KERJA MONOTON DAN GANGGGUAN MUSKULOSKELETAL

KERJA MONOTON DAN GANGGUAN MUSKULOSKELETAL

  1. Pekerjaan Monoton

Pekerjaan monoton adalah pekerjaan yang bersifat  repetitif dan berulang-ulang yang mengakibatkan kebosanan, dan mengakibatkan kelelahan mental yang berakibat pada kesehatan jiwa (Prihatini, 2007). Menurut Muslikhah (2011), pekerjaan monoton merupakan pekerjaan yang mengalami pengulangan gerakan yang berakibat pada kejenuhan pada diri tenaga kerja dan berakibat pada kelelahan dan mengakibatkan stress kerja (Muslikhah, 2011). Pekerjaan yang monoton dapat menimbulkan kejenuhan yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kinerja tenaga kerja. Salah satu jenis pekerjaan yang dapat dikategorikan monoton adalah pekerjaan karyawan Bank, khususnya teller dan customer service ( Widajati dan Erwin, 2006).

Menurut Pusparini (2003) dalam Muslikhah. (2011), efek dari pekerjaan monoton ada dua yakni:

  1. Efek kesehatan

Pekerjaan monoton dapat mngakibatkan gangguan kesehatan seperti sakit tenosynovitis, Carpal Tunnel Syndrom (CTS)/ sindrom terowongan karpal, osteoarthritis dan sakit pada lengan.

  1. Efek Psikologis

Efek psikologis yang timbul akibat pekerjaan monoton adalah sebagai berikut:

  1. Kebosanan

Akibat kebosanan pada pekerja yang telah melakukan gerakan berulang yang terus menerus, akan mengalami penurunan tingkat mentalitas.

  1. Hilangnya kewaspadaan

Akibat dari kepenatan dan keletihan dari pekerjaan yang terlalu berat, tenaga kerja yang melakukan pekerjaan monoton akan berkurang tingkat kewaspadaannya setelah melakukan pekerjaan tersebut dalam janga waktu lama.

  1. Pekerjaan monoton juga akan berdampak menimbulkan hal-hal seperti kejenuhan kerja yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kinerja tenaga kerja, Stress kerja, Kelelahan atau keletihan kerja.
  2. Musculoskeletal Disorders (MSDs)

Musculoskeletal Disorders (MSDs) atau disebut juga dengan gangguan muskuloskeletal adalah sekumpulan gejala atau gangguan yang berkaitan dengan jaringan otot, tendon, ligament, kartilago, sistem saraf, struktur tulang dan pembuluh darah. MSDs pada awalnya menyebabkan  sakit, nyeri, mati rasa, kesemutan, bengkak, kekakuan, gemetar, gangguan tidur, dan rasa terbakar (OSHA, 2002 dalam Bukhori, 2010)

Secara garis besar keluhan otot dapat dikelompokkam menjadi dua (Tarwaka, et al., 2004) yaitu:

  1. Keluhan sementara (reversible), yaitu keluhan otot yang terjadi pada saat otot menerima beban statis, namun demikian, keluhan otot tersebut akan segera hilang apabila pembebanan dihentikan, dan
  2. Keluhan menetap (persistent), yaitu keluhan otot yang terjadi pada saat otot yang bersifat menetap, walaupun pembebanan kerja telah dihentikan, namun rasa sakit pada otot masih terus berlanjut.

Faktor risiko MSDs menurut Maijunidah (2010), adalah sebagai berikut:

  1.  Faktor Pekerjaan terdiri dari Postur tubuh, Peregangan otot yang berlebihan, Aktivitas berulang, Force/ load dan Durasi pekerjaan.
  2. Faktor individu seperti umur, jenis kelamin, kebiasaan merokok, kesegaran jasmani, kekuatan fisik, indeks massa tubuh (IMT), dan masa kerja.
  3. Faktor lingkungan yang mempengaruhi terjadinya MSDs adalah mikrolimat, iluminasi, dan vibrasi.
  4. Faktor Psikososial

MSDs dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk pada bagian tubuh dengan gejala dan penyebab yang berbeda-beda seperti Tendinitis, Carpal Tunnel Syndrome (CTS), Trigger Finger, Tenosynovitis, Synovitis, DeQuervain’s disease, Bursitisis, Epycondilitis, Thorac Outlet Syndrome, Cervical rediculapaty dan Ulnar Nerve entrapment (Maijunidah, 2010). Keluhan muskuloskeletal pada kerja monoton ini bisa dipahami dari jurnal yang berjudul “Keluhan Muskuloskeletal pada Sales Promotion Girl (SPG) Mall Pemakai Sepatu Tumit Tinggi di Kota Denpasar Tahun2012”.Jurnal ini meneliti adanya gangguan musculoskeletal pada SPG yang selalu memakai sepatu tumit tinggi saat bekerja. Pemakaian sepatu tumit tinggi tersebut dilakukann menunjang performance dari segi fisik agar lebih menarik. Pemakaian sepatu ini dilakukan secara terus menerus (monoton) dalam jangka waktu lama yaitu dengan rerata 4 jam dengan kondisi berdiri, sehingga berdampak pada gangguan kesehatan (Dewi dan I Made, 2012).

Image

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan di empat mall di Kota Denpasar pada Bulan April-Juni tahun 2012 dengan jumlah sampel 92. Keluhan musculoskeletal diukur dengan kuesioner nordic body map. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara dan observasi. Observasi dengan mengukur berat badan, tinggi badan, dan tinggi hak sepatu kemudian dilakukan penghitungan indeks massa tubuh (Dewi dan I Made, 2012).

Hasil dari penelitian ini adalah sebanyak 89 responden (97%) mengalami keluhan musculoskeletal, yang terdiri dari 79 responden (86%) mengalami keluhan muskuloskeletal tingkat rendah dan 10 responden (11%) mengalami keluhan muskuloskeletal tingkat tinggi. Keluhan muskuloskeletal terbanyak terjadi pada bagian otot ekstremitas bawah khususnya pada kaki kiri, kaki kanan, betis kanan dan betis kiri. Hal tersebut disebabkan kaki merupakan penyokong tubuh pada saat berdiri, baik tumit maupun bola kaki masing masing menerima beban secara langsung. Tubuh melakukan penyesuaian yang mengakibatkan melengkungnya tulang belakang sehingga keluhan muskuloskeletal tidak hanya terjadi pada bagian otot ekstremitas bawah tetapi juga pada bagian otot trunkus khususnya pinggang dan punggung (Dewi dan I Made, 2012).

Tingkat keluhan muskuloskeletal yang dialami cenderung mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya umur responden. Keluhan muskuloskeletal tingkat tinggi paling banyak dialami oleh SPG dengan umur lebih dari 35 tahun. Seluruh responden yang tidak mengalami keluhan berasal dari kelompok umur 18-25 tahun. Seiring dengan bertambahnya umur kekuatan otot skeletal akan terus menurun. Keluhan juga dipengaruhi usia saat mulai bekerja sebagai SPG (Dewi dan I Made, 2012).

Keluhan muskuloskeletal tingkat tinggi paling banyak terjadi pada responden dengan IMT berlebih yaitu sebesar 30% dan SPG yang memiliki IMT normal mengalami keluhan muskuloskeletal tingkat tinggi paling sedikit dibandingkan SPG yang memiliki IMT berlebih ataupun kurus. Berat badan berlebih menyebabkan tonus otot abdomen melemah sehingga pusat gravitasi seseorang akan terdorong ke depan, menyebabkan lordosis lumbalis bertambah dan menimbulkan kelelahan otot paravertebrata. Tubuh kurus memiliki lemak dan bantalan lemak yang tipis dan terjadinya trauma berulang-ulang pada kaki akibat bantalan sepatu yang tidak bagus mengakibatkan SPG yang memiliki IMT kurus ataupun normal mengalami keluhan muskuloskeletal dengan tingkat yang lebih rendah dibandingkan memiliki IMT berlebih. Keluhan muskuloskeletal tingkat tinggi juga paling banyak dialami oleh reponden yang memakai sepatu tumit tinggi selama lebih dari 10 tahun (25%) Sales promotion girl bekerja dengan posisi berdiri sehingga otot menerima tekanan secara terus-menerus tanpa memperoleh kesempatan untuk relaksasi dan menimbulkan akumulasi rasa sakit (Dewi dan I Made, 2012).

Keluhan muskuloskeletal meningkat seiring bertambahnya tinggi hak sepatu yang digunakan. Keluhan muskuloskeletal tingkat tinggi terbanyak dialami oleh responden yang memakai hak sepatu >5 cm, sedangkan responden dengan ukuran hak 1,0-5,0 cm tidak mengalami keluhan muskuloskeletal. Semakin tinggi hak maka penyesuaian yang dilakukan tubuh semakin berat, tulang punggung semakin melengkung dan sudut fleksi sendi lutut semakin besar (Dewi dan I Made, 2012).

DAFTAR PUSTAKA

Bukhori, Endang. 2010. Hubungan Faktor Risiko  Pekerjaan dengan Terjadinya Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada Tukang Angkut Beban Penambang Emas di Kecamatan Cilograng Kabupaten Lebak Tahun 2010. Skripsi. UIN Sayrif Hidayatullah. Jakarta.

Dewi, Ni Kadek N dan I Made Kerta Duana. 2012. Keluhan Muskuloskeletal Pada Sales Promotion Girl (SPG)  Mall Pemakai Sepatu Tumit Tinggi Di Kota   Denpasar Tahun 2012.Jurnal Community Health.Volume I (2) Hal: 143-150.

Maijunidah, Emi. 2010. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keluhan musculosckeletal disorders (MSDs) pada Pekerja Assembling PT X Bogor Tahun 2010. Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta.

Muslikhah. 2011. Pengaruh rotasi kerja terhadap stress kerja pekerja wanita di Industri Batik tulis Brotoseno Desa Kliwonan Masaran Sragen. Skripsi. Universitas Sebalas Maret. Surakarta.

Prihatini, Lilis D. 2007. Analisis Hubungan baban Kerja dengan Stres Kerja Perawat di Tiap Ruang Rawat Inap RSUD Sidikalang. Tesis. Universitas Sumatera Utara Medan

Tarwaka, et al. 2004. Ergonomi Untuk K3 dan Produktivitas. UNIBA Press. Surakarta.

Widajati, Noeroel dan Erwin D. N. 2006. Dampak Monotonitas Pekerjaan Terhadap Kinerja Pada Karyawan Bank “X” Di Surabaya. Laporan Penelitian. Universitas Airlangga. Surabaya.

SYUKRON JZK.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s