendalian penyebaran kutu agar menekan dalam timbulnya gangguan dan penyakit bagi manusia.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyebaran kutu salah satunya dengan menjaga dengan pemeliharaan kesehatan khususnya perilaku kesehatan untuk dirinya sendiri serta menjaga pemeliharaan kesehatan lingkungan (Putri, 2011). Upaya pengendalian lainnya ialah pengendalian dengan insektisida yang dapat digunakan didalam ruangan untuk benda-benda maupun insektisida yang dapat digunakan untuk kutu rambut.

B. Tujuan
1. Mengetahui karakteristik meliputi morfologi, siklus hidup, bionomik, dan pengendalian kutu busuk.
2. Mengetahui karakteristik meliputi morfologi, siklus hidup, bionomik, dan pengendalian kutu kepala.
3. Mengetahui karakteristik meliputi morfologi, siklus hidup, bionomik, dan pengendalian kutu kemaluan.
4. Mengetahuai peranan kutu terhadap kesehatan.

BAB II
ISI
Kutu adalah serangga yang mengganggu manusia karena menghisap darah. Kutu busuk berasal dari ordo Hemiptera (Cimicidae) salah satu spesiesnya adalah Cimex hemipterus. Kutu yang menyerang manusia yaitu ordo Anoplura. Ordo Anoplura memiliki tiga jenis kutu antara lain: kutu kepala (Pediculus humanus capitis), kutu badan (Pediculus humanus humanus), kutu kemaluan (Phtirus pubis). Kutu merupakan hewan ektoparasit yang bersifat kosmopolitan dan hanya parasit pada manusia (Kusumawati, 2011).

A. Cimex hemipterus
Cimex hemipterus atau kutu busuk (bedbug) tergolong ke dalam serangga penghisap darah yang amat mengganggu manusia yang dalam bahasa lokal dikenal dengan nama tinggi (bahasa Jawa), kepinding, tumbila (bahasa Sunda), atau bangsat. Kutu busuk ini umumnya berada di tempat tidur, kursi atau sofa.

1. Taksonomi
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Classis : Insecta
Ordo : Hemiptera
Sub Ordo : Heteroptera
Family : Cimicidae
Genus : Cimex
Spesies : Cimex hemipterus
(http://www.pestwest.com)

2. Morfologi

Gambar 2.1. Kutu busuk

Gambar 2.2. Nimfa ke-1 sampai ke-5

Gambar 2.3. Telur kutu busuk

Gambar 2.4. Kutu busuk dewasa jantan (kiri) dan betina (kanan)

a. Kutu busuk, tubuhnya berbentuk oval, gepeng dorsoventral, berukuran 4 -6 mm, dan berwarna coklat kekuningan atau coklat gelap.
b. Kepalanya mempunyai sepasang antena yang panjang, mata majemuk yang menonjol di lateral, dan alat mulut yang khas sebagai probosis yang dapat dilipat ke belakang di bawah kepala dan toraks bila tidak digunakan. Bila menghisap darah bagian mulut ini menjulur ke depan. Protoraks membesar dengan lekukan yang dalam di bagian depan tempat kepala menempel.
c. Sayapnya tidak berkembang (vestigial) dan abdomennya terdiri atas 9 ruas yang jelas. Seluruh tubuhnya tertutup oleh rambut-rambut kasar (seta) dan beberapa rambut halus.
d. Tibia kaki panjang dan tarsinya mempunyai 3 ruas. Yang dewasa mempunyai sepasang kelenjar bau di ventral toraks, dan yang muda mempunyai kelenjar serupa di dorsal abdomen.
e. Bagian mulut digunakan untuk menusuk dan menghisap. Labrumnya kecil dan tidak dapat digerakkan. Labium membentuk suatu tabung yang terdiri atas 4 ruas, dan mengandung stilet maksila dan mandibula yang berguna untuk menusuk dan mengisap.
f. Telurnya berwarna putih krem, panjangnya 1 mm dan mempunyai operculum.
g. Nimfa terlihat seperti yang dewasa tetapi lebih kecil (Dalil, 2009).

3. Distribusi
Kutu busuk merupakan parasit yang tersebar di seluruh dunia. Biasanya dapat ditemukan disekitar celah-celah rumah. Kutu busuk ini berkembang dalam kondisi suhu dan kelembaban yang nyaman bagi manusia, dan menyediakan makanan darah yang cukup baik untuk hidupnya dengan cara menghisap darah manusia (Harlan, 2006).
4. Siklus hidup

Gambar 2.5. Siklus hidup kutu busuk

Lingkaran hidup kutu busuk merupakan metamorfosis tidak sempurna, yaitu telur-nimfa-dewasa. Seekor betina mampu memproduksi sebanyak 150-200 butir telur selama hidupnya, dengan frekuensi bertelur setiap harinya 3-4 butir. Telurnya berwarna putih krem, panjangnya 1 mm dan mempunyai operkulum. Dalam waktu 3-14 hari pada suhu 23oC, telur akan menetas menjadi nimfa. Nimfa pertama akan berganti kulit menjadi nimfa ke-2,3, demikian seterusnya sampai nimfa kemudian berganti kulit lagi menjadi instar terakhir. Banyaknya pergantian kulit berbeda-beda tergantung jenis, makanan dan suhu. Rata-rata antara 5 sampai 6 kali. Laju perkembangan juga tergantung makanan dan suhu. Pada suhu yang sesuai, stadium dewasa dicapai dalam waktu 8-13 minggu setelah menetas. Lama hidup (longevity) dewasa panjang yaitu 6-12 bulan, dan dapat bertahan hidup tanpa makan selama 4 bulan.

5. Bionomik
a. Perilaku
Kutu busuk ini sering bersembunyi di celah-celah kursi kayu, rotan, di rumah-rumah, restoran, gedung bioskop, kasur di losmen, bahkan celah-celah kandang hewan dan unggas yang terbuat dari kayu atau bambu. Setelah mengisap darah biasanya kutu busuk ini akan bersembunyi di celah-celah tersebut selama beberapa hari, kemudian bertelur (Harlan, 2006).
Pemencaran kutu busuk dari satu tempat ke tempat lainnya ialah melalui baju yang dipakai orang, tas, atau peralatan kandang yang mengandung kutu busuk. Biasanya yang berpotensial sebagai sumber pemencaran dan yang bertanggung jawab dalam proses ini ialah kutu busuk betina yang sudah mengandung telur (gravid).
b. Tempat perindukan
Berdasarkan penelitian Sumanto (2010) Galar bambu yang dijadikan alas tidur bisa untuk bersarang dan berkembangbiak Cimex sp. Retakan bambu yang saling berhimpit inilah yang nampaknya disukai oleh serangga tersebut.
c. Kebiasaan makan
Kutu busuk ini aktif mengisap darah manusia dan hewan di malam hari. Tusukan bagian mulut kutu busuk ini sangat menyakitkan dan menimbulkan kegatalan serta bentol-bentol yang cukup mengganggu (Harlan, 2006).

6. Pengendalian
Apabila ditemukan adanya kutu busuk di suatu kamar atau tempat tidur dan furnitur lainnya, maka barang-barang tersebut harus diisolasi atau dikeluarkan. Kutu busuk sangat rentan terhadap kelembaban yang tinggi dan suhu 44-45oC. Oleh karena itu banyak orang memberantas kutu busuk ini dengan menyiram air panas pada tempat persembunyian kutu busuk atau menjemur kasur, tempat tidur atau perabotan rumah lain yang terinfestasi kutu busuk di bawah terik matahari selama beberapa jam (sekitar 4 jam).
Ketika harus menggunakan insektisida, gunakan insektisida yang banyak dijual di pasar dengan hati-hati, ikuti aturan yang tertera pada label, dan ulang penggunaanya sampai semua telur yang menetas ikut mati. Biasanya insektisida hanya membunuh kutu busuk stadium nimfa dan dewasa, sedangkan telurnya cukup tahan, oleh karena itu tunggu sampai menetas, baru dilakukan penyemprotan ulang.
Pada dasarnya infestasi kutu busuk erat kaitannya dengan kondisi lingkungan dan sanitasi yang buruk. Oleh karena itu upaya-upaya menjaga kebersihan lingkungan, ventilasi yang cukup, adalah cara pencegahan yang murah agar terhindar dari serangan kutu busuk.

B. Pediculus humanus capitis
Pediculus humanus capitis disebut juga kutu kepala yang merupakan ektoparasit yang menginfeksi manusia, termasuk dalam family pediculidae yang penularannya melalui kontak langsung dan dengan perantara barang-barang yang dipakai bersama-sama. Misalnya: sisir, sikat rambut, topi, syal, handuk, selimut dan lain-lain (Weems and Fasulo, 2013).
1. Taxonomi
Phylum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Phthiraptera
Sub Ordo : Anoplura
Famili : Pediculidae
Genus : Pediculus
Spesies : Pediculus humanus capitis
(Soedarto, 1990, dalam Wijayanti, 2007).
2. Morfologi
a. Kutu Rambut Dewasa
Kutu kepala dewasa mempunyai panjang sekitar 2 sampai 3 mm (ukuran biji wijen), memiliki 6 kaki. Kutu rambut dewasa berbentuk pipih dan memanjang, berwarna putih abu-abu, kepala ovoid bersudut, abdomen terdiri dari 9 ruas, Thorax dari khitir seomennya bersatu. Pada kepala tampak sepasang mata sederhana disebelah lateral, sepasang antena pendek yang terdiri atas 5 ruas dan probosis, alat penusuk yang dapat memanjang. Tiap ruas thorax yang telah bersatu mempunyai sepasang kaki kuat yang terdiri dari 5 ruas dan berakhir sebagai satu sapit menyerupai kait yang berhadapan dengan tonjolan tibia untuk berpegangan erat pada rambut (Wijayanti, 2007).
Kutu rambut jantan berukuran 2mm, alat kelamin berbentuk seperti huruf “V”. Sedangkan kutu rambut betina berukuran 3mm, alat kelamin berbentuk seperti huruf “V” terbalik. Pada ruas abdomen terakhir mempunyai lubang kelamin di tengah bagian dorsal dan 2 tonjolan genital di bagian lateral yang memegang rambut selama melekatkan telur (Wijayanti, 2007). Kutu betina dapat hidup antara 3 sampai 4 minggu dan setelah bisa berbaring hingga 10 telur per hari. Ini telur kecil yang melekat erat pada pangkal rambut poros yang berjarak ± 4mm dari kulit kepala dengan zat seperti lem yang diproduksi oleh kutu (Frakowski et al, 2010). Jumlah telur yang diletakkan selama hidupnya diperkirakan 140 butir (Wijayanti, 2007).

Gambar 2.6. Morfologi Kutu kepala dewasa
(Sumber: Anonim, 2004)
Keterangan Gambar
A. Antena
B. Kuku tarsus
C. Mata
D. Forns
E. Tibia
F. Torax
G. Spirakle
H. Segmen Abdomen
I. Lempeng pleural dengan spirakle abdomen

Gambar 2.7. Kutu kepala jantan dan betina
(Sumber: Anonim, 2004)

b. Nimfa

Gambar 2.8. Nimfa kutu kepala
(Sumber: : http://www.cdc.gov/, 2013)
Nimfa berbentuk seperti kutu rambut dewasa, hanya bentuknya lebih kecil.
c. Telur
Telur berwarna putih mempunyai operculum 0,6-0,8 mm disebut nits. Bentuknya lonjong dan memiliki perekat, sehingga dapat melekat erat pada rambut. Warna telur terlihat samar dan mirip dengan warna rambut dan mudah dilihat pada bagian posterior. Telur yang kosong ( nits ) lebih mudah dilihat karena tampak putih diantara rambut yang gelap. Beberapa ahli menyebut nits lebih menunjuk pada telur yang kosong. Telur diinkubasi oleh panas tubuh dan biasanya menetas dalam 8 sampai 9 hari , tapi bisa menetas antara 7 sampai 12 hari tergantung pada udara sekitar panas atau dingin. Daerah favorit tempat melekatnya telur adalah di dekat telinga dan bagian belakang kepala (Sutanto dkk, 2008). Telur kutu tubuh selain diletakkan pada serat pakaian dan kadang-kadang pada rambut tubuh manusia .

Gambar 2.9. Telur kutu kepala
(Sumber: Weems dan Fasulo, 2013)
3. Penyebaran atau distribusi
Kutu rambut merupakan parasit manusia saja dan tersebar di seluruh dunia. Biasanya menyerang anak usia pra sekolah dan anak usia sekolah. Akibatnya, kutu kepala yang paling umum menginfestasi kalangan anak-anak. Apabila seseorang penuh dengan kutu, ada kemungkinan bahwa seluruh keluarga akan tertular. Di Amerika serikat, orang yang menyikat rambut secara rutin memiliki kutu yang jumlahnya tidak lebih dari 12, akan tetapi pada individu yang budaya perawatan yang berbeda sering meiliki seratus atau lebih kutu hidup. Infestasi kutu manusia, yang disebut pediculosis, dapat menyebar cepat dan dapat mencapai proporsi epidemi jika dibiarkan. Pada sekelompok orang, faktor-faktor seperti usia, ras (Misalnya: Afrika-Amerika yang rarelyinfested dengan kutu kepala, jenis kelamin, berkerumun di rumah, ukuran keluarga, dan metode pakaian closeting mempengaruhi kursus dan distribusi penyakit (Weems dan Fasulo, 2013).

4. Siklus Hidup

Gambar 2.10. Siklus Hidup Kutu Kepala
(Sumber: Departement of Health, victoria, Australia, 2011)
Lingkaran hidup kutu rambut merupakan metamorfosis tidak lengkap, yaitu telur-nimfa-dewasa. Telur akan menetas menjadi nimfa dalam waktu 5-10 hari sesudah dikeluarkan oleh induk kutu rambut. Sesudah mengalami 3 kali pergantian kulit, nimfa akan berubah menjadi kutu rambut dewasa dalam waktu 7-14 hari (Wijayanti, 2007). Dalam keadaan cukup makanan kutu rambut dewasa dapat hidup 27 hari lamanya (Sutanto dkk, 2008).
5. Bionomik
a. Perilaku
Kutu tidak bisa melompat atau terbang, tetapi dapat merangkak. Terdapat laporan bahwa menyisir rambut kering dapat lebih mengeluarkan kutu dewasa dari kulit kepala. Kutu rambut kepala dapat bergerak dengan cepat dan mudah berpindah dari satu hospes ke hospes lain. Penelitian mengungkapkan bahwa kutu dapat berpindah antar sarung bantal pada malam hari , tetapi insiden rendah (4%) (Weems dan Fasulo, 2013).
Kutu rambut ini dapat bertahan 10 hari pada suhu 5oC tanpa makan, dapat menghisap darah untuk waktu yang lama, mati pada suhu 40OC. Panas yang lembab pada suhu 60oC memusnahkan telur dalam waktu 15-30 menit. Kutu rambut kepala mudah ditularkan melalui kontak langsung atau dengan perantara barang-barang yang dipakai bersama-sama. Misalnya sisir, sikat rambut, topi dan lain-lain (Wijayanti, 2007).
b. Tempat perindukan
Tempat-tempat yang disukainya adalah rambut pada bagian belakang kepala. Telur dari kutu ini lebih mudah ditemukan terutama pada tengkuk dan bagian belakang kepala. Pada infeksi berat, helaian rambut akan melekat satu dengan yang lainnya dan mengeras, dapat ditemukan banyak kutu rambut dewasa, telur (nits) dan eksudat nanah yang berasal dari gigitan yang meradang. Infeksi mudah terjadi dengan kontak langsung. Pencegahan dilakukan dengan menjaga kebersihan kepala (Wijayanti, 2007).
c. Kebiasaan makan
Kutu dewasa dan nympha mendapatkan makanannya dengan menghisap darah manusia. Kutu makan dengan cara menggigit melalui kulit dan menyuntikkan air liur untuk mencegah darah dari pembekuan, kemudian mengisap darah ke saluran pencernaan. Penghisapan darah dapat terjadi dalam jangka waktu lama jika kutu tersebut tidak terganggu. Sementara itu, ketika makan kutu dapat mengeluarkan kotoran berwarna merah gelap pada kulit (Weems dan Fasulo, 2013).
Lesi pada kulit kepala disebabkan oleh tusukan kutu rambut pada waktu menghisap darah. Lesi sering ditemukan di belakang kepala atau kuduk. Air liur yang merangsang menimbulkan papula merah dan rasa gatal yang hebat. Diagnosis ditegakkan jika terdapat rasa gatal-gatal yang hebat dengan bekas-bekas garukan dan dipastikan jika ditemukan Pediculus humanus capitis dewasa, nimfa dan telurnya (Wijayanti, 2007).
6. Pengendalian
Pemberantasan kutu rambut kepala dapat dilakukan dengan menggunakan tangan, sisir serit atau dengan pemakaian insektisida golongan klorin (Benzen heksa klorida).
Beberapa pengendalian yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Hindari head-to -head (hair -to – hair) kontak selama bermain dan kegiatan lain di rumah, sekolah, dan di tempat lain (olahraga, taman bermain, pesta tidur, berkemah).
2) Tidak berbagi pakaian seperti topi, syal, mantel, seragam olahraga, pita rambut, atau jepit rambut.
3) Tidak berbagi sisir, sikat, atau handuk. Sisir dan sikat disinfeksi digunakan oleh orang yang penuh dengan merendam dalam air panas (setidaknya 40°C) selama 5-10 menit.
4) Jangan berbaring di tempat tidur, sofa, bantal, karpet, atau boneka binatang yang baru-baru ini telah melakukan kontak dengan orang yang tejangkit kutu (http://www.cdc.gov/, 2013).
5) Meningkatkan hygiene personal seperti sering mengganti dan membersihkan pakaian, topi, dan sarung bantal.
6) Meningkatkan kesadaran tentang pentingnya perawatan badan dan rambut perlu ditanamkan baik kepada orang tua maupun para anak-anak (siswa) sendiri.
7) Ketika salah sartu anggota keluarga diketahui terkena kutu kepala maka dianjurkan untuk memeriksa keberadaan kutu pada anggota keluarga yang lain.
8) Pengobatan juga harus dilakukan jika seseorang sudah terjangkit yang ditandai dengan rasa gatal-gatal di kepala. Weems dan Fasulo (2013)
Macam-macam obat untuk Pediculus humanus capitis (Kutu rambut):
1) Shampo Lindane 1%. Gamma benzene heksa klorid atau piretrin. Dosis, shampo rambut biarkan 4-10 menit, kemudian dibilas piretrin. Pakai sampai rambut menjadi basah, biarkan 10 menit kemudian dibilas. (Tindak lanjut periksa rambut 1 minggu setelah pengobatan untuk telur dan kutu rambut).
2) Salep Lindane (BHC 10%) ; atau bedak DDT 10% atau BHC 1% dalam pyrophylite; atau Benzaos benzylicus emulsion. Dosis, kepala dapat digosok dengan salep Lindane (BHC 1%) atau dibedaki dengan DDT 10% atau BHC 1% dalam pyrophlite atau baik dengan penggunaan 3–5 gram dari campuran tersebut untuk sekali pemakaian. Bedak itu dibiarkan selama seminggu pada rambut, lalu rambut dicuci dan disisir untuk melepaskan telur. Emulsi dari benzyl benzoate ternyata juga berhasil.
3) Cair / Peditox / Hexachlorocyclohexane 0,5%. Dosis, digosokkan pada rambut dan kepala sampai merata biarkan semalam kemudian dicuci lalu dikeringkan (Wijayanti, 2007).

C. Phthirus pubis
Phthirus pubis adalah serangga dari ordo Phthiraptera dan merupakan ektoparasit yang hostnya adalah manusia (CDC, 2013). Kutu kemaluan menginfeksi daerah rambut kemaluan dan bertelur. Kutu ini juga dapat ditemukan di ketiak rambut dan alis (Berman, 2014).

1. Taksonomi
Phylum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Phthiraptera
Sub Ordo : Anoplura
Famili : Pthiridae
Genus : Phthirus
Species : Phthirus pubis
(Robinson, 2005)

2. Morfologi Phthirus pubis
a. Telur
Telur Phthirus pubis berwarna putih kekuningan, memiliki panjang sekitar 1 mm dan melekat kuat pada rambut atau pakaian. Beberapa telur dapat melekat pada sehelai rambut. Betina meletakkan sekitar tiga telur per hari, dan kesuburan pada 26-30 telur. Penetasan terjadi dalam 6-8 hari, dan pertumbuhan membutuhkan waktu 13-17 hari pada suhu kulit normal (Robinson, 2005).

Gambar 2.11. Telur (nit) Phthirus pubis
(Sumber: http://www.cdc.gov/dpdx/phthiriasis/gallery.html#nits)

b. Nimfa
Nimfa menyerupai dewasa, tetapi lebih kecil. Tahap ketiga pada nimfa jantan memiliki panjang 1,3-1,4 mm dan biasanya dengan dua tuberkel lateral. Tahap ketiga nimfa betina memiliki panjang 1,0-1,5 mm panjang dan biasanya dengan empat tuberkel lateral (Robinson, 2005).

Gambar 2.12. Nimfa Phthirus pubis
(Sumber: http://www.cdc.gov/dpdx/phthiriasis/gallery.html#adults)
c. Dewasa
Phthirus pubis berbentuk pipih dorsoventral, bilateral simetris, tidak bersayap. Bentuk mulut tipe menusuk dan menghisap. Mempunyai spirakel di bagian dorso ventral. Ada yang berpleural plate ada yang tidak. Metamorfosis tidak lengkap, terjadi perubahan dari telur, nimfa, akhirnya menjadi dewasa.
Kepala Phthirus pubis terdapat clupeus, frons, letaknya antara antena dan mata, sepasang mata faset (jelas terlihat), sepasang antena yang bersegmen empat buah dan haustellum, terdapat labrum, epifaring, dan prestomal teeth.
Thorax pada Phthirus 1 pasang scpirakel dan 3 pasang kaki kuat dengan claw (cengkram). Segmen thorax tidak terlihat jelas pada Phthirus, terdiri atas prothorax, mesothorax dan metathorax. Kaki terdiri atas: coxa, trochanter, femur, tibia tumb, tarsus, tarsal claw (kuku).
Abdomen Phthirus pada tiap segmen terdapat pleural plate, di bagian dorso lateral terdapat abdominal spirakel dan tranverse band. Segmen abdominal ada 9 buah. Pada hewan jantan segmen terakhir ada adeagus dan bentuknya asimetris, sedangkan pada betina terdapat gonopodia, simetris. Segmen ke 3-5 bersatu dan pada segmen tersebut terdapat 3 pasang spirakel yang bersatu dalam satu segmen. Pada segmen ke 6-8 hanya terdapat 1 pasang spirakel saja pada tiap segmen. Pada segmen ke 1 dan 2 menghilang. Segmen ke 9 yaitu alat kelamin (Natadisastra, 2009).

Gambar: 2.13. Phthirus pubis dewasa jantan
(Sumber: http://www.cdc.gov/dpdx/phthiriasis/gallery.html#adults)

Gambar 2.14. Phthirus pubis dewasa betina
(Sumber: http://www.cdc.gov/dpdx/phthiriasis/gallery.html#adults)

3. Distribusi atau Penyebaran
Di seluruh dunia, termasuk semua negara-negara maju. Meskipun Phthirus pubis terjadi di Eropa, Asia, Afrika, Amerika Utara dan Australia, dan ditemukan pada negro serta kulit putih. Phthirus pubis kurang sering terjadi pada pria daripada Pediculus dan tampaknya parasit terutama pada orang-orang yang memimpin kehidupan seksual yang aktif. Sejauh ini, telah dua kali direkam pada host selain manusia, yaitu anjing (Nuttall, 2009).

4. Siklus Hidup

Gambar 2.15. Siklus hidup Phthirus pubis
(Sumber: http://www.cdc.gov/dpdx/phthiriasis/)

Kutu kemaluan (Phthirus pubis) memiliki tiga tahap: telur, nimfa dan dewasa. Telur (nits) diletakkan pada batang rambut (1). Betina akan meletakkan sekitar 30 telur selama masa hidup 3-4 minggu. Telur menetas setelah sekitar satu minggu dan menjadi nimfa, yang terlihat seperti versi yang lebih kecil dari orang dewasa. Nimfa menjalani tiga tahap (2,3,4) sebelum menjadi dewasa (5). Dewasa memiliki panjang 1,5-2,0 mm dan pipih. Mereka jauh lebih luas dibandingkan dengan kepala dan tubuh kutu. Orang dewasa hanya ditemukan pada host manusia dan membutuhkan darah manusia untuk bertahan hidup. Jika orang dewasa terpaksa off tuan rumah, mereka akan mati dalam waktu 24-48 jam tanpa makan darah. Kutu kemaluan ditularkan dari orang ke orang yang paling sering-melalui kontak seksual, meskipun fomites (tempat tidur, pakaian) mungkin memainkan peran kecil dalam transmisi mereka (CDC, 2013).

5. Bionomik
a. Perilaku
Phthirus pubis biasanya berada pada daerah kemaluan dan perianal, sering menyebar ke atas perut dan payudara, dan dapat menduduki aksila, atau mungkin menyebar ke bawah di sepanjang paha. Kepala jarang dipenuhi oleh Pthirus pubis karena kurang cocok sebagai habitat karena kulit kepala-rambut yang ramai dekat bersama-sama dan lebih halus dari pada pubis dan pada aksila. Jangkauan antara dua kaki belakang-pasang serangga dewasa adalah sekitar 2 mm. Kaki ini digunakan untuk menangkap rambut. Rambut tersebut, dan tidak diragukan lagi tahap kadang aktif kutu adalah gudang pakaian, tempat tidur, kursi dari jamban, dll, dan mudah menjadi terjerat dengan rambut kemaluan atau dari orang-orang bersih yang mungkin datang dalam kontak dengan itu. Sebuah kutu terpisah segera menempel setiap rambut dengan yang terjadi kontak. Oleh karena itu, sementara Phthirus umumnya disampaikan secara langsung, hal itu juga dapat diperoleh secara tidak langsung. Ini adalah makhluk tak berdaya ketika dihapus dari rambut yang menempel terus menerus pada tubuh, dimana ia bergerak sekitar dengan berpindah dari rambut ke rambut karena itu jauh lebih mungkin untuk disampaikan secara pasif dari host ke host.
Larva unfed muda biasanya mati dalam waktu sepuluh jam dari munculnya. Ketika dihapus dari manusia, mereka bertahan lebih lama di 16-20° C dibandingkan pada 30° C dan mati lebih cepat di tempat yang kering daripada dalam suasana lembab, tidak ada banyak kutu semua tahapan yang diuji ditemukan bertahan hingga 42 ½ jam, bila dipertahankan di bawah kondisi yang berbeda. Hidup di manusia laki-laki selamat 22 hari, 17 hari perempuan (Nuttal, 2009).

b. Tempat perindukan
Menurut Brown (2006) telur (nits) Phthirus pubis cukup besar bila dilihat tanpa menggunakan mikroskop. Mereka hidup dan berkembang biak dimana ada rambut kasar, seperti bagian tubuh berikut:
1) Alat kelamin
2) Ketiak
3) Dada
4) Jenggot
5) Bulu mata
6) Alis
c. Kebiasaan makan
Phthirus pubis memakan darah. Infestasi biasanya rambut pada daerah kemaluan dan perineum, tetapi mungkin pindah ke ketiak, janggut, kumis atau alis. Ini jarang terjadi pada kelopak mata dan dalam beberapa kasus telah ditemukan di semua tahapan pada kulit kepala individu yang luar biasa berbulu. Phthirus pubis relatif tidak bergerak ketika pada host, yang tersisa melekat dan makan selama berjam-jam atau berhari-hari pada satu tempat tanpa menghapus bagian mulutnya dari kulit (Weems, 2013).

6. Pengendalian
a. Perawatan
1) Cuci semua pakaian dan selimut dalam air panas.
2) Barang yang tidak dapat dicuci dapat disemprot dengan semprotan obat yang dapat dibeli di toko. Dapat juga menyegel barang dalam kantong plastik untuk 10-14 hari untuk meredakan kutu.
3) Membuat yakin dengan siapa anda memiliki kontak seksual atau berbagi tempat tidur dan diobati pada saat yang sama.
4) Orang dengan kutu kemaluan harus diperiksa untuk infeksi menular seksual lain ketika kutu ditemukan.

b. Pengobatan
Pengobatan kutu kemaluan yang terbaik diobati dengan menggunakan bahan yang mengandung permethrin, seperti Elimite atau Kwell:
1) Usapkan sampo ke rambut kemaluan yang kering dan sekitarnya selama 5 menit.
2) Bilas dengan baik.
3) Sisir rambut kemaluan dengan sisir bergigi halus untuk menghilangkan telur (nits). Menerapkan cuka untuk rambut kemaluan sebelum menyisir dapat membantu melonggarkan nits.
4) Kebanyakan orang hanya perlu 1 pengobatan. Jika pengobatan kedua diperlukan, hal itu harus dilakukan 4 hari sampai 1 minggu kemudian.
5) Menggunakan obat-obatan untuk mengobati kutu meliputi sembuh dan Nix. Lotion malathione adalah pilihan lain (Berman, 2014).

D. Peranan kutu terhadap kesehatan
Penyakit-penyakit yang ditularkan oleh tuma adalah sebagai berikut:
1. Epidemic Typhus
Penyakit yang disebut juga degan istilah typhus fever ini, disebabkan oleh Rickettsia prowazeki. Infeksi pada manusia terjadi karena adanya kontaminasi luka gigitan tuma atau kulit yang lecet dengan tinja tuma atau koyakan badan tuma yang infektif. Angka kematian akibat penyakit ini umumnya rendah pada anak-anak berusia dibawah 15 tahun, tetapi dapat mencapai 100% pada orang-orang berusia lanjut. Dalam penularan penyakit ini, manusia merupakan sumber penularan (asymptomatic carrier).
2. Epidemic Relapsing Fever
Penyakit yang disebabkan oleh Borrelia recurrentis ini dapat menimbulkan kematian antara 2 sampai 50%. Infeksi terjadi oleh karena terjadinya kontaminasi luka gigitan atau luka lecet dengan badan dari tuma yang terkoyak. Sekali Pedicululus humanus corporis mendapatkan infeksi dengan Borellia, ia akan tetap infektif seumur hidupnya.

3. Trench Fever
Penyebab penyakit ini adalah Rickettsia quintana. Tuma akan tetap infektif seumur hidupnya setelah terinfeksi dengan Rickettsia quintana ini. Infeksi pada manusia dapat terjadi oleh kerena gigitan tuma yang infektif atau oleh karena kontaminasi kulit penderita tuma yang lecet dengan tinja tuma yang infektif (Hadi, 2001).

BAB III
KESIMPULAN
1. Cimex hemipterus atau kutu busuk (bed bug) tergolong ke dalam serangga penghisap darah yang amat mengganggu manusia. Kutu busuk ini umumnya berada di tempat tidur, kursi atau sofa. Pencegahan dan pengendalian Cimex hemipterus dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan, penggunaan isektisida, dan penyiraman menggunakan air panas atau menjemur benda-benda yang dianggap terdapat Cimex hemipterus.
2. Pediculus humanus capitis disebut juga kutu kepala yang merupakan ektoparasit yang menginfeksi manusia. Penularannya melalui kontak langsung dan dengan perantara barang-barang yang dipakai bersama-sama. Pemberantasan kutu rambut kepala dapat dilakukan dengan menggunakan tangan, sisir serit atau dengan pemakaian insektisida golongan klorin (Benzen heksa klorida).
3. Phthirus pubis adalah serangga dari ordo Phthiraptera dan merupakan ektoparasit yang hostnya adalah manusia. Kutu kemaluan menginfeksi daerah rambut kemaluan dan bertelur. Kutu ini juga dapat ditemukan di ketiak rambut dan alis. Pengendalian dapat dilakukan dengan perawatan seperti mencuci semua pakaian dan selimut dengan air panas, memperhatikan kontak seksual, segera periksa ke pelayanan kesehatan jika kutu ditemukan atau pengobatan menggunakan bahan yang mengandung permethrin, seperti Elimite atau Kwell.
4. Peranan kutu terhadapa kesehatan yaitu kutu badan dapat menularkan beberapa penyakit seperti Typhus Fever, epidemic relapsing fever dan trench fever.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Intan. 2014. Fakta tentang kutu bususk (bed bux), Cimex hemipterus dan (Hemipte:Cimicideae) dan Cara Pengendaliannya. ITB. Bandung.

Anonim, 2004. Teori Parasitologi. Semarang: Akademi Analisis Kesehatan. Universitas Muhamadiyah Semarang.

Berman, K. 2014. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/ 000841.htm. Diakses pada tanggal 7 April 2014.

Brown, W., K., 2006. Pubic Lice. http://www.williamgladdenfoundation.org /images/Image/user/publiclice.doc. Diakses pada tanggal 8 April 2014.

CDC (Centers for Disease Control and Prevention). 2013. Bed Bugs, Cimex hemipterus. http://www.cdc.gov/dpdx/bedbugs/index.html. Diakses pada tanggal 7 April 2014.

CDC (Centers for Disease Control and Prevention ). 2013. Phthiriasis (Phthirus pubis). http://www.cdc.gov/dpdx/ phthiriasis/. Diakses pada tanggal 31 Maret 2014.

CDC. 2013. Parasites – Lice – Head Lice. http://www.cdc.gov. Diakses tanggal 29 Maret 2014.

Dalil, Syaiful Fahmi. 2009. Infeksi Menular Seksual . Balai Penerbit FKUI.Waluyo : Jakarta.

Departement of Health, victoria, Australia. 2011. Treating and controlling head lice. http://health.vic.gov.au/headlice/. Diakses tanggal 29 Maret 2014.

Falagas, Matthew E., Dimitrios K. M., Petros I. R., George Panos, dan Georgios P.. 2008. Worldwide Prevalence of Head Lice. Journal Emergencing infectious disease. Vol. 14 (9) : 1493-1494

Frankowski, Barbara L., Joseph A. Bocchini, Jr and Council on School Health and Committee on Infectious Diseases. Head Lice. Journal Pediatrics. Hal : 392-403.

Hadi, A. 2001. Vektor borne Disease. Universitas Indonesia. Depok.

Harlan, Harold J. 2006. Bed Bugs 101: the Basics of Cimex lectularius. American Entomologist. vol. 52. (2).

Kusumawati, U,H. 2011. Bioekologi Berbagai Jenis Serangga Pengganggu Pada Hewan Ternak Di Indonesia Dan Pengendaliannya. http://upikke.staff.ipb.ac.id/files/2011/03/Bioekologi-Berbagai-Jenis-Serangga Pengganggu-Peternakan-di-Indonesia-dan-Pengendaliannya.pdf. Diakses tanggal 30 Maret 2014.

Natadisastra, D., Agoes, R. 2009. Parasitologi Kedokteran: Ditinjau Dari Organ Tubuh yang Diserang. Jakarta: EGC.

Nurmaini. 2001. Identifikasi vektor dan binatang pengganggu serta pengendalian anopheles Aconitus secara sederhana. Universitas Sumetera Utara. Medan

Nuttall, G., H. 2009. The Biology of Phthirus pubis. Cambridge Journal .Vol 10(3): 383-405.

Peraturan Mentri Republik Indonesia nomor 374/Mekes/PER/III/2010. Tentang Pengendalian Vektor. http://www.depkes.go.id/downloads/Pengendalian Vektor%20.pdf

Putri, Btari. 2011. Hubungan Higiene Perseorangan, Sanitasi Lingkungan Dan Status Gizi Terhadap Kejadian Skabies Pada Anak. Universitas Dipenogoro. Semarang.

Robinson, W., H. 2005. Urban Insects and Arachnids: A Handbook of Urban Entomology. Cambridge: University Press.

Sinaga, dkk, 2013. Efektifitas Alat Pemanas Pelurus Rambut dalam Penanganan Pedikulus Kapitis. Universitas Sumetera Utara. Medan

Sutanto, Inge dkk. 2008. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran : Edisi Keempat. Jakarta.

Weems, H. V. Jr. and T. R. Fasulo. 2013. Human Lice: Body Louse, Pediculus humanus humanus Linnaeus and Head Louse, Pediculus humanus capitis De Geer (Insecta: Phthiraptera (=Anoplura): Pediculidae). Ifas Extension. University Of Florida.

Weems, H., V. 2013. Pthirus pubis. http://entnemdept.ufl.edu/ creatures/urban/crab_louse.html. Diakses pada tanggal 8 April 2014.

Wijayati, Fitriana. 2007. Hubungan Antara Perilaku Sehat dengan Angka Kejadian Pedikulosis Kapitis pada Santriwati Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Jombang. Skripsi. Universitas Jember. Jember.

semoga bermanfaat🙂
pengen filenya dalam bentuk Micr. Word?
buka disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s