telaah jurnal Aedes aegypti (Changing Domesticity of Aedes aegypti in Northern Peninsular Malaysia: Reproductive Consequences and Potential Epidemiological Implications)

TUGAS TERSTRUKTUR

MATA KULIAH PENGENDALIAN VEKTOR EPIDEMIOLOGI

 

TELAAH JURNAL

Changing Domesticity of Aedes aegypti in NorthernPeninsular Malaysia: Reproductive Consequences and Potential Epidemiological Implications

 

 

Oleh:

Siska Fiany

G1B011006

Kelas  B

 

 

 

 

 

 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT

PURWOKERTO

2014

TELAAH JURNAL

  1. IDENTITAS JURNAL

Judul                           : Changing Domesticity of Aedes aegypti in Northern

Peninsular Malaysia: Reproductive Consequences and

Potential Epidemiological Implications

Nama Pengarang         : Rahman G. M. Saifur, Hamady Dieng1, Ahmad Abu

Hassan, Md Rawi Che Salmah, Tomomitsu Satho,

Fumio Miake, dan Ahmad Hamdan.

Nama Penerbit             : Jurnal Plos One

Edisi                            : February 2012 | Volume 7 | Issue 2 | e30919 Halaman: 1-

10

  1. PENDAHULUAN

Dewasa ini Aedes aegypti dianggap sebagai salah satu spesies vektor nyamuk yang paling penting di dunia karena mempunyai kerentanan yang tinggi terhadap infeksi virus dan merupakan vektor yang dapat menimbulkan penyakit epidemi pada manusia, termasuk demam berdarah, chikungunya, dan demam kuning. Selama satu tahun, pada tahun 2009 dilakukan survey di semenanjung Malaysia utara. Lebih dari setengah nyamuk Aedes aegypti yang di survey, berasal dari habitat outdoor, misalnya dekat warung makan pinggir jalan. Diperkirakan akan terjadi peningkatan aktifitas menggigit pada nyamuk Aedes aegypti yang berhabitat indoor maupun outdoor. Peneliti ingin membiakan nyamuk Aedes aegypti secara outdoor karena dimungkinkan memiliki implikasi penting dalam hal penularan penyakit. Mnenurut peneliti belum ada penelitian megenai masalah ini sebelumnya padahal penting untuk diketahui.

Beberapa penelitian telah menemukan hubungan ukuran tubuh dengan fekunditas bahwa nyamuk betina yang berukuran besar memiliki tingkat kesuburan yang lebih tinggi dibandingkan nyamuk betina yang berukuran kecil. Nyamuk betina yang berukuran besar memiliki multi bites, besarnya angka menggigit vektor pada manusia merupakan indicator transmisi parasite dan patogen. Parameter fisiologis dan biologis dari vektor, merupakakn kunci pengaturan epidemi penyakit yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan  dapat berbeda antar daerah.

Ae. aegypti betina memiliki kecenderungan untuk bertelur pada container domestik tetapi juga dapat bertelur pada container outdoor yang menampung air hujan. Trpis dan Housermann melakukan penelitian pada 3 populasi  Ae. aegypti yang berbeda yaitu domestik, peridomestik dan liar. Adaptasi vektor  Ae. aegypti pada habitat outdoor telah menimbulkan hipotesis apakah aktivitas gonotropik, fekunditas dan daya tahan nyamuk outdoor sama dengan nyamuk indoor.

Penelitian ini melihat perbedaan pada tiga populasi Ae. aegypti yaitu nyamuk betina liar outdoor (FWMs), nyamuk betina liar Indoor (d0FWMs) container dari gelugor, jelutung dan air itam dan keturunan generasi ke-5 dari d0FWMs (d5FWMs). Di laboratorium, kelompok d0FWMs dipelihara dengan makanan yang bergizi dan diberikan darah yang cukup dari tikus untuk mendapatkan d5FWMs. Pada kondisi yang sama, aktifitas gonotropik (AG) dan fekunditas telah dilaporkan sebelumnya pada variasi Ae. albopictus. Bagaimanapun parameter ini mungkin tidak memberikan variasi yang signifikan pada Ae. aegypti karena vektor ini sudah beradaptasi pada lingkungan indoor.

  1. Bahan dan Metode
  2. Pengumpulan Larva Aedes aegypti dalam container outdoor

Survei larva nyamuk Aedes selama setahun dilakukandari Februari 2009 sampai Februari 2010 di sembilan daerah pemukiman( kota-kota dan desa-desa ) di Pulau Penang, Malaysia. Larva dikumpulkan darikontainer rumah tangga indoor dan outdoor.

  1. EtikaPeneitian

Penelitian ini dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip Deklarasi Helsinki . Studi ini disetujui oleh Penelitian Biologi Komite Etika di Universiti Sains Malaysia.

  1. Kolonisasi Ae. aegypti

Nyamuk dewasa yang dipelihara berasal dari pupa yang dikumpulkan dari lapangan. Tiga koloni terpisah dipelihara dari pupa liar yang dikumpulkan dari kontainer outdoor miscellaneous (perindukan lingkungan outdoor), pupa dalam ruangan liar dikumpulkan dari drum dalam ruangan (perindukan lingkungan indoor), dan laboratorium – dipelihara 5 generasi nyamuk dalam insectarium. Larva dipelihara dengan pakan ragi kering. Nyamuk dewasa diberi makan 10 % larutan glukosa dan nyamuk betina diizinkan makan darah tikus selama dua hari tua. Nyamuk yang dikolonisasi di laboratorium pada suhu kamar dan 29oC ± 3oC dan dengan kelembaban relatif 75 % ± 10 % .

  1. Bioassay

Bioassay dilakukan dengan menggunakan nyamuk betina yang berasal dari alam bebas (FWMs), nyamuk betina yang berasal dari dalam ruangan (d0FWMs), dan nyamuk betina yang berasal dari d0FWMs setelah lima generasi (d5FWMs) dalam kondisi laboratorium. Situs oviposisi untuk deposisi telur dalam semua bioassay terdiri gelas plastik sekali pakai (9611,5 cm) yang berisi 30 mL tap air dan dilapisi dengan kertas filter sebagai substrat oviposisi. Nyamuk diberi larutan glukosa 10 % dengan gumpalan kapas ditempatkan di bagian atas kandang. Percobaan memberikan kesempatan nyamuk Ae. aegypti melakukan perkawinan.

  1. Percobaan
  2. Respon oviposisi.

Respon oviposisi liar Ae. aegypti berasal dari wadah indoor diperiksa di laboratorium berkaitan dengan waktu menghisap darah. uji coba yang dilakukan seperti yang dijelaskan sebelumnya.  Deposisi telur diamati dua hari setelah makan darah pada lima titik waktu siang hari ( 09:00, 11:30, 17:00, 20:30, dan 23:30).

  1. Aktivitas Gonotropik (GA) dan fekunditas .

Penelitian ini dilakukan untuk menentukan dampak dari peridomestication terhadap jumlah siklus gonotropik Ae. aegypti outdoor vs indoor. Betina gravid ditempatkan sendiri-sendiri dalam cangkir oviposisi individu diberikan glukosa 10 % (Batch 100). Nyamuk diberikan akses kawin dan makan darah di setiap siklus gonotropik (GC) sampai mati. Substrat yang oviposisi diganti dalam cangkir oviposisi di setiap SG untuk memeriksa apakah rank generasi mempengaruhi jumlah banyaknya produksi telur dan fekunditas. Panjang sayap semua nyamuk diukur untuk memperkirakan ukuran tubuh mereka sebagai parameter yang mempengaruhi jumlah telur yang dihasilkan. Pengamatan perilaku makan di Ae. aegypti batch 50 FWMs dan d0FWMs dipilih secara acak diberi kesempatan untuk mencari makan sendiri ke dalam kandang pemeliharaan yang terdapat  tikus selama 20 menit, dan kemudian nyamuk yang unfed kembali ke kandang oviposisi individu untuk bertelur .

  1. Pengumpulan data dan analisis .

Container Index ( CI ) dihitung berdasarkan temuan di lapangan. Nyamuk Aedes dikumpulkan dari wadah outdoor dan indoor kemudian diidentifikasi. Jumlah GCS untuk masing-masing nyamuk betina  (FWMs, d0FWMs, dan d5FWMs) dan jumlah telur dicatat untuk mengetahui fekunditas. GC atau siklus gonotropik dianggap sebagai waktu antara konsumsi darah dan dimulainya oviposisi. Pada akhir periode oviposisi di setiap GC FWMs, d0FWMs dan d5FWMs, telur yang telah diletakkan dihitung dengan memeriksa kertas filter bawah binokuler a mikroskop. Persentase betina yang masih hidup dihitung  kemudian tingkat oviposisi ditentukan sebagai persentase betina mulai bertelur di setiap jam dari jumlah awal  nyamuk betina.

Panjang sayap diukur di bawah mikroskop cahaya. Nyamuk dengan panjang sayap 2,9-3,7 mm dianggap besar dan 1,7-2,8 mm dianggap kecil. Perbedaan jumlah GCS, fekunditas, dan ukuran tubuh antara FWMs, d0FWMs, dan d5FWMs ddilihat signifikansinya dengan uji ANOVA menggunakan SPSS 15.1. Percobaan menggunakan Uji Tukey. Tingkat kelangsungan hidup dibandingkan dengan menggunakan statistik deskriptif. Oviposisi dua kelompok nyamuk makan pada dua waktu yang berbeda, jumlah GCS diselesaikan oleh tiga kelompok nyamuk yang berbeda, panjang GC, fekunditas, ukuran tubuh, dan beberapa kecenderungan makan dibandingkan dengan ANOVA. Jika hasil menunjukkan P < 0,05 hal ini menunjukkan signifikansi statistik .

  1. Hasil Penelitian
  2. Survei Ae. aegypti outdoor

Enam dari sembilan daerah pemukiman yang disurvei yang penuh dengan Ae.  aegypti, dan jumlah maksimum wadah positif  ditemukan di luar ruangan. Nyamuk ditemukan di hampir setiap  bulan menunjukkan bahwa peristiwa oviposisi terjadi di seluruh  tahun.Heterogenitas tahap perkembangan larva dan kemampuan adaptasi di lingkungan outdoor dinilai berhasil.

  1. Aktivitas oviposisidari Ae. aegypti

Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam perilakubertelur antara dua kelompok nyamuk yang manghisap darah pagi hari maupun sore hari. Nyamuk paling banyak melakukan oviposisi  pada pukul 16:30-18:00.

  1. Kelangsungan hidup dan periode aktivitas gonotropik

Tingkat kelangsungan hidup ketiga kelompok nyamuk mengalami penurunan dibandingkan GC pertama. Hanya satu nyamuk dari FWMs selamat dan mencapai GC kedelapan, sementara lebih dari 50 % meninggal di GC keempat. Kelompok d0FWMs, sekitar 50 % dari betina meninggal di GC keempat. Tak satu pun dari dua d0FWMs yang menyelesaikan kedelapan GC menunjukkan kelangsungan hidup selanjutnya. Lebih dari 50 % betina diperiksa dari d5FWMs selamat dan mencapai GC keempat. Sekitar 10 % dari d5FWMs selamat dan direproduksi kedelapan kalinya. Di antaranya, satu nyamuk direproduksi waktu kesepuluh. Secara keseluruhan, kelangsungan hidup menurun, hal ini terlihat jelas antara FWMs dan d0FWMs.

  1. Kegiatan Gonotropik

Jumlah GCS tidak berbeda secara signifikan antara  generasi yang berbeda dari Ae. aegypti Jumlah GCS berkisar dari 1 sampai 8 di FWMs, d0FWMs dan dari 1 sampai 10 d5FWMs. Jumlah rata-rata GCS mengindikasikan kebugaran kedua betina indoor dan outdoor  setara dalam hal bereproduksi.

  1. Panjang Siklus Gonotropik

Panjang GC bervariasi secara signifikan antara nyamuk besar dan kecil. Panjang GC rata-rata  adalah 2.4960.026 2.9660.027 d dan (kisaran 1,9-4 d). GCS dari FWMs secara signifikan lebih lama dibandingkan d0FWMs  karena memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil.

  1. Fekunditas (Kesuburan)

Nyamuk d0FWMs dan d5FWMs memproduksi telur dengan ukuran yang sama, sedangkan FWMs memproduksi telur dengan ukuran terkecil. nyamuk FWMs, secara signifikan memiliki tingkat produksi telur yang lebih rendah dibandingkan d0FWM dan d5FWM generasi kecuali untuk GC kelima. Namun, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam produksi telur antara d0FWM dan generasi d5FWM selama empat pertama GCS. Produksi telur pada setiap betina cenderung menurun.

  1. Ukuran tubuh

Panjang rata-rata sayap FWMs, d0FWMs, dan d5FWMs masing-masing adalah 2.4760.04, 2.7260.06, dan 2.8060.04 mm. FWMs secara signifikan lebih kecil dibandingkan dengan dua kelompok lainnya tetapi tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata panjang sayap d0FWMs dan d5FWM.

  1. Beberapa kecenderungan makan

Semua nyamuk menunjukkan kecenderungan makan darah sampai mati. Tren ini secara signifikan lebih tinggi di FWMs dari d0FWMs.

  1. Pembahasan

Penelitian ini mencatat bahwa lebih dari setengah pengembangbiakan  Ae. aegypti berasal dari lingkunngan outdoor di pulau Penang Malaysia. Wadah yang ditemukan baik yang mengelilingi tempat tinggal manusia dan jauh dari rumah. Namun, jenis dan sifat wadah pembibitan dan jumlah nyamuk jauh lebih besar daripada yang pada penelitian sebelumnya yang dilakukan di daerah ini. kinerja gonotropik Ae. aegypti liar yang dikumpulkan dari indoor dan outdoor lokasi dipelajari berkaitan dengan interaksi penting antara aktivitas menggigit dan fekunditas.

Uji laboratorium menunjukkan bahwa aktivitas bertelur dari kelompok  FWMs dan d0FWMs mencapai puncaknya pada sore hari dan tidak ada hubungannya dengan waktu makan darah dan sesuai dengan perilaku oviposisinya.  Aktivitas gonotropik dan fekunditsnya sama dengan d5FWMS setelah dibandingkan. Tidak ada perbedaan perilaku bereproduksi antara d0FWMs dan d5FWMs. Hasil menunjukkan jumlah GCS sebagai indikator penting dari umur dan kapasitas vektor terlihat bahwa FWMs dapat bertahan meskipun fekunditas dan ukuran tubuh lebih rendah dibandingkan dengan  dua kelompok lainnya.

Ukuran tubuh dan fekunditas yang tergantung pada berbagai faktor intrinsik dan ekstrinsik yang berbeda-beda antara lingkungan yang berbeda, dan populasi alami dari Ae. aegypti sangat dipengaruhi oleh kondisi habitat, salah satu faktornya adalah ketersediaan makanan saat stage larva. Nyamuk outdoor mempunyai ukuran lebih kecil karena kurang terjaminnya makanan pada lingkungan kompetitif. Energi yang dikeluarkan untuk mencari tempat berkembang biak menyebabkan penurunan ukuran tubuh. Ukuran tubuh nyamuk juga berhubungan dengan fekunditas, nyamuk yang berukuran besar bertelur lebih banyak dibandingkan yang kecil. Namun, terdapat Ae. aegypti yang berkembang biak  dengan baik di wadah besar di luar ruangan, seperti pada drum penyimpanan air dan ember besar, yang umumnya tersedia makanan dan air yang lebih berlimpah dan hal ini faktor lingkungan dapat menyebabkan nyamuk memproduksi keturunan dengan ukuran tubuh yang besar yang mungkin memiliki fekunditas mirip dengan  d0FWMs dan d5FWMs .

Namun disisi lain, suhu outdoor relatif hangat memungkinkan siklus gonotropik nyamuk menjadi lebih cepat. Selain itu nyamuk lebih suka bertelur di air hangat yang terkena sinar matahari. Nyamuk dewasa lebih cepat berkembang karena kurang terpapar bahan kimia, parasit, dan predator, serta risiko pengurasan. Suhu hangat juga dapat mempersingkat Masa inkubasi ekstrinsik (EIP) dari virus, yang dapat meningkatkan tingkat transmisi dengue. Jadi habitat outdoor dapat mningkatkan risiko transmisi virus dengue oleh nyamuk.

Nyamuk kecil sering mengalami kurang gizi kerena 20 % darah yang dimakan digunakan untuk bertelur. Lebih kecil ukuran nyamuk betina maka semakin besar kebutuhan makannya untuk produksi telur  dan perkembangan.

Nyamuk betina yang berukuran kecil menghisap lebih sedikit (1,6-2,5 mL) dibandingkan betina berukuran besar (2,6-3,5 mL), sehingga memiliki aktivitas menggigit yang lebih sering untuk memenuhi kebutuhannya. Penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok FWMs lebih sering menggigit daripada kelompok d0FWMs. Perilaku makan tersebut dapat meningkatkan kontak  nyamuk dengan manusia sehingga meningkatkan peluang transmisi virus.

Penelitian ini dilakukan pada dasarnya dilakukan utntuk mengetahui perkembangbiakan  pada Ae. aegypti dengan perubahan ekologi, mengidentifikasi konsekuensi reproduksi dan meramalkan potensi implikasi epidemiologi. Penelitian ini telah menunjukkan peningkatan perkembangbiakan dari sebagian besar nyamuk outdoor yang terletak jauh dari rumah. Selama survey jumlah larva dan kepompong yang ditemukan cukup tinggi. Breeding outdoor dapat meningkatkan kepadatan nyamuk, hal ini juga didukung dengan beberapa perilaku sosio–ekonomi manusia yang menigkatkan peluang nyamuk berkembang biak. Warisan sosiokultural orang Penang yang lebih suka menghabiskan waktu di luar rumah saat siang hari mereka rumah di luar untuk sekedar makan di banyak kantin, restoran, dan warung makan pinggir jalan. Ada bukti bahwa berada di luar ruangan pada siang hari meningkat paparan gigitan dan sehingga risiko infeksi dengue. Perilaku masyarakat juga memicu meningkatnya jumlah breeding di tempat umum. Ae. aegypti berkembang biak terutama  pada setiap wadah yang buangan manusia yang dapat menampung air hujan. Curah hujan yang tinggi di pulau penang dengan iklim khatulistiwa dari Penang, memungkinkan meningkatnya peluang Ae. aegypti berkembang biak di lingkungan outdoor dan dapat meingkatkan risiko transmisi virus dengue.

download filenya disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s