Paper: Gangguan Reproduksi Akibat Pekerjaan dan Lingkungan

TUGAS TERSTRUKTUR

MATA KULIAH EPIDEMIOLOGI KESEHATAN REPRODUKSI

Gangguan Reproduksi Akibat Pekerjaan dan Lingkungan 

Disusun Oleh:

Siska Fiany                      G1B011006

Annissa Mufy E. S.        G1B011030

Herdy Setya A.               G1B011058

Vasha Ramadhani          G1B011080

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT

PURWOKERTO

2014

BAB I

DESKRIPSI KASUS

Kasus dalam paper ini menjelaskan tentang kejadian infertilitas pada pria pekerja pabrik. Hasil penelitian dalam jurnal Fertility and Sterility menyatakan bahwa para pekerja industri pabrik di Cina yang terpapar zat kimia plastik memiliki jumlah sperma lebih sedikit dibandingkan dengan pria yang tidak terpapar zat tersebut. Penelitian ini menguatkan riset sebelumnya yang menyebutkan BPA memengaruhi perkembangan seksual bayi laki-laki.

Penelitian di Cina tersebut melibatkan 130 buruh pabrik yang setiap hari bersentuhan langsung dengan barang-barang yang mengandung Bisphenol A (BPA). Kesehatan mereka dibandingkan dengan 88 buruh yang tidak terpapar BPA. Jumlah sperma yang sedikit ditemukan pada para pekerja yang paling banyak terpapar BPA. Sedikitnya jumlah sperma akan menyebabkan kemandulan atau infertilitas pada pria. Berita menyatakan bahwa bahan kimia ini bekerja seperti hormon seks wanita, yaitu estrogen dan mengganggu hormon androgen.

BPA sendiri tersebar dalam barang-barang yang sering kita pakai, seperti dalam kemasan plastik, botol minuman, atau barang-barang rumah tangga. Kesadaran akan bahaya BPA ini membuat banyak negara melarang penggunaan BPA. Untuk mengurangi paparan BPA, pastikan kemasan plastik yang dibeli terbebas dari zat kimia yang ditandai dengan angka 7 dalam simbol daur ulang.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. Hazard Reproduksi
  2. Pengertian

Lingkungan kerja adalah tempat dimana karyawan melakukan aktivitas setiap harinya. Lingkungan kerja Tidak terlepas dari hazard Hazard atau bahaya merupakan sumber potensi kerusakan atau situasi yang berpotensi untuk menimbulkan kerugian. Hazard reproduksi adalah zat yang mempengaruhi kemampuan untuk memiliki anak yang sehat. Radiasi reproduksi, bahan kimia, obat-obatan (legal dan ilegal), rokok, dan panas adalah contoh dari bahaya reproduksi (Sujoso, 2011).

  1. Jenis Hazard Reproduksi
  2. Agen fisik

1)      Radiasi pengion: Baik pria dan wanita diyakini rentan terhadap efek kesehatan reproduksi dari radiasi pengion. Untuk pria testis adalah target sedangkan untuk perempuan itu adalah anak yang belum lahir.

2)      Nonionizing radiasi: Baik pria dan wanita diyakini rentan terhadap efek kesehatan reproduksi dari radiasi nonionizing. Ada 2 hal yang mempengaruhi yaitu frekuensi radio / pemanas microwave serta pembersihan dan pencampuran USG. Frekuensi radio / microwave memungkinkan dapat membahayakan terkait dengan pemanasan jaringan yang menjadi pelindung dari anak yang belum lahir. Pada pria dapat mengakibatkan penurunan jumlah sperma pada kelompok pekerja.

3)      Terminal Visual Display (VDT s): VDT adalah sumber pengion dan nonionizing radiasi. Risiko untuk spontan aborsi dan kelahiran cacat telah dipelajari selama bertahun-tahun. Meskipun kontroversial, kesimpulan umum menyatakan bahwa untuk penggunaan normal, wanita tidak perlu berhenti menggunakan VDT ​​selama kehamilan.

4)      Pekerjaan fisik: Pekerjaan di luar rumah tidak otomatis meningkatkan risiko kehamilan yang buruk. Namun, pekerjaan berat dapat menempatkan beberapa wanita pada risiko tinggi untuk prematur pada tenaga kerja.

5)      Panas: Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa panas yang berlebihan jelas dapat menyebabkan cacat lahir. Jika suhu tubuh Internal hamil perempuan lebih besar dari 102o F meningkatkan risiko untuk kelahiran cacat. Pada pria baik jangka panjang dan jangka pendek eksposur panas dapat menurunkan jumlah sel sperma dan mobilitas mereka mengakibatkan kesuburan menurun.

6)      Kebisingan: Suara mudah menular ke janin. Penelitian terhadap hewan menunjukkan bahwa suara keras frekuensi tinggi atau rendah meningkatkan risiko kematian janin dan gangguan pertumbuhan.

  1. Agen kimia

Beberapa diantaranya adalah (lead, dibromochloropropane, etilena oxide) memiliki batas tertentu untuk paparan sebagian didasarkan pada potensi kesehatan reproduksi, ada jelas hubungan antara efek reproduksi dan merkuri, eter glikol, dan beberapa obat-obatan (Sujoso, 2011).

CDC telah menerbitkan data yang menunjukkan bahwa paparan bahan kimia mengganngu endokrin umumnya seperti :

  1. Bisphenol A (BPA),
  2. phthalates,
  3. senyawa perfluorinated,
  4. dan cadmium .

CDC melaporkan bahwa hampir setiap orang yang tubuhnya terpapar bahan kimia ini, dalam beberapa waktu meunjukkan efek yang merugikan pada kesehatan reproduksi. Penyelidikan terbaru menunjukkan bahwa dari paparan bahan kimia tingkat yang lebih tinggi mengganggu endokrin-adalah  terkait dengan efek buruk pada tindakan reproduksi dan kelahiran,termasuk mengurangi kualitas sperma  pada pria, kelahiran prematur,  berat badan lahir rendah, dan  perubahan perilaku anak (CDC, 2009).

  1. Proses kontaminasi terhadap tubuh manusia

Ashiru et al, (2009)menyatakan bahwa ada 3 cara zat berbahaya dapat masuk ke dalam tubuh yaitu:

  1. Terhirup (Inhalasi),
  2. Kontak dengan kulit,
  3. Konsumsi (jika pekerja tidak mencuci tangan mereka sebelum makan, minum, atau merokok).
  4. Faktor yang mempengeruhi efek reproduksi

Peluang timbulnya dampak yang merugikan kesehatan tergantung pada setidaknya tiga faktor utama:

  1. Sifat kimia dan / atau fisik agen paparan
  2. Dosis paparan
  3. Waktu paparan (Ashiru et al, 2009).

Beberapa bahan kimia yang bertindak sebagai pengganggu-bahan endokrin dapat mengganggu fungsi dan regulasi hormon yang normal. Penelitian yang menghubungkan masa prenatal dengan paparan BPA, yang ditemukan dalam plastik polikarbonat dan beberapa pelapis kaleng makanan dan minuman, menunjukkan bahwa terjadi perubahan reproduksi permanen yang kemudian dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan reproduksi, seperti infertilitas dan masa pubertas lebih awal (Mouritsen, 2010).

Penelitian pada hewan juga menunjukkan bahwa paparan BPA masa prenatal dengan tingkat yang sama pada populasi umum mengubah pengembangan prostat dan kelenjar susu, meningkatkan kerentanan untuk mengembangkan kanker selama hidupnya. Di laboratorium hewan, termasuk non-manusia primata, BPA sebelumnya ditunjukkan dapat mempengaruhi perkembangan otak, menyebabkan perubahan dalam spesifik perilaku jender. Dewasa ini, penelitian melaporkan bahwa semakin tinggi paparan BPA pada wanita hamil, khususnya 16 minggu pertama kehamilan, semakin memungkinkan anaknya memiliki perilaku atipikal dari segi gender pada usia dua. Perempuan memiliki perilaku lebih maskulin, sementara anak laki-laki lebih feminin (Braun et al, 2009).

Bisphenol A (BPA), xenoestrogen, merupakan konstituen dari plastik polikarbonat dan resin epoxy digunakan dalam kedokteran gigi dan di industri makanan. Pada suhu tinggi obligasi polimer menghidrolisis dan melepaskan BPA. BPA dapat dicerna oleh manusia. Jumlah yang terdeteksi telah ditemukan dalam kaleng makanan, wadah microwave, botol polikarbonat, dan dalam air liur manusia setelah pengobatan dengan sealant gigi (Fernandez et al., 2009).

Menurut Li et al,(2009)menyatakan bahwa paparan BPA di tempat kerja dapat memiliki efek buruk pada laki-laki  yaitu disfungsi seksual. Pekerja  laki-laki terpajan BPA memiliki risiko lebih tinggi secara konsisten mengalami disfungsi seksual di semua domain fungsi seksual laki-laki dari pada pekerja yang tidak terpajan BPA. Pekerja yang terpapar memiliki risiko meningkat secara signifikan terhadap berkurangnya libido/ hasrat seksual kesulitan ereksi, kesulitan ejakulasi, dan berkurangnya kepuasan seksual. Dijelaskan bahwa semakin meningkatnya tingkat paparan BPA kumulatif berpeluang memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami disfungsi seksual. Selain itu, dibandingkan dengan pekerja tidak terpajan BPA, pekerja terpajan BPA secara signifikan mengalami penurunan fungsi seksual dalam waktu 1 tahun dengan frekuensi yang lebih tinggi .

 

  1. infertilitas

Infertilitas menurut American Society For Reproductive Medicine, adalah ketidakmampuan dari pasangan untuk hamil setelah satu tahun melakukanhubungan seksual dan tanpa menggunakan kontrasepsi. Faktor lingkungan baik itu lingkungan kerja maupun non kerja sama-sama dapat sebagai sumber paparan bahan berbahaya yang dapat menyebabkan infertilitas. Lingkungan non kerja yang terkait dengan infertilitas diantaranya  riwayat seksual penyakit menular, infeksi panggul, penurunan berat badan yang besar, masalah hormonal, dan ibu lanjut usia. Pada tempat kerja, faktor yang dapat menyebabkan infertilitas adalah bahan kimia yang menyebabkan  kerusakan testis. Beberapa bahan kimia seperti dibromochloropropane (DBCP), timbal, karbon disulfida, carbaryl, kadmium, chlordecone, panas, dan etilena dapat menyebabkan infertilitass. Sebagian besar bahan kimia yang digunakan dalam industri, belum diuji apakah bahan tersebut dapat berpengaruh terhadap fungsi reproduksi (Batstone, 2001). Cara paling pasti untuk mengurangi risiko pekerja atau janin dalam rahim dari paparan bahan berbahaya adalah dengan meminimalkan atau mencegah paparan bahan kimia yang dicurigai berbahaya (Mendiola, 2008).

Menurut Batstone (2001), Bahaya Reproduksi Mempengaruhi Sistem Reproduksi Pria, diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Jumlah Sperma

Berbagai hazard reproduksi dapat memperlambat produksi sperma. Apabila produksi sperma terjadi secara lambat, hal ini berarti sperma yang dproduksi dalam jumlah sedikit dan jumlahnya tidak optimal untuk membuahi sel telur. Selain itu, hazard reproduksi juga dapat menyebabkan produksi sperma terhenti secara total sehingga terjadi kemandulan permanen.

  1. Bentuk Sperma

Hazard reproduksi dapat merubah bentuk dari sel sperma, sehingga sperma akan mengalami kesulitan berenang dan tidak memiliki kemampuan untuk membuahi sel telur.

  1. Transfer Sperma

Bahan kimia berbahaya yang masuk ke dalam tubuh, akan terkumpul pada epididimis, vesikula seminalis, atau prostat. Bahan kimia yang terkumpul ini dapat membunuh sperma, menempel pada sperma ketika sperma keluar dan siap untuk membuahi sel telur.

  1. Kinerja Seksual

Perubahan jumlah hormon dapat mempengaruhi kinerja seksual. Beberapa bahan kimia, seperti alkohol, juga dapat mempengaruhi kemampuan untuk mencapai ereksi, sedangkan bahan kimia yang lain dapat mempengaruhi gairah seks. Beberapa obat (baik legal dan ilegal) memiliki efek pada kinerja seksual, tetapi efek bahaya seperti ini sedikit ditemukan di tempat kerja.

  1. Kromosom Sperma

Hazard  reproduksi dapat mempengaruhi kromosom dalam sperma. Sperma dan  sel telur masing-masing menyumbangkan 23 kromosom  pada saat pembuahan. DNA yang tersimpan dalam kromosom ini sangat dibutuhkan dalam pembuahan sel telur. Radiasi atau bahan kimia dapat menyebabkan perubahan atau istirahat dalam DNA. Jika DNA sperma rusak, mungkin tidak dapat membuahi sel telur. Beberapa obat pengobatan kanker diketahui dapat menyebabkan gangguan pada kromosom sperma. Namun, efek hazard pada kromosom sperma sedikit yang ditemukan di tempat kerja.

  1. Kehamilan

Apabila sperma yang rusak tidak dapat membuahi sel telur, sel telur mungkin tidak berkembang dengan baik, menyebabkan keguguran atau masalah kesehatan yang mungkin terjadi pada bayi. Jika , janin dalam rahim terpapar bahan berbahaya,  dapat menyebabkan masalah dengan kehamilan atau dengan kesehatan bayi setelah lahir.

Hazard reproduksi tidak terlalu disadari oleh banyak orang khususnya bagi para pengusaha atau pimpinan perusahaan sehingga perlindungan terhadap paparan hazard reproduksi baik pada pekerja perempuan maupun pekerja laki-laki di tempat kerja tidak  diutamakan (Mendiola, 2008). Pengusaha memiliki tanggung jawab untuk melindungi para pekerja. Namun, karena banyak pengusaha yang tidak memperdulikan paparan bahaya bahan kimia, pekerja harus mengambil langkah-langkah pencegahan untuk menjaga memastikan keselamatan mereka sendiri, seperti :

  1. Simpan bahan kimia dalam wadah tertutup ketika sudah atau selesai digunakan.
  2. Cuci tangan sebelum makan, minum, atau merokok.
  3. Hindari kontak kulit dengan bahan kimia.
  4. Jika bahan kimia kontak dengan kulit, segera cuci tangan sesuai dengan petunjuk yang tercantum dalam  lembar data keselamatan bahan (MSDS). Pengusaha diminta untuk memberikan MSDS untuk semua bahan berbahaya yang digunakan di tempat kerja.
  5. Mengenali  bahan kimia di tempat kerja yang dapat berpotensi sebagai hazard  reproduksi
  6. Mencegah kontaminasi di rumah seperti :
  7. Mengganti pakaian kerja yang terkontaminasi bahan berbahaya dan  cuci dengan air bersih dan sabun sebelum pulang bekerja.
  8. Mencuci pakaian kerja terpisah dari cucian
  9. Menghindari membawa pakaian yang terkontaminasi atau benda lain di rumah.
  10. Berpartisipasi dalam pelatihan pendidikan kesehatan dan keselamatan serta program pemantauan yang ditawarkan oleh pimpinan.
  11. Pelajari tentang praktik-praktik yang tepat dalam bekerja, teknik kontrol, dan penggunaan alat pelindung diri (yaitu, sarung tangan, respirator, dan pakaian pelindung diri) yang dapat digunakan untuk mengurangi paparan terhadap zat berbahaya.
  12. Ikuti prosedur serta praktik keselamatan dan kesehatan kerja yang diterapkan oleh pimpinan untuk mencegah paparan bahaya bagi sistem reproduksi di tempat kerja (Batstone, 2001).

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

Faktor lingkungan baik itu lingkungan kerja maupun non kerja merupakan sumber paparan bahan berbahaya yang dapat mengganggu sistem reproduksi.  Seperti pada kasus infertilitas yang terjadi pada 130 pekerja laki-laki industri plastik di Cina. Berdasarkan hasil penelitian dalam jurnal Fertility and Sterility, para pekerja industri plastik di Cina telah terpapar zat kimia dari bahan plastik yang disebut BPA (Bisphenol A). Setiap harinya, pekerja bersentuhan langsung dengan barang-barang yang mengandung BPA. Menurut Fernandez et al (2009),Bisphenol A merupakan konstituen dari plastik polikarbonat dan resin epoxy yang digunakan dalam kedokteran gigi dan industri makanan. BPA dapat masuk dan juga dicerna dalam tubuh manusia.

Ashiru et al  (2009),  menyatakan bahwa terdapat 3 cara zat berbahaya dapat masuk ke dalam tubuh salah satunya melalui konsumsi makanan (jika pekerja tidak mencuci tangan mereka sebelum makan dsn minum). Berdasarkan tinjauan pustaka tersebut, BPA dimungkinkan dapat masuk kedalam tubuh pekerja bersamaan dengan makanan yang mereka konsumsi. Hal ini dapat terjadi apabila para pekerja memiliki higiene perseorangan yang buruk terutama dalam kebiasaan mencuci tangan. Setiap hari tangan pekerja bersentuhan dengan BPA. Meskipun sudah memakai sarung tangan, namun sisa-sisa BPA dalam sarung tangan masih dapat menempel pada tangan. Apabila tangan tidak segera dicuci bersih setelah melakukan pekerjaan atau sebelum makan dapat menjadi media masuknya BPA  bersama dengan makanan yang masuk kedalam mulut dan kemudian tertelan masuk kedalam pencernaan. Selain pada lingkungan kerja paparan BPA juga dimungkinkan terjadi pada lingkungan rumah tangga. Menurut Fernandez et al (2009), BPA dapat terdeteksi pada kaleng makanan, wadah microwave, botol polikarbonat, dan dalam air liur manusia setelah pengobatan dengan sealant gigi.

BPA merupakan salah satu bahan kimia yang bertindak sebagai pengganggu endokrin. Selain itu, BPA juga sebagai pengganggu fungsi dan regulasi hormon normal. Bahan kimia ini bekerja seperti hormon seks wanita, yaitu estrogen dan mengganggu hormon androgen. Begitu juga dengan hormon reproduksi pada laki-laki dapat terganggu fungsinya sehingga hormon yang diproduksi menjadi abnormal. Beberapa kasus yang terjadi paparan BPA menyebabkan perubahan dalam  perilaku jender secara spesifik. Dalam kasus ini, paparan BPA mempengaruhi sistem reproduksi pada pekerja laki-laki. Sebanyak 130 pekerja laki-laki dimungkinkan dapat mengalami infertilitas akibat penurunan jumlah sperma. Sebuah penelitian di China menyatakan bahwa jumlah sperma pada pekerja yang terpajan BPA lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah sperma pada pekerja yang tidak terpajan BPA. Hal ini sesuai dengan penelitian Li (2009) yang menyatakan bahwa paparan BPA di tempat kerja dapat menimbulkan efek pada laki-laki berupa disfungsi seksual seperti penurunan jumlah sperma. Penurunan jumlah sperma merupakan manifestasi dari paparan BPA yang efeknya muncul pada pekerja setelah lama terpapar. Seperti yang dijelaskan dalam penelitian Mendiola (2008) yang mengatakan bahwa munculnya  efek bahan kimia terhadap sistem reproduksi laki-laki bersifat kumulatif, irreversible, dan tergantung lama paparannya.

Menurut Ashiru et al (2009), paparan bahan kimia yang dapat mengganggu sistem reproduksi tergantung dari tiga faktor, yaitu sifat kimia dan / atau fisik agen paparan, dosis paparan, dan waktu paparan. Peluang terjdinya infertilitas pada para pekerja pabrik di china dimungkinkan karena adanya paparan bahan kimia BPA di tempat kerja yang dapat mengganggu kesehatan reproduksi. Selain itu dimungkinkan pekerja yang mengalami infertilitas mendapatkan pajanan BPA yang telah melebihi dosis karena pekerja selalu kontak dengan BPA secara kontinyu. Dari segi waktu paparan dimungkinkan berkaitan dengan masa kerja yang sudah cukup lama sehingga pajanan BPA ke dalam tubuh para pekerja semakin terakumulasi hingga timbullah efek infertilitas.

Menurut Batstone (2001), jumlah sperma yang diproduksi dalam jumlah sedikit dapat dikarenakan produksi sperma terjadi secara lambat, sehingga tidak optimal untuk membuahi sel telur. Apabila paparan BPA berlangsung lebih lama juga dapat menyebabkan produksi sperma terhenti secara total sehingga terjadi kemandulan permanen.Bahaya bahan kimia di lingkungan kerja tidak terlalu disadari oleh banyak orang khususnya bagi pimpinan, karena efeknya muncul secara kumulatif dan membutuhkan waktu yang lama setelah terpapar sehingga perlindungan terhadap paparan bahan kimia berbahaya baik pada pekerja perempuan maupun pekerja laki-laki di tempat kerja tidak diutamakan. Pencegahan dari bahaya bahan kimia terhadap gangguan sistem reproduksi sangat penting dilakukan.

Pencegahan dapat dilakukan melalui pendidikan kesehatan dan pengurangan paparan bahan kimia di tempat kerja. Para pembuat kebijakan dalam hal ini pimpinan suatu industri atau pabrik perlu untuk mempertimbangkan dalam penggunaan bahan kimia berbahaya dalam proses produksinya. Pengurangan bahan kimia berbahaya dapat dikurangi atau diganti dengan bahan kimia lain yang tidak memiliki potensi bahaya yang tinggi khususnya bagi sistem reproduksi (Mendiola, 2008). Timbulnya efek infertilitas juga dimungkinkan karena pekerja tidak mendapatkan informasi yang cukup tentang efek BPA terhadap kesehatan reproduksi, sehingga perilaku pekerja kurang mengarah pada pencegahan kontaminasi BPA terhadap tubuh. Selain itu juga dimungkinkan belum adanya kebijakan khusus tentang penaganan BPA secara baik agar tidak memberika efek yang merugikan pada kesehatan pekerja.

Selain itu, menurut (Batstone, 2001) pekerja juga harus memiliki inisiatif untuk menjaga kesehatan dan keselamatan mereka sendiri dengan cara :

  1. Menyimpan bahan kimia dalam wadah tertutup ketika selesai digunakan.
  2. Mencuci tangan sebelum makan dan minum.
  3. Menghindari kontak kulit dengan bahan kimia.
  4. Apabila bahan kimia kontak dengan kulit, segera cuci tangan sesuai dengan petunjuk yang tercantum dalam  lembar data keselamatan sesuai jenis bahan yang digunakan (MSDS). Pimpinan harus  memberikan MSDS untuk semua bahan berbahaya yang digunakan di tempat kerja.
  5. Mengenali  bahan kimia di tempat kerja yang dapat berpotensi sebagai bahaya sistem reproduksi.
  6. Mencegah kontaminasi dengan keluarga di rumah seperti :
  7. Mengganti pakaian kerja yang terkontaminasi bahan berbahaya dan  cuci dengan air bersih serta sabun sebelum pulang bekerja.
  8. Mencuci pakaian kerja terpisah dari cucian lainnya.
  9. Menghindari membawa pakaian atau benda lain yang terkontaminasi bahan kimia ke rumah.
  10. Berpartisipasi dalam pelatihan pendidikan kesehatan dan keselamatan, serta program pemantauan yang ditawarkan oleh pimpinan.
  11. Mempelajari tentang praktik-praktik yang tepat dalam bekerja, teknik kontrol, dan alat pelindung diri (yaitu, sarung tangan, respirator, dan pakaian pelindung diri) yang dapat digunakan untuk mengurangi paparan terhadap zat berbahaya.
  12. Mengikiuti prosedur praktik keselamatan dan kesehatan kerja yang diterapkan oleh pimpinan untuk mencegah paparan bahaya bagi fungsi reproduksi di tempat kerja.

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kesimpulan

Kasus dalam paper ini tentang 130 pekerja pabrik di china yang mengalami penurunan jumlah sperma akibat terpajan bahan kimia BPA(Bisphenol A) di tempat kerja. BPAmerupakan salah satu bahan kimia yang bertindak sebagai pengganggu endokrin dan juga sebagai pengganggu fungsi dan regulasi hormon normal. Bahan kimia ini bekerja seperti hormon seks wanita, yaitu estrogen dan mengganggu hormon androgen. Begitu juga dengan hormon reproduksi pada laki-laki dapat terganggu fungsinya sehingga hormon yang diproduksi menjadi abnormal. Paparan Bisphenol A ini jika tidak dicegah dan dikendalikan dengan baik akan dapat menyebabkan kemandulan pada pria. Terjadinya ganggguan reproduksi yang dialami para pekerja terganung pada 3 faktor yaitu yaitu sifat kimia dan/atau fisik agen paparan, dosis paparan, dan waktu paparan.                                                       

  1. Saran
  2. Perusahaan sebaiknya lebih memperhatikan pekerja dalam bidang kesehatan.
  3. Perusahaan perlu memberikan fasilitas cek kesehatan bagi pekerjanya untuk menghindari pekerja dari gangguan kesehatan reproduksi.
  4. Perusahaan perlu memberikan pelatihan pendidikan kesehatan dan keselamatan bagi para tenaga kerja.
  5. Pekerja perlu meningkatkan higiene sanitasi personal agar terhindar dari sisa zat kimia yang memiliki kemungkinan dapat menempel di salah satu bagian tubuh.
  6. Pekerja sebaiknya menggunakan alat pelindung diri yang lengkap agar tidak terpapar bahan kimia.

 

DAFTAR PUSTAKA

American Society For Reproductive Medicine. 2012. Infertility: An Overview

A Guide for Patients Revised. Diakses di www.asrm.orgpada tanggal 14 Juni 2014.

Ashiru O.A., Olumuyiwa O., dan Odusanya. 2009. Fertility and Occupational hazards: Review of them Literature. African Journal of Reproductive Health. Vol.13 (1): 160-166.

 

Batstone et. al. 2001. Workplace Reproductive Health. Beststart: Ontario’s maternal, Newborn and Earlychild development resource centre

Diakses di http://www.beststart.org pada tanggal 14 Juni 2014.

Braun, JM., Yolton K., Dietrich KN., Hornung R., Ye X, Calafat AM., dan Lanphear BP. 2009. Prenatal Bisphenol A Exposure And Early Childhood Behavior.Environmental Health Perspectives. Vol. 117 (12): 1945-1952.

 

CDC. 2009. Fourth National Report on Human Exposure to Environmental Chemicals 2009. Department of Health and Human Services Centers for Disease Control and Prevention.

Fernandez, Marina., Maria B., Victoria L., dan Carlos L. 2009. Neonatal Exposure to Bisphenol A Alters Reproductive Parameters and Gonadotropin Releasing Hormone Signaling in Female Rats. Environmental Health Perspectives. Vol. 117 (5): 757-761.

Li D., Z. Zhou, D. Qing, Y. He, T. Wu, M. Miao, J. Wang, X. Weng, J.R. Ferber, L.J. Herrinton, Q. Zhu, E. Gao, H. Checkoway, dan W. Yuan. 2009. Occupational exposure to bisphenol-A (BPA) and the risk of Self-Reported Male Sexual Dysfunction. Human Reproduction. Vol. 00 (0): 1–9.

Mendiola, Jaime. 2008. Exposure To Environmental Toxins In Males Seeking Infertility Treatment: A Case-Controlled  Study. Reproductive BioMedicine Online. Vol 16 ( 6) : 842-850.

Mouritsen A, et al. 2010. Hypothesis: Exposure to Endocrine Disprupting Chemicals may Interfere with Timing of Puberty. International Journal of Adrology. Vol. 33 (2): 346-359.

Sujoso, Anisa D. P. 2011. Tempat Kerja dan Bahaya Reproduksi (Workplace And Reproductive Hazard). Seminar Nasional JAMPERSAL. Universitas Jember. Jember.

 

Lampiran

Kimia Plastik Picu Kemandulan Pria

Penulis : Lusia Kus Anna | Senin, 1 November 2010 | 13:29 WIB

shutterstock

TERKAIT:

Kompas.com – Zat kimia yang terdapat dalam kemasan plastik sudah lama menjadi perhatian para ilmuwan karena membahayakan kesehatan, salah satunya gangguan pada organ reproduksi pria.  Beberapa penelitian menunjukkan paparan zat kimia tertentu akan menyebabkan kemandulan.

Bisphenol-A atau BPA diduga menjadi sumber masalah gangguan pada organ reproduksi tersebut. Bahan kimia ini bekerja seperti hormon seks wanita, yaitu estrogen dan mengganggu hormon androgen.

Dalam laporan penelitian yang dimuat dalam jurnal Fertility and Sterility disebutkan, para pekerja pabrik di Cina yang terpapar zat kimia plastik memiliki jumlah sperma lebih sedikit. Penelitian ini menguatkan riset sebelumnya yang menyebutkan BPA memengaruhi perkembangan seksual bayi laki-laki.

Penelitian di Cina tersebut melibatkan 130 buruh pabrik yang setiap hari bersentuhan langsung dengan barang-barang yang mengandung BPA. Kesehatan mereka dibandingkan dengan 88 buruh yang tidak terpapar BPA. Jumlah sperma yang sedikit ditemukan pada para pekerja yang paling banyak terpapar BPA. Sedikitnya jumlah sperma akan menyebabkan kemandulan atau infertilitas pada pria.

BPA sendiri tersebar dalam barang-barang yang sering kita pakai, seperti dalam kemasan plastik, botol minuman, atau barang-barang rumahtangga. Kesadaran akan bahaya BPA ini membuat banyak negara melarang penggunaan BPA. Untuk mengurangi paparan BPA, pastikan kemasan plastik yang dibeli terbebas dari zat kimia yang ditandai dengan angka 7 dalam simbol daur ulang.

http://health.kompas.com/read/2010/11/01/13294151/Kimia.Plastik.Picu.Kemandulan.Pria 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s