PROPOSAL MAGANG: “PENGENDALIAN NYAMUK Aedes aegypti DENGAN MENGGUNAKAN METODE OVITRAP DI B2P2VRP SALATIGA”

PROPOSAL MAGANG

 

PENGENDALIAN NYAMUK Aedes aegypti DENGAN MENGGUNAKAN METODE OVITRAP DI B2P2VRP SALATIGA

 

Oleh

 

SISKA FIANY

G1B011006

 

Image 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT

PURWOKERTO

 

2014

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Nyamuk Aedes aegypti dianggap sebagai salah satu spesies vektor nyamuk yang paling penting di dunia karena mempunyai kerentanan yang tinggi terhadap infeksi virus. Hal tersebut menyebabkan Aedes aegypti dapat menimbulkan penyakit epidemi pada manusia, termasuk demam berdarah, chikungunya, dan demam kuning. Khususnya, nyamuk spesies ini dianggap sebagai vektor utama penyebab terjadinya penyakit demam berdarah dengue (DBD) (Saifur et al., 2012).

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) telah dikenal di Indonesia sebagai penyakit yang dapat menyebabkan kematian serta menimbulkan kegelisahan pada masyarakat. Indonesia bahkan  menempati posisi tertinggi dalam kasus penyakit Dengue di Asia Tenggara dengan 10.000 kasus pada tahun 2011. Jumlah kejadian DBD di Kabupaten Banyumas pada 5 tahun terakhir cenderung mengalami peningkatan. Hasil pendataan dari Dinas Kesehatan Banyumas terkait jumlah kejadian DBD adalah sebagai berikut : tahun 2008 sebanyak 685 penderita, tahun 2009 sebanyak 382 penderita (5 meninggal) IR=15/100.000 CFR=1,31%, tahun 2010 sebanyak 696 penderita (7 meninggal), tahun 2011 sebanyak 651 penderita CFR=1,49%, dan tahun 2012 penderita sebanyak 199 CFR=1,26% (Ramadhani dan Bondan, 2013). Terjadi lagi peningkatan kasus DBD di Kabupaten Banyumas dari tahun 2012-2013 mengalami peningkatan yaitu dari 199 kasus menjadi 539 kasus (www.banyumaskab.go.id, 2014).

Berbagai upaya pengendalian vektor DBD telah dilakukan akan tetapi belum mampu menurunkan angka kejadian demam berdarah di masyarakat . Hasil beberapa penelitian menunjukkan adanya resistensi nyamuk Ae.aegypti terhadap insektisida dan penemuan trans ovari, sehingga semakin kompleks permasalahan upaya pengendalian vektor DBD (Ramadhani dan Bondan, 2013). Program pengendalian Aedes sp. di berbagai negara –termasuk Indonesia–pada umumnya kurang berhasil, karena hampir sepenuhnya bergantung pada pengasapan (fogging) untuk membunuh nyamuk dewasa. Hal ini membutuhkan biaya besar (5 milyar per tahun), menimbulkan resistensi vektor akibat dosis yang tidak tepat, dan tidak berdampak panjang karena jentik nyamuk tidak mati (Baskoro T, 2007). Beberapa penelitian juga telah melaporkan resistensi Ae. aegypti terhadap beberapa insektisida seperti organofosfat, malathion, Allethrin, Permethrin, dan Cypermethrin (Astari S, 2005).

Salah satu metode pengendalian Aedes aegyptitanpa insektisida yang berhasilmenurunkan densitas vektor di beberapa negara adalah penggunaan perangkaptelur (ovitrap). Alat ini dikembangkan pertama kali oleh Fay dan Eliason (1966),kemudian digunakan oleh Central for Diseases Control and Prevention (CDC)dalam surveilans Ae. aegypti. Modifikasi ovitrap dengan menambahkan zat atraktan terbukti dapat meningkatkan jumlah telur yang terperangkap (Polson et al., 2002).

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga memiliki fungsi dan tugas untuk memecahkan masalah-masalah dalam pemberantasan penyakit bersumber binatang. Program di B2P2VRP salatiga antara lain memetakan resistensi vektor Malaria dan Demam Berdarah Dengue(DBD), merekomendasikan insektisida yang tepat guna dan sasaran, merekomendasikan metode pengendalian yang tepat guna dan sasaran. B2P2VRP Salatiga memungkinkan untuk menjadi tempat magang yang dapat memberikan gambaran penggunaan ovitrap dalam mengendalikan vektor Aedes aegypti.

 

  1. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, maka dapat diambil perumusan masalah yaitu bagaimana pengendalian nyamuk Aedes aegypti dengan menggunakan metode ovitrap di B2P2VRP Salatiga?

 

  1. Tujuan
  2. Tujuan Umum

Mengenal dan mampu untuk melaksanakan latihan kerja serta mampu untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan kerja, khususnya dalampengendalian nyamuk Aedes aegypti dengan menggunakan metode ovitrap di B2P2VRP Salatiga.

 

  1. Tujuan Khusus
    1. Mahasiswa mampu mengumpulkan informasi yang relevan sehingga dapat memberikan analisis situasi umum di B2P2VRP Salatiga.
    2. Mengetahui pelaksanaan pengendalian nyamuk Aedes aegypti dengan menggunakan metode ovitrap di B2P2VRP Salatiga.
    3. Mengetahui kelebihan dan kekurangan pengendalian nyamuk Aedes aegypti dengan menggunakan metode ovitrap.
    4. Mengetahui modifikasi ovitrap yang telah dilakukan di B2P2VRP Salatiga.
    5. Mengetahui cara pembuatan ovitrap sebagai alat survei perangkap telur nyamuk Aedes aegypti.

 

  1. Manfaat
  2. Bagi Institusi Magang
    1. B2P2VRP Salatiga dapat memanfaatkan tenaga magang sesuai dengan kebutuhan di unit kerjanya.
    2. Menciptakan sarana kerja sama antara institusi tempat magang dan peserta magang dalam rangka meningkatkan pengetahuan khususnya dalam pengendalian Aedes aegypti dengan menggunakan metode ovitrap.
    3. Laporan magang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber informasi mengenai situasi umum dari institusi tempat magang.

 

  1. Bagi Jurusan Kesehatan Masyarakat
  1. Memperoleh informasi tentang kondisi nyata di dunia kerja yang berguna bagi peningkatan kualitas lulusan Jurusan Kesehatan Masyarakat.
  2. Menjalin kerja sama dengan institusi magang sehingga dapat mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
  1. Bagi Mahasiswa
    1. Mendapatkan pengalaman nyata dalam bekerja di institusi yang sesuai dengan spesifikasi bidang ilmu.
    2. Mendapatkan pengalaman nyata yang terkait dengan program pengendalian Aedes aegypti menggunakan ovitrap.
    3. Mendapatkan kesempatan mengaplikasikan teori pengendalian Aedes aegypti menggunakan ovitrap di B2P2VRP Salatiga.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. Aedes aegypti
  2. Nyamuk Aedes aegypti sebagai Vektor Penyakit DBD

Aedes aegypti merupakan jenis nyamuk yang dapat membawa virus dengue penyebab penyakit demam berdarah. Selain dengue, Aedes aegypti juga merupakan pembawa virus demam kuning (yellow fever) dan chikungunya. Penyebaran jenis ini sangat luas, meliputi hampir semua daerah tropis di seluruh dunia. Aedes aegypti merupakan pembawa utama (primary vektor) dan bersama Aedes albopictus menciptakan siklus persebaran dengue di desa-desa dan perkotaan. Masyarakat diharapkan mampu mengenali dan mengetahui cara-cara mengendalikan DBD untuk membantu mengurangi persebaran penyakit demam berdarah (Anggraini, 2011).

Nyamuk Aedes aegypti betina menghisap darah manusia setiap 2 hari. Protein dari darah tersebut diperlukan untuk pematangan telur yang dikandungnya. Setelah menghisap darah, nyamuk ini akan mencari tempat hinggap (beristirahat). Tempat hinggap yang disenangi ialah benda-benda yang tergantung, seperti : pakaian, kelambu atau tumbuh-tumbuhan di dekat berkembang biaknya. Biasanya di tempat yang agak gelap dan lembab. Setelah masa istirahat selesai, nyamuk itu akan meletakkan telurnya pada dinding bak mandi/WC, tempayan, drum, kaleng, ban bekas, dan lain-lain. Biasanya sedikit di atas permukaan air. Selanjutnya nyamuk akan mencari mangsanya (menghisap darah) lagi dan seterusnya (Depkes RI, 2007).

  1. Klasifikasi Nyamuk Ae. aegypti

Kedudukan nyamuk Ae. aegypti dalam klasifikasi hewan, yaitu (Soegijanto, 2006) :

Filum         : Arthropoda

Kelas         : Insecta

Bangsa      : Diphtera

Suku          : Culicidae

Marga        : Aedes

Jenis          : Aedes aegypti L

  1. Morfologi Nyamuk Ae. aegypti
  2. Nyamuk dewasa

Nyamuk Ae. aegypti dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan rata – rata nyamuk lain. Nyamuk ini mempunyai warna dasar hitam dengan bintik – bintik putih pada bagian badan, kaki dan sayapnya. Nyamuk Ae. aegypti mempunyai bintik-bintik pada badannya terutama pada kaki dan dikenal dari morfologinya yang khas sebagai nyamuk yang mempunyai gambaran lira (lyre form) yang putih pada punggungya. Probosis bersisik hitam, pali pendek dengan ujung hitam bersisik putih perak. Oksiput bersisik lebar, berwarna putih terletak memanjang. Pada bagian toraks terdapat sepasang kaki depan, sepasang kaki tengah, dan sepasang kaki belakang. Tibia berwarna hitam seluruhnya. Tarsi belakang berlingkaran putih pada segmen basal ke-1 sampai ke-4 dan ke-5 berwarna putih. Sayap bersisik hitam dan mempunyai ukuran selebar 2,5-3 mm (Gambar 2.1.) (Sayono, 2008).

 Sisik-sisik pada tubuh nyamuk umumnya mudah rontok atau terlepas sehingga menyulitkan identifikasi pada nyamuk-nyamuk tua. Dalam hal ukuran, nyamuk jantan yang umumnya lebih kecil dari betina dan terdapatnya rambut-rambut tebal pada antena nyamuk jantan. Kedua ciri ini dapat diamati dengan mata telanjang (Soegijanto, 2006). Sebenarnya yang dimaksud vektor DBD adalah nyamuk Aedes aegypti betina. Perbedaan morfologi antara nyamuk Aedes aegypti yang betina dengan yang jantan terletak pada perbedaan morfologi antenanya, Aedes aegypti jantan memiliki antena berbulu lebat sedangkan yang betina berbulu agak jarang/ tidak lebat (Kemenkes RI, 2011).

   Gambar 2.1. Morfologi Aedes aegypti (Rueda, 2004).

b. Telur

Telur Ae. aegypti berwarna hitam, sepintas lalu tampak bulat panjang dan berbentuk oval menyerupai torpedo dengan ukuran ± 0,80 mm. Di bawah mikroskop pada dinding luar telur (exochorion) telur nyamuk tampak garis – garis yang membentuk gambar seperti sarang lebah. Di alam bebas telur nyamuk ini di letakkan satu persatu menempel pada dinding atau tempat perindukan pada tempat yang lembab atau sedikit mengandung air (Gambar 2.2.) (Kemenkes RI, 2011).

      Gambar 2.2 Telur Ae. aegypti (Rueda, 2004).

  1. Jentik (larva)

Ada 4 tingkat (instar) jentik/larva sesuai dengan pertumbuhan larva tersebut, yaitu (Gambar 2.3.) :

1) Instar I : berukuran paling kecil, yaitu 1-2 mm

2) Instar II : 2,5-3,8 mm

3) Instar III : lebih besar sedikit dari larva instar II

4) Instar IV : berukuran paling besar 5 mm (Kemenkes RI, 2011).

Gambar 2.3. Larva Ae. aegypti (Kemenkes RI, 2011).

  1. Pupa

Pupa berbentuk seperti ‘koma’. Bentuknya lebih besar namun lebih ramping dibanding larva (jentik)nya. Pupa Aedes aegypti berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata pupa nyamuk lain (Gambar 2.4.) (Kemenkes RI, 2011).

   

     Gambar 2.4. Pupa  Ae. aegypti (Kemenkes, 2011).

  1. Siklus Hidup Nyamuk Ae. aegypti

          Gambar 2.5. Siklus hidup Ae. aegypti (Kemenkes, 2011).

 

Siklus hidup nyamuk Aedes aegypti adalah Telur à Jentik à Kepompong à Nyamuk. Perkembangan dari telur sampai menjadi nyamuk kurang lebih 9-10 hari. Setiap kali bertelur, nyamuk betina dapat mengeluarkan telur sebanyak 100 butir. Telur nyamuk Aedes aegypti berwarna hitam dengan ukuran ± 0.80 mm. Telur ini ditempat yang kering (tanpa air) dapat bertahan sampai 6 bulan, akan menetas menjadi jentik dalam waktu lebih kurang 2 hari setelah terendam air. Jentik kecil yang menetas dari telur itu akan tumbuh menjadi besar yang panjangnya 0.5-1 cm. Jentik Aedes aegypti akan selalu begerak aktif dalam air. Geraknya berulang-ulang dari bawah ke atas permukaan air untuk bernafas (mengambil udara) kemudian turun, kembali ke bawah dan seterusnya.  Pada waktu istirahat, posisinya hampir tegak lurus dengan permukaan air. Biasanya berada di sekitar dinding tempat penampungan air. Setelah 6-8 hari jentik itu akan berkembang/berubah menjadi kepompong. Kepompong berbentuk koma, gerakannya lamban dan sering berada di permukaan air. Setelah 1-2 hari akan menjadi nyamuk dewasa (Gambar 2.5.) (Anggraini, 2010).

  1. Perilaku Nyamuk Dewasa

Perilaku nyamuk Ae. aegypti menurut Kemenkes RI, 2011 adalah setelah keluar dari pupa, nyamuk istirahat di permukaan air untuk sementara waktu. Beberapa saat setelah itu, sayap meregang menjadi kaku, sehingga nyamuk mampu terbang mencari makanan. Nyamuk Aedes aegypti jantan mengisap cairan tumbuhan atau sari bunga untuk keperluan hidupnya sedangkan yang betina mengisap darah. Nyamuk betina ini lebih menyukai darah manusia daripada hewan (bersifat antropofilik). Darah diperlukan untuk pematangan sel telur, agar dapat menetas. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan perkembangan telur mulai dari nyamuk mengisap darah sampai telur dikeluarkan, waktunya bervariasi antara 3-4 hari. Jangka waktu tersebut disebut dengan siklus gonotropik.

Aktivitas menggigit nyamuk Aedes aegypti biasanya mulai pagi dan petang hari, dengan 2 puncak aktifitas antara pukul 09.00 -10.00 dan 16.00 – 17.00. Aedes aegypti mempunyai kebiasaan mengisap darah berulang kali dalam satu siklus gonotropik, untuk memenuhi lambungnya dengan darah. Dengan demikian nyamuk ini sangat efektif sebagai penular penyakit. Setelah mengisap darah, nyamuk akan beristirahat pada tempat yang gelap dan lembab di dalam atau di luar rumah, berdekatan dengan habitat perkembangbiakannya. Pada tempat tersebut nyamuk menunggu proses pematangan telurnya.

Setelah beristirahat dan proses pematangan telur selesai, nyamuk betina akan meletakkan telurnya di atas permukaan air, kemudian telur menepi dan melekat pada dinding-dinding habitat perkembangbiakannya. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik/larva dalam waktu ±2 hari. Setiap kali bertelur nyamuk betina dapat menghasilkan telur sebanyak ±100 butir. Telur itu di tempat yang kering (tanpa air) dapat bertahan ±6 bulan, jika tempat-tempat tersebut kemudian tergenang air atau kelembabannya tinggi maka telur dapat menetas lebih cepat.

 

  1. Pengendalian vektor DBD (Ae. aegypti)

Pengendalian vektor adalah upaya menurunkan faktor risiko penularan oleh vektor dengan meminimalkan habitat perkembangbiakan vektor, menurunkan kepadatan dan umur vektor, mengurangi kontak antara vektor dengan manusia serta memutus rantai penularan penyakit. Metode pengendalian vektor DBD bersifat spesifik lokal, dengan mempertimbangkan faktor-faktor lingkungan fisik (cuaca/iklim, permukiman, habitat perkembangbiakan); lingkungan sosial-budaya (Pengetahuan Sikap dan Perilaku) dan aspek vektor. Berbagai metode PengendalianVektor (PV) DBD, yaitu Kimiawi, Biologi, Manajemen lingkungan, Pemberantasan Sarang Nyamuk/PSN, Pengendalian Vektor Terpadu (Integrated Vector Management/IVM).

  1. Kimiawi

Pengendalian vektor cara kimiawi dengan menggunakan insektisida merupakan salah satu metode pengendalian yang lebih populer di masyarakat dibanding dengan cara pengendalian lain. Sasaran insektisida adalah stadium dewasa dan pra-dewasa. Insektisida adalah racun, maka penggunaannya harus mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan dan organisme bukan sasaran termasuk mamalia. Disamping itu penentuan jenis insektisida, dosis, dan metode aplikasi merupakan syarat yang penting untuk dipahami dalam kebijakan pengendalian vektor. Aplikasi insektisida yang berulang di satuan ekosistem akan menimbulkan terjadinya resistensi serangga sasaran.

Golongan insektisida kimiawi untuk pengendalian DBD adalah Organophospat (Malathion, methylpirimiphos), Pyrethroid (Cypermethrine, lamda-cyhalotrine, cyflutrine,Permethrine & S-Bioalethrine) ditujukan untuk stadium dewasa yangdiaplikasikan dengan cara pengabutan panas/Fogging dan pengabutandingin/ULV untuk memberantas nyamuk dewasa. Sasaran pra dewasa (jentik) dengan menggunakan insektisida golongan Organophospat yaitu Temephos.

  1. Biologi

Pengendalian vektor biologi menggunakan agent biologi seperti predator/pemangsa, parasit, bakteri, sebagai musuh alami stadium pra dewasa vektor DBD. Jenis predator yang digunakan adalah Ikan pemakan jentik (cupang, tampalo, gabus, guppy, dll), sedangkan larva Capung, Toxorrhyncites, Mesocyclops dapat juga berperan sebagai predator walau bukan sebagai metode yang lazim untuk pengendalian vektor DBD. Jenis pengendalian vektor biologi diantaranya yaitu dengan menggunakan parasit Romanomermes iyengeri dan bakteri Baccilus thuringiensis israelensis Golongan insektisida biologi untuk pengendalian DBD (Insect Growth Regulator/IGR dan Bacillus Thuringiensis Israelensis/BTi), ditujukan untuk stadium pra dewasa yang diaplikasikan pada habitat perkembangbiakan vektor.

  1. Manajemen lingkungan

Lingkungan fisik seperti tipe pemukiman, sarana-prasarana penyediaan air, vegetasi dan musim sangat berpengaruh terhadap tersedianya habitat perkembangbiakan dan pertumbuhan vektor DBD. Nyamuk Aedes aegypti sebagai nyamuk pemukiman mempunyai habitat utama di kontainer buatan yang berada di daerah pemukiman. Manajemen lingkungan adalah upaya pengelolaan lingkungan sehingga tidak kondusif sebagai habitat perkembangbiakan atau dikenal sebagai source reduction seperti 3M plus (menguras, menutup dan memanfaatkan barang bekas, dan plus: menyemprot, memelihara ikan predator, menabur larvasida dll); dan menghambat pertumbuhan vektor (menjaga kebersihan lingkungan rumah, mengurangi tempat-tempat yang gelap dan lembab di lingkungan rumah dll).

Sebagai alternatif lain dari pengelolaan lingkungan dalam upaya kegiatan pencegahan penyakit DBD adalah dengan alat yang disebut autocidal ovitrap. Alat ini belum populer di kalangan masyarakat secara luas dan belum banyak dipakai sebagai upaya pengendalian populasi nyamuk Ae. aegypti. Autocidal ovitrap dalam pelaksanaannya diletakkan di lingkungan perumahan yang mengalami kejadian kasus penyakit DBD. Autocidal ovitrap adalah perangkap telur nyamuk yang berupa tabung gelas kecil bermulut lebar yang dicat hitam di bagian luarnya. Perangkap telur nyamuk merupakan peralatan yag digunakan untuk mendetekasi keberadaan nyamuk Ae. aegypti dan Ae. albopictus jika kepadatan populasi nyamuk rendah dan survei larva menunjukkan hasil yang tidak produktif, seperti dalam kondisi yang normal (Santoso dkk, 2007).

  1. Pemberantasan Sarang Nyamuk / PSN-DBD

Pengendalian Vektor DBD yang paling efisien dan efektif adalah dengan memutus rantai penularan melalui pemberantasan jentik. Pelaksanaannya di masyarakat dilakukan melalui upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD) dalam bentuk kegiatan 3 M plus. Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan, kegiatan 3 M Plus ini harus dilakukan secara luas/serempak dan terus menerus/berkesinambungan. Tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku yang sangat beragam sering menghambat suksesnya gerakan ini. Oleh karena itu, sosialisasi kepada masyarakat/ individu untuk melakukan kegiatan ini secara rutin serta penguatan peran tokoh masyarakat untuk mau secara terus menerus menggerakkan masyarakat harus dilakukan melalui kegiatan promosi kesehatan, penyuluhan di media masa, serta reward bagi yang berhasil melaksanakannya.

  1.  Pengendalian Vektor Terpadu (IVM)

Integrated Vektor Management (IVM) merupakan konsep pengendalian vektor yang diusulkan oleh WHO untuk mengefektifkan berbagai kegiatan pemberantasan vektor oleh berbagai institusi. IVM dalam pengendalian vektor DBD saat ini lebih difokuskan pada peningkatan peran serta sektor lain melalui kegiatan Pokjanal DBD, Kegiatan PSN anak sekolah dll.

 

  1. Perangkap Telur (Ovitrap)
    1. Pengertian

Ovitrap secara bahasa dapat diartikan sebagai perangkap telur (ovi=telur, trap=perangkap). Jadi dapat didefinisikan sebagai perangkap telur nyamuk sederhana. Dikatakan sederhana karena alat ini dapat dibuat sendiri dengan menggunakan barang bekas yang mudah ditemukan disetiap rumah. Ovitrap adalah alat pemancing nyamuk untuk bertelur di dalamnya. Ketika telur berkembang menjadi nyamuk dewasa, nyamuk akan terperangkap di dalam ovitrap, dan akhirnya mati (Tanjung, 2011).

Ovitrap(singkatan dari oviposition trap) adalah perangkat untuk mendeteksi kehadiran Ae. aegypti dan Ae albopictus pada keadaan densitas (kepadatan) populasi yang rendah dan survei larva dalam skala luas tidak produktif (misalnya BI < 5), sebaik pada keadaan normal. Secara khusus, ovitrap digunakan untuk mendeteksi infestasi nyamuk ke area baru yang sebelumnya telah dieliminasi (Rakkang dkk, 2013).

Ovitrap diletakkan didalam dan di luar rumah di tempat yang gelap dan lembab. Ovitrap yang dibuat berwarna hitam menarik nyamuk betina bertelur didalam ovitrap. Ketika telur menetas dan memasuki stadium larva, maka larva nyamuk tersebut akan mati di dalam perangkap karena didalam ovitrap telah dibubuhi abate dengan dosis 0,05 gram pada 0,5 liter air (Tanjung, 2011).

  1. Fungsi Ovitrap

Hasil penelitian tentang ovitrap sebelumnya telah menunjukkan bahwa ovitrap memiliki fungsi monitoring dan pengendalian Aedes sp. Kelebihan dari survei entomologi dengan menggunakan ovitrap adalah menghasilkan data yang lebih spesifik, lebih ekonomis, dan sensitif untuk pengambilan sampel populasi dengan area yang lebih luas. Namun, penggunaan ovitrap sebagai salah satu metode pengukuran kepadatan nyamuk belum banyak diaplikasikan penggunaannya. Apabila penggunaan ovitrap lebih ditekankan untuk monitoring Aedes sp, perlu juga diperhatikan indeks ovitrap sebagai salah satu acuan dalam interpretasi data (Puspitasari dkk, 2012). Ovitrap yang positif merefleksikan kepadatan nyamuk dewasa yang sangat berguna sebagai alat surveilans vektor Aedes sp dan dapat menggambarakan infestasi nyamuk yang sebenarnya di suatu wilayah, sehingga dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana tingkat kerawanan wilayah dengan memperhitungkan nilai indeks ovitrap (Wong et al., 2007).

Rumus Index ovitrap :

  Jumlah padel dengan telur   x 100%

                                                  Jumlah padel yang diperiksa

  1. Jenis Ovitrap
    1. Ovitrap standar

Ovitrapyang standar berupa tabung gelas kecil bermulut lebar yang dicat hitam di bagian luarnya. Tabung gelas tersebut dilengkapi dengan tongkat kayu yang dijepit vertikal di bagian kasarnya menghadap ke arah dalam. Tabung diisi air sampai setengahnya hingga ¾ dan ditempatkan dilokasi yang diduga menjadi habitat nyamuk, biasanya di dalam atau di sekitar lingkungan rumah (Gambar 2.6.). Ditempatkan di dalam dan di luar rumah yang diduga menjadi habitat nyamuk Aedes sp (Rakkang, 2013).

Gambar 2.6. Ovitrap standar (Deschamps, 2005).

  1. Autocidal ovitrap

Autocidal ovitrap merupakan salah satu jenis ovitrap yang menggunakan suatu tabung silinder warna gelap dengan diameter 10 cm dengan salah satu ujung tertutup rapat dan ujung lainnya terbuka. Tabung tersebut diisi air tawar kemudian ditutup dengan kasa nylon. Secara periodik air dalam tabung ditambah untuk mengganti peguapan yang terjadi. Nyamuk yang bertelur disini (Gambar 2.7.) dan telurnya menetas menjadi larva dalam air tadi, maka akan menjadi nyamuk dewasa yang tetap terperangkap di dalam tabung tadi (Palgunadi dan Asih, 2011).

Gambar 2.7. Autocidal ovitrap (Ooi et al., 2006).

  1. Lethal ovitrap

Lethal ovitrap (LO) adalah varian nama untuk ovitrap hasil modifikasi yang dapat membunuh nyamuk Aedes.LO adalah suatu perangkap untuk tempat bertelur nyamuk Aedes yang pada bagian atasnya diberi kasa nylon direkatkan pada cincin gabus dan diisi dengan atraktan. Alat ini dibuat dari bekas kaleng silinder, dicat hitam dan ditutup dengan kassa. Lethal ovitrap di buat untuk membunuh nyamuk, dikarenakan nyamuk yang akan bertelur bersentuhan dengan ovistrip (Oviposition trip) yang mengandung insektisida dan dalam waktu relatif singkat akan mati (Gambar 2.8.) (Sayono, 2008).

Gambar 2.8. Lethal Ovitrap (Rakkang dkk, 2013).

  1. Kelebihandan kekurangan ovitrap

Menurut Tanjung (2011), ovitrap memiliki kelebihan sehingga dapat sangat membantu dalam upaya pengendalian vektor demam berdarah. Adapun beberapa kelebihan dari penggunaan ovitrap antara lain:

  1. Murah dan sederhana, karena komponennya dapat dibuat sendiri dengan menggunakan barang bekas yang mudah ditemukan disetiap rumah, seperti kaleng bekas, kepingan bambu atau kayu dan air.
  2. Mudah, baik dalam pembersihan maupun perawatan. Ovitrap sangat mudah dirawat dan dibersihkan karena hanya perlu mengganti airnya setiap minggu dan menyikat bagian dalam bejananya. Perlakuan ini sama dengan prinsip menguras bak mandi (3M), hanya dilakukan pada wadah yang lebih kecil.
  3. Efektif dalam mengurangi jumlah vektor DBD karena setiap larva yang menetas akan langsung mati karena didalam ovitrap telah dibubuhi abate. Bahkan jika didalamnya tidak dimasukkan abate, larva dapat sangat mudah ditemukan dan dibuang.

Ovitrap juga memiliki kelemahan sebagai salah satu metode pengendalian Aedes yaitu:

  1. Keberadaannya bersaing dengan containeryang adahabitat di lingkungan (mackay et al., 2013).
  2. Memerlukan partisipasi yang tinggi dari masyarakat.
    1. Modifikasi Ovitrap

Modifikasi dilakukan terhadap fungsi, bentuk, ukuran, dan penambahan atraktan. Atraktan adalah sesuatu yang memiliki daya tarik terhadap serangga (nyamuk) baik secara kimiawi maupun visual (fisik). Atraktan dari bahan kimia dapat berupa senyawa ammonia, CO2, asam laktat, octenol, dan asam lemak. Zat atau senyawa tersebut berasal dari bahan organik atau merupakan hasil proses metabolisme mahluk hidup, termasuk manusia. Atraktan fisika dapat berupa getaran suara dan warna, baik warna tempat atau cahaya. Atraktan dapat digunakan untuk mempengaruhi perilaku, memonitor atau menurunkan populasi nyamuk secara langsung, tanpa menyebabkan cedera bagi binatang lain dan manusia, dan tidak meninggalkan residu pada makanan atau bahan pangan. Efektifitas penggunaannya membutuhkan pengetahuan prinsip-prinsip dasar biologi serangga (Sayono, 2008).

Penambahan atraktan bervariasi antara lain air rendaman jerami  dan jenis rerumputan  tertentu, air rendaman kerang dan udang. Air rendaman tersebut mengandung kadar CO2 dan Amonia yang tinggi sehingga dapat menarik penciuman dan mempengaruhi nyamuk dalam memilih tempat bertelur. Senyawa tersebut hasil fermentasi zat organik atau ekskresi proses metabolisme. Modifikasi ovitrapjuga bisa dengan insektisida antara lain deltamethrin, bendiocarb, permethrin, cypermethrin, dan cyfluthrin. Selain itu, dapat digunakan pula penghambat pertumbuhan serangga (insect growth regulator = IGR) (Sayono, 2008).

  1. Jenis Atraktan
    1. Air Rendaman Jerami

Air rendaman jerami (hay infusion) dibuat dari satu kilogram jerami kering, dipotong dan direndam dalam satu liter air selama 7 hari. Air rendaman disaring agar bersih kemudian satu liter air rendaman jerami ditambah dengan sembilan liter aquades untuk mendapatkan air rendaman jerami dengan konsentrasi 10%. Air rendaman jerami menghasilkan CO2 dan ammonia, suatu senyawa yang terbukti mempengaruhi saraf penciuman nyamuk Aedes. Air rendaman jerami mengandung ammonia 3,74 mg/l, CO2 total 23,5 mg/l, asam laktat 18,2 mg/l, octenol 1,6 mg/l dan asam lemak 17,1 mg/l (Purnamasari dkk., 2010).

  1. Air Rendaman Cabai Merah Segar

Air rendaman cabai merah segar dibuat dari satu kilogram cabai merah segar, dihancurkan dan direndam dalam satu liter air selama 7 hari. Selanjutnya, air rendaman disaring agar bersih kemudian satu liter air rendaman cabai merah segar ditambah dengan sembilan liter aquades untuk mendapatkan air rendaman cabai merah konsentrasi 10%. Air rendaman cabai merah menghasilkan Asam lemak, suatu senyawa yang terbukti mempengaruhi saraf penciuman nyamuk Aedes. Air rendaman cabai merah mengandung ammonia 0,86 mg/l, CO2 total 12,4 mg/l, asam laktat 13,2 mg/l, octenol 0,7 mg/l dan asam lemak 22,8 mg/l. (Purnamasari dkk., 2010).

  1. Air Rendaman Biji Jinten

Air rendaman biji jinten dibuat dari satu kilogram biji jinten dihancurkan dan direndam dalam satu liter air selama 7 hari  Selanjutnya, air rendaman disaring agar bersih kemudian satu liter air rendaman biji jinten ditambah dengan sembilan liter aquades untuk mendapatkan air rendaman biji jinten konsentrasi 10%. Air biji jinten menghasilkan Asam laktat, suatu senyawa yang terbukti mempengaruhi saraf penciuman nyamuk Aedes. Air biji jinten mengandung ammonia 2,12 mg/l, CO2 total 11,8 mg/l, asam laktat 26,5 mg/l, octenol 1,9 mg/l dan asam lemak 14,2 mg/l (Purnamasari dkk., 2010).

 

 

  1. Air Rendaman Jerami dan Rumput Panicum maximum (Jack)

Air rendaman jerami (hay infusion) dibuat dari 125 gram jerami kering, dipotong dan direndam dalam 15 liter air selama 7 hari (Polson et al, 2002).Selanjutnya, penggunaan air rendaman ini dicampur dengan air biasa (misalnya air sumur) dengan konsentrasi yang diinginkan. Polson et al (2002) menggunakan konsentrasi 10%, sedangkan Santos et al (2003) dengan berbagai konsentrasi.Namun demikian, baik Polson maupun Santos menyimpulkan bahwa konsentrasi 10% menghasilkan telur terperangkap paling banyak. Sant’ana et al (2006)  menggunakan air fermentasi daun rumput P. maximum 15 – 20 hari secara anaerobik juga menghasilkan telur Aedes terperangkap lebih banyak daripada air biasa (tap water). Air rendaman jerami dan fermentasi rumput P. maximum menghasilkan CO2 dan Ammonia; suatu senyawa yang terbukti mempengaruhi saraf penciuman nyamuk Aedes (Sayono.2008).

  1. Air Rendaman Udang dan Kerang

Air rendaman atau cucian udang dan kerang mengandung sisa atau kotoran hasil metabolisme seperti feses, dan senyawa kimia baik dalam bentuk gas maupun cair. Sebagai contoh, udang windu mengekskresi feses, ammonia dan karbondioksia. Ekskresi ammonia berkisar antara 26 – 30 gram per kilogram pakan yang mengandung 35% pellet, sedangkan ekskresi CO2 1 kali dari konsumsi oksigen (Sayono, 2008).

 


BAB III

METODE PELAKSANAAN KEGIATAN

  1. Rencana Kegiatan

 

 

Kegiatan

Waktu

Minggu 1

Minggu 2

Minggu 3

Minggu 4

 

Kunjungan laboratorium

 

 

 

 

 

Pelaksanaan kegiatan di laboratorium

 

 

 

 

 

Pengumpulan data dan informasi

 

 

 

 

 

Penyusunan laporan sementara

 

 

 

 

 

  1. Lokasi Kegiatan

Lokasi                  : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan

  ReservoirPenyakit (B2P2VRP)

Alamat                 : Jl. Hasanudin No. 123, Salatiga.

Unit/seksi            : Laboratorium parasitologi

 

  1. Waktu Kegiatan

Kegiatan magang akan dilaksanakan pada tanggal  4-30 Agustus 2014.

 


 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, D.S. 2010. Stop Demam Berdarah Dengue. Cita Insan Madani. Bogor.

 

Astari S, Ahmad I. 2005. Insecticide Resistance and Effect of Piperonyl Butoxide as a Synergist in Three Strain nof Aedes aegypti (Linn) (Diptera: Cullicidae) on Insecticide Permethrin, Sypermethrin, and d-Allethrin. Bul. Penel. Kesehatan. Vol 33 (2) : 73 – 79.

 

Bagian Humas dan Protokol Setda Kabupaten Banyumas. 2014. Awali Peringati Hari Jadi, Pemkab Lakukan PSN di Daerah Endemis. www.banyumaskab.go.id.Diakses tanggal 3 Mei 214.

 

Baskoro T, Nalim S. . 2007. Pengendalian Nyamuk Penular Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Makalah disampaikan dalam Simposium Demam Berdarah Dengue. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

 

Departemen Kesehatan RI. 2007. Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD) Oleh Juru Pemantauan Jentik. Jakarta.

 

Deschamps, Timothy D. 2005. A Preliminary Study Of The Attractiveness Of Ovitrap Cups In Collecting Container Species In Massachusetts. http://www.cmmcp.org/2005ovitrap.htm. Diakses tanggal 8 Mei 2014.

 

Kemenkes RI. 2011. Modul Pengendalian Demam Berdarah Dengue. Kementerian Kesehatan RI. Jakarta.

 

Mackay, Andrew J ., Manuel Amador and Roberto B. 2013. An improved autocidal gravid ovitrap for the control and surveillance of Aedes aegypti. Jurnal Parasites & Vectors. Vol. 6 (225): 1-13.

 

Ooi, Eng-Eong., Kee-Tai G., dan Duane J. G. 2006. Synopsis: Dengue Prevention and 35 Years of Vector Control in Singapore. Vol. 12 (6). http://wwwnc.cdc.gov/eid/article/12/6/05-1210-f3.htm. Diakses tanggal 8 Mei 2014.

 

Palgunadi, bagus U. dan Asih R. 2011. Aedes Aegypti Sebagai Vektor Penyakit Demam Berdarah Dengue. Jurnal Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Vol. 2 (1).

 

Polson KA, Curtis C, Seng CM, Olson JG, Chanta N, Rawlins SC. 2002. The Use of Ovitrap Baited with Hay Infusion as a Surveillance Tool for Aedes aegypti Mosquitoes in Cambodia. Dengue Bulletin. Vol. 26: 178 – 184.

 

Purnamasari, Ira N., Ratih S. W., dan Sayono. Efektifitas Berbagai Jenis Atraktan Bumbu Dapur Terhadap Jumlah Telur Aedes Sp Yang Terperangkap. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Semarang. Semarang.

 

Puspitasari, Diah N., dkk. 2012. Tingkat Kerawanan Wilayah Berdasarkan Insiden Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Indeks Ovitrap Di Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Vol. 1 (2): 305 – 314.

 

Rakkang, Y., dkk. 2013. Efektivitas Lethal Ovitrap Atraktan Terhadap Penurunan Kepadatan Larva Aedes aegypti di Kelurahan Adatongeng  Kecamatan Turikale Kabupaten Maros. http://repository.unhas.ac.id/handle/123456789/6068.Diakses tanggal 3 Mei 2014.

 

Ramadhani, Tri dan Bondan F. W. 2013. Pengaruh Penggunaan Lethal Ovitrap Terhadap Populasi Nyamuk Aedes Sp Sebagai Vektor Demam Berdarah Dengue. Jurnal BALABA. Vol. 9 (1) : 21-26.

 

Rueda LM. Zootaxa. 2004. Pictorial Keys for the Identification of Mosquitoes (Diptera: Culicidae) Associated with Dengue Virus Transmission. Mongolia Press. Auckland, New Zealand.

 

Saifur, Rahman G. M., Hamady Dieng, A. Abu H., Md R. C. Salmah, T. Satho,  F. Miake, dan A. Hamdan. 2012. Changing Domesticity of Aedes aegypti in Northern  Peninsular Malaysia: Reproductive Consequences and Potential Epidemiological Implications. Jurnal Plos One.Vol. 7 (2): 1- 10.

 

Sant’ana AL, Roque RA, dan Eiras AE. 2006. Characteristics of Grass Infusion as Oviposition Attractants to Aedes (Stegomyia) (Diptera: Culicidae). J Med Entomol. Vol 43: 214 – 220.

 

Santos SRA, Melo-Santos MAV, Regis L dan Albuquerque CMR. 2003. Field Evaluation of Ovitrap with Grass Infusion and Bacillus thuringiensis var israelensis to Determine Oviposition Rate of Aedes aegypti. Dengue Bulletin Vol 27: 156 – 162.

 

Santoso, J., Retno H., Ratih S. W., dan Sayono. 2007. Pengaruh Warna Kasa Penutup Autocidal ovitrap Terhadap Jumlah Jentik Nyamuk Aedes aegypti Yang Tertangkap. Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia. Vol. 4 (2): 85-90.

 

Sayono S. 2008. Pengaruh Modifikasi Ovitrap Terhadap Jumlah Nyamuk Aedes yang Terperangkap. Tesis. Pascasarjana Universitas Diponegoro.  Semarang. 105 hal.

 

 Soegijanto, Soegeng, 2006. Kumpulan Makalah Penyakit Tropis dan Infeksi di Indonesia. Cetakan I. Airlangga. Surabaya.

 

Tanjung, Nadya U. 2011. Hubungan Difusi Inovasi dengan Pemanfaatan Ovitrap Oleh Ibu Rumah Tangga di Kelurahan Sei Kera Hilir I Kecamatan Medan Perjuangan Kota Medan Tahun 2010. Skripsi. Universitas Sumatra. Medan.

 

Wong, Ngai S., Yan LC, Kwan LM, Shan LS, Hui L. 2007. An Alert System For Informing Environmental Risk Of Dengue Infections. GIS For Health And The Environment. Springer-Verlag Berlin Heidelberg.

 

MAU DOWNLOAD FILE PDF.nya? KLIK DISINI

terimakasih. semoga bermanfaat🙂

2 responses to “PROPOSAL MAGANG: “PENGENDALIAN NYAMUK Aedes aegypti DENGAN MENGGUNAKAN METODE OVITRAP DI B2P2VRP SALATIGA”

  1. Terimakasih kak, referensi ini sangat membantu bagi tim sy🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s