PAPER Kesehatan Maternal: PELAYANAN OBSTETRIK DAN NEONATAL

TUGAS TERSTURKTUR

MATA KULIAH KESEHATAN MATERNAL

PAPER PELAYANAN OBSTETRIK DAN NEONATAL

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Kesehatan Maternal

 

Disusun oleh :

  1. Siska Fiany                     G1B011006
  2. Winda Julita                   G1B011033
  3. Indri Nur Oktaviani       G1B011062

 

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT

PURWOKERTO

2013

BAB I

DESKRIPSI KASUS

Seorang bayi perempuan yang belum diberi nama didiagnosis menderita tetanus neonatorum. Hal ini terjadi akibat bayi tidak mendapatkan pelayanan neonatus yang semestinya, pasca kelahirannya. Bayi tersebut adalah anak dari keluarga miskin, Ayu Br Situmorang (41) dan suaminya, Yanto (45). Rumah keluarga ini masih berupa gubuk dan bertempat di tengah hutan sehingga jauh dari keramaian. Selain itu akses listrik masih belum menjangkau rumahnya.

Bayi perempuan ini lahir pada tanggal 3 Juni 2012 secara normal. Proses kelahiran bertempat di rumah sendiri dan tanpa ditemani petugah kesehatan dan alat kesehatan yang memadai. Hal ini dikarenakan factor ekonomi keluarga dan letak rumahnya yang terbilang sangat jauh dari tempat layanan kesehatan terdekat. Saat bayi lahir, ayahnya memotong sendiri tali pusar bayi perempuan tersebut dengan gunting. Setelah itu pusar bayi dibalut dengan perban yang baru. Namun, dua minggu setelah kelahiran anak keempat mereka, tali pusar anaknya timbul kembali. Minimnya pengetahun dari keluarga ini, akhirnya Yanto mengusukkaki dan perut bayi. Tujuannya agar menghilangkan sisa tali pusar anaknya, akan tetapi tetap saja tali pusar anak mereka menonjol.

Akhirnya keuarga tersebut membawa bayi mereka ke klinik terdekat dari tempat tinggal mereka yang dengan berjalan kaki sekitar 9 jam. Setelah diperiksa, bidan klinik, kemudian bayi tersebut dirujuk ke RSUP H Adam Malik. Pemeriksaan tersebut menyatakan bahwa tali pusarnya mengalami tetanus neonatorum atau tetanus pada bayi baru lahir. Akibat dari pemotongan tali pusar menggunakan gunting yang kemungkinan tidak steril. Bayi tersebut akhirnya mendapatkan perawatan intensif di RSUP H Adam Malik.

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Departemen kesehatan umumnya dijalankan oleh pemerintah pusat yang berperan dalam memberikan pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah perdesaan. Kesehatan lingkungan, kesehatan anak, dan pengendalian penyakit menular adalah fungsi utama kesehatan masyarakat pedesaan. Pemerintah juga bertugas memelihara catatan statistik vital, memberikan imunisasi dan pemantauan penyakit, dan berkomunikasi dengan masyarakat tentang masalah kesehatan. Departemen kesehatan lazimnya memiliki fasilitas laboratorium dan melakukan pemutaran atau menjalankan program pendidikan kesehatan. Namun, karena bergantung pada pendanaan publik, tingkat layanan yang diberikan oleh layanan kesehatan setempat sangat bervariasi (United Health Group, 2011).

Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) adalah pelayanan untuk menanggulangi kasus kegawatdaruratan obstetri dan neonatal yang terjadi pada ibu hamil, ibu bersalin maupun ibu dalam masa nifas dengan komplikasi obstetri yang mengancam jiwa ibu maupun janinnya. PONED merupakan upaya pemerintah dalam menanggulangi Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia yang masih tinggi dibandingkan di Negara-negara Asean lainnya.

Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Dasar dan Komprehensif dalam pelaksanaannya meliputi beberapa penanganan yaitu:

  1. Akses terhadap ketersediaan darah dan komponen yang aman untuk menangani rujukan ibu hamil dan neonatus.
  2. Ibu hamil risiko tinggi / komplikasi yang ditangani
  3. Neonatal risiko tinggi / komplikasi yang ditangani (KMK, Menkes).

Proses kelahiran di rumah bersalin atau rumah sakit di layanan kesehatan dibantu dokter dan bidan akan lebih aman. Hal ini karena ibu melahirkan dibantu dengan peralatan teknologi tinggi yang lebih aman. Diharapkan semua pertolongan persalinan memenuhi kriteria 3 bersih, yaitu :

 

a. Bersih tempat persalinan.

b. Bersih alat yang dipakai dalam pertolongan persalinan.

c. Bersih penolong persalinan (Depkes RI, 2002).

Menurut pendapat ahli, kelahiran bersih dan praktek perawatan postnatal sangat efektif dalam menurunkan angka kematian neonatal dari sepsis dan tetanus. Perawatan bersih meliputi 3 tahap yaitu:

  1. Praktek melahirkan bersih, meliputi:
    1. Tempat lahir (fasilitas atau rumah)
    2. Mencuci tangan (dukun bayi sebelum kelahiran, dengan sabun)
    3. Perineum bersih (dicuci sebelum kelahiran).
    4. Permukaan lahir bersih (lembaran plastik baru / atau tikar bersih)
    5. Pemotongan tali pusat menggunakan alat bersih (alat baru/pisau disterilkan/gunting bersih).
    6. Mengikat tali pusat dengan benar (menggunakan alat baru, bersih benang untuk mengikat tali atau penjepit tali)
  2. Perawatan tali pusat dan kulit secara higienis (terutama postnatal), meliputi:
    1. Gabungan chlorhexidine pembersihan jalan lahir sebelum kelahiran
    2. dan / atau membersihan seluruh badan penuh segera setelah lahir
    3. Chlorhexidine pada tali
    4. Memberikan antimikroba untuk tali pusat
    5. Melindungi tali pusat dari hal yang berbahaya
    6. Melindungi kulit dengan emolien (bahan yang digunakan untuk mencegah atau mengurangi kekeringan, sebagai perlindungan bagi kulit).
  3. Praktek perawatan bersih lainnya, setelah melahirkan bayi:
    1. Mencuci tangan (ibu selama periode pasca melahirkan, dengan sabun)
    2. ASI eksklusif (Blencowe et al, 2011).

Tingginya AKI di Indonesia mendasari perlunya peningkatan kemampuan pelayanan beberapa Puskesmas Rawat Inap dengan kemampuan PONED dalam rangka menurunkan angka kematian ibu. Kematian ibu yang dimaksud adalah ibu yang meninggal akibat kehamilannya, akibat persalinannya atau pada masa nifas. Selain itu, hal ini juga dimaksudkan untuk mencegah kematian bayi (AKB). Tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dari tenaga medis yang terampil, serta kesediaan masyarakat untuk merubah kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern dalam bidang kesehatan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkat AKB (Rachmawati, 2007).

Namun, sebagian besar kasus, departemen kesehatan masyarakat lokal tidak dalam posisi untuk memberikan perawatan kesehatan primer atau layanan di seluruh populasi besar pada area tersebar. Padahal Penyedia layanan kesehatan primer (termasuk praktisi perawat dan asisten dokter) memainkan peran sentral dalam sistem pengiriman pedesaan. Jumlah dokter praktek per orang di daerah pedesaan jauh lebih rendah dibandingkan di daerah perkotaan . Di daerah perkotaan. Dokter non praktek di daerah pedesaan cenderung terletak di kabupaten dekat daerah perkotaan atau terkonsentrasi di sebagian kecil wilayah pedesaan pada pusat populasi. Kabupaten pedesaan di daerah terpencil umumnya memiliki proporsi dokter terendah ((United Health Group, 2011).

Terdapat perbedaan akses ke pelayanan kesehatan antara daerah perkotaan dengan perdesaan. Pada daerah perdesaan akses lebih sulit dibanding perkotaan. Kematian bayi terbanyak terjadi di perdesaan terutama pada daerah dengan akses “sedang” dan “sulit”. Dari analisis ini dapat disarankan peningkatan akses ke pelayanan kesehatan khususnya di daerah pedesaan, di antaranya strategi Desa Siaga dioptimalkan dengan mendekatkan pelayanan kesehatan ke masyarakat dengan Poskesdes, optimalisasi upaya pertolongan pertama gawat darurat obstetric dan neonatal di polindes dan puskesmas, sosialisasi program ASI ekslusif, sosialisasi program PHBS (Rachmawati, 2007).

Riskesdas 2007 yang dilakukan oleh Badan Litbangkes mendapatkan hasil bahwa pola penyebab kematian bayi di perkotaan tertinggi adalah BBLR, kemudian infeksi saluran cerna, Asfiksia/aspirasi dan Radang otak. Sedangkan pola kematian bayi di perdesaan tertinggi adalah Infeksi saluran cerna, pneumonia, asfiksia, aspirasi dan BBLR (Rachmawati, 2007). Menurut Djaja (2003), Infeksi sebagai penyebab kematian neonatal masih banyak dijumpai. Infeksi ini termasuk tetanus neonatorum, sepsis, pnemoni. Masih sekitar 12 negara dengan estimasi kasus neonatal tetanus yang tinggi termasuk di Indonesia (Djaja, 2003).

Penyakit tetanus neonatorum adalah penyakit infeksi yang terjadi melalui luka irisan pada umbilicus pada waktu persalinan akibat spora Clostridium tetani , yang berasal dari alat-alat persalinan yang kurang bersih dengan masa inkubasiyaitu kuman yang mengeluarkan toksin/racun dan menyerang system syaraf pusat. Menurut depkes RI (1996), Tetanus neonatorum adalah penyakit pada bayi yang baru lahir yang disebabkan oleh infeksi kuman tetanus yang masuk melalui luka tali pusat, akibat pemotongan tali pusat dengan alat yang tidak bersih atau ditaburi ramuan (Dina, 2009).

Menurut faktor risiko utama terjadinya tetanus neonatorum, yaitu:

  1. Faktor Risiko Pencemaran Lingkungan Fisik dan Biologik

Lingkungan yang mempunyai sanitasi yang buruk akan memyebabkan Clostridium tetani lebih mudah berkembang biak. Kebanyakan penderita dengan gejala tetanus sering mempunyai riwayat tinggal di lingkungan yang kotor. Penjagaan kebersihan diri dan lingkungan adalah amat penting bukan saja dapat mencegah tetanus, tapi juga berbagai penyakit lain.

  1. Faktor Alat Pemotongan Tali Pusat

Penggunaan alat yang tidak steril untuk memotong tali pusat meningkatkan risiko penularan penyakit tetanus neonatorum. Kejadian ini masih lagi berlaku di negara-negara berkembang dimana bidan-bidan yang melakukan pertolongan persalinan masih menggunakan peralatan seperti pisau dapur atau sembilu untuk memotong tali pusat bayi baru lahir (WHO, 2008).

  1. Faktor Cara Perawatan Tali Pusat

Terdapat sebagian masyarakat di negara-negara berkembang masih menggunakan ramuan untuk menutup luka tali pusat seperti kunyit dan abu dapur. Seterusnya, tali pusat tersebut akan dibalut dengan menggunakan kain pembalut yang tidak steril sebagai salah satu ritual untuk menyambut bayi yang baru lahir. Cara perawatan tali pusat yang tidak benar ini akan meningkatkan lagi risiko terjadinya kejadian tetanus neonatorum (Chin, 2000).

  1. Faktor Kebersihan Tempat Pelayanan Persalinan

Kebersihan suatu tempat pelayanan persalinan adalah sangat penting. Tempat pelayanan persalinan yang tidak bersih bukan sahaja berisiko untuk menimbulkan penyakit pada bayi yang akan dilahirkan, malah pada ibu yang melahirkan. Tempat pelayanan persalinan yang ideal sebaiknya dalam keadaan bersih dan steril (Abrutyn, 2008).

  1. Faktor Kekebalan Ibu Hamil

Ibu hamil yang mempunyai faktor kekebalan terhadap tetanus dapat membantu mencegah kejadian tetanus neonatorum pada bayi baru lahir. Antibodi terhadap tetanus dari ibu hamil dapat disalurkan pada bayi melalui darah, seterusnya menurunkan risiko infeksi Clostridium tetani. Sebagian besar bayi yang terkena tetanus neonatorum biasanya lahir dari ibu yang tidak pernah mendapatkan imunisasi TT (Chin, 2000).

Kejadian infeksi neonatal berkaitan dengan terjadinya “tiga telambat”. Tiga keterlambatan dalam mencari perawatan mempengaruhi kelangsungan hidup ibu dan bayi yang baru lahir, tiga terlambat tersebut adalah :

  1. Terlambat mengenali tanda bahaya dalam memutuskan dirujuk ke fasilitas kesehatan.
    1. Penundaan dalam mengenali masalah dan memutuskan untuk mencari perawatan memungkinkan terjdinya komplikasi yang tidak diakui sebagai serius.
    2. Keterlambatan anggota keluarga mencari pelayanan kesehatan.
    3. Kepercayaan spiritual dan budaya dapat memperkuat penundaan atau memberi  perawatan lainnya.
  2. Terlambat mencapai fasilitas kesehatan, serta terlambat mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan.
  3. Keterlambatan transportasi untuk mencapai perawatan yang tepat.
  4. Kurangnya transportasi dan / atau dana.
  5. Jarak dan waktu tempuh untuk mencapai fasilitas kesehatan
  6. Keterlambatan dalam menerima perawatan yang tepat di fasilitas kesehatan.
  7. Kurangnya tenaga terlatih dan sikap negatif petugas kesehatan.
  8. Kurangnya peralatan , obat-obatan dan perlengkapan (Pearson, 2011).

Terdapat dua pertanyaan yang harus ditanyakan pada peristiwa penundaan perawatan baik pada tingkat keluarga maupun masyarat. Dua pertanyaan tersebut, meliputi:

  1. Apakah keluarga dilengkapi untuk membuat pilihan yang sehat?
  2. Dapatkah keluarga dan masyarakat mendukung perempuan ketika biaya transportasi dan darurat diperlukan ?

Beberapa budaya mengharuskan seorang wanita menerima izin dan uang dari suami atau anggota keluarga lainnya untuk mencari perawatan ketika terjadi komplikasi. Jarak yang jauh, biaya tinggi, dan rendahnya kualitas pelayanan juga berkontribusi pada penundaan perawatan.  Penundaan ketiga berkaitan dengan penyedia perawatan kesehatan, system. kesehatan, dan fasilitas kesehatan. Di Afrika Selatan menunjukkan bahwa sepertiga dari Kelahiran, mayoritas kematian neonatal terkait dengan perawatan ibu miskin selama persalinan dan segera  nifas, sekitar sepertiga disebabkan keterlambatan di rumah dan di transportasi (Pearson, 2011).

Tindakan pencegahan serta eliminasi tetanus neonatorum adalah bersandarkan pada tindakan menurunkan atau menghilangkan faktor-faktor risiko. Pendekatan pengendalian lingkungan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan. Pemotongan dan perawatan tali pusat wajib menggunakan alat yang steril (WHO, 2006).

Tetanus neonatorum masih merupakan penyebab yang penting dan perlu dicegah kaitannya dengan kematian neonatal secara global. Penurunan yng signifikan pada kematian tetanus neonatal telah dilaporkan setelah dilakukannya peningkatan cakupan imunisasi tetanus toksoid. Imunisasi toksoid tetanus (TT) memberikan efek yang cukup besar terhadap angka kematian tetanus neonatal pada wanita hamil atau wanita usia subur. imunisasi  wanita hamil atau wanita usia subur dengan setidaknya dua dosis tetanus toksoid diperkirakan untuk mengurangi angka kematian akibat tetanus neonatorum sebesar 94%. Berdasarkan konsistensi dari data kematian, imunisasi tetanus toksoid memberikan dampak tinggi pada kejadian tetanus neonatal terutama pada negara berpenghasilan rendah/menengah (Blencowe, 2010).

Pemberian vaksin biasanya tidak dianjurkan pada ibu hamil karena takut efek samping berat bagi janin. Namun, kontraindikasi untuk vaksinasi hanya berlaku untuk vaksin virus hidup yang dilemahkan kemungkinan dapat menginfeksi janin. Sebaliknya, penggunaan beberapa vaksin dilemahkan berguna dan direkomendasikan . Sebagai hasil dari transplasenta bagian antibodi , imunisasi ibu dapat mengurangi risiko penyakit dapat dicegah dengan vaksin yang mungkin terjadi dalam pertama bulan hidup sebelum awal atau penyelesaian jadwal vaksinasi yang disarankan. Salah satu contohnya adalah vaksinasi terhadap tetanus toxoid yang dapat melindungi ibu hamil dan bayi dari kejadian tetanus neonatorum. Imunisasi ini menyebabkan antibodi spesifik menjadi efektif pada bayi dalam bulan pertama kehidupannya . Contoh lain adalah vaksinasi terhadap pertusis , infeksi pneumokokus dan influenza Haemophilus infeksi jenis b (Esposito, 2012).

Orangtua dan professional tenaga kesehatan harus bekerja sama untuk menjamin keamanan dan kesuksesan pengobatan neonatal. Dewasa ini umumnya pelayanan neonatal dianjurkan diberikan layanan NICU agar dapat dinilai efek merugikan atau menguntungkan. Di negara berkembang ,umumnya dilakukan pengiriman petugas kesehatan yang terampil ke rumah. Kunjungan rumah postnatal dalam dua hari pertama hidup dengan petugas kesehatan komunitas yang terlatih dapat secara signifikan menurunkan angka kematian neonatal (Baqui, 2009).

Menurut LeFevre (2013), strategi pelaksanaan perawatan masyarakat menyebabkan kurang memberikan efek pada penurunan kematian neonatal dan juga tidak efektif dari segi biaya. Paket perawatan di rumah merupakan strategi intervensi yang sangat efektif dari segi biaya yang harus dipertimbangkan untuk replikasi dan scale-up dan pengaturan serupa di tempat lain. (LeFevre, 2013).

 

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

Permasalahan yang terjadi pada kasus tersebut adalah seorang bayi yang didiagnosis menderita tetanus neonatorum. Hal ini terjadi akibat bayi tidak mendapatkan pelayanan neonatus yang semestinya, pasca kelahirannya. Bayi tersebut adalah anak dari keluarga miskin, Ayu Br Situmorang (41) dan suaminya, Yanto (45). Rumah keluarga ini masih berupa gubuk dan bertempat di tengah hutan sehingga jauh dari pelayanan kesehatan. Selain itu akses listrik masih belum menjangkau rumahnya.

Bayi perempuan ini lahir pada tanggal 3 Juni 2012 secara normal. Proses kelahiran bertempat di rumah sendiri dan tanpa ditemani petugas kesehatan dan alat kesehatan yang memadai. Saat bayi lahir, ayahnya memotong sendiri tali pusar bayi perempuan tersebut dengan gunting. Setelah itu pusar bayi dibalut dengan perban yang baru. Namun, dua minggu setelah kelahiran anak keempat mereka, tali pusar anaknya timbul kembali. Kemudian bayi tersebut dinyakakan terkena tetanus neonatorum setelah di periksa di RSUP H Adam Malik.

Menurut depkes RI, Penyakit tetanus neonatorum adalah penyakit infeksi yang terjadi melalui luka irisan pada umbilicus pada waktu persalinan akibat spora Clostridium tetani , yang berasal dari alat-alat persalinan yang kurang bersih dengan masa inkubasi yaitu kuman yang mengeluarkan toksin/racun dan menyerang system syaraf pusat. Dalam kasus ini, bayi yang menderita tetanus neunatorum disebabkan karena penggunaan alat yang tidak steril saat melakukan pemotongan tali pusar bayi. Hal tersebut dilakukan sendiri oleh ayah si bayi, karena faktor ekonomi dan akses pelayanan kesehatan yang ditempuh dari rumah menuju pelayanan kesehatan sangat jauh sehingga persalinan dilakukan tanpa dibantu oleh tenaga kesehatan.

Tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dari tenaga medis yang terampil, serta kesediaan masyarakat untuk merubah kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern dalam bidang kesehatan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkat AKB. Namun di era modern AKB masih sangat tinggi, terutama daerah perdesaan akses lebih sulit dibanding perkotaan. Kematian bayi terbanyak terjadi di perdesaan terutama pada daerah dengan akses “sedang” dan “sulit”.

Adanya Desa Siaga dioptimalkan dengan mendekatkan pelayanan kesehatan ke masyarakat dengan Poskesdes, optimalisasi upaya pertolongan pertama gawat darurat obstetric dan neonatal di polindes dan puskesmas, sosialisasi program ASI ekslusif, serta sosialisasi program PHBS perlu ditingkatkan. Tetanus neonatorum ini terjadi karena tidak memenuhi tiga kriteria kelahiran bersih terutama tidak menggunakan alat yang bersih atau  steril sehingga tali pusat bayi terifeksi oleh bakteri Clostridium tetani. Kejadian infeksi neonatal ini berkaitan dengan terjadinya “Tiga Terlambat” yaitu pertama keluarga melakukan penundaan akses pelayanan kesehatan, kedua dalah terlambatnya mencapai fasilitas klesehatan akibat tidak tersedinya tramsportasi untuk mencapai fasilitas kesehatan terdekat, ketiga adalah terlambat dalam menerima perawatan yang tepat karena melakukan proses persalianan dan perawatan bayi sendiri dengan latar belakang pengetahuan yang kurang.

Terjadinya tetanus neonatorum pada bayi tersebut dimungkin karena ibu tidak mendapatakan pelayanan imunisasi TT pada saat hamil. Sehingga bayinya belum mendapatkan antibodi untuk melawan adanya bakteri tetanus akhirnya dapat dengan mudah terinfeksi bakteri. Menurut Blencowe, Imunisasi TT memberikan efek yang cukup besar terhadap angka kematian tetanus neonatal pada wanita hamil atau wanita usia subur. Imunisasi wanita hamil atau wanita usia subur dengan setidaknya dua dosis tetanus toksoid diperkirakan dapat mengurangi angka kematian tetanus neonatorum sebesar 94%. Berdasarkan konsistensi dari data kematian, imunisasi tetanus toksoid memberikan dampak tinggi pada kejadian tetanus neonatal terutama pada negara berpenghasilan renadah/menengah.

Beberapa faktor resiko utama terjadinya tetanus neonatorum, yaitu pertama dikemukakan oleh WHO (2008), faktor alat pemotong tali pusat yaitu alat yang digunakan untuk memotong tali pusat adalah alat yang bersih/ steril dan aman bagi tubuh bayi untuk mencegah adanya penularan penyakit tetanus neonatorum. sedangkan ayah bayi perempuan tersebut memotong tali pusat bayi dengan gunting yang tidak diketahui steril atau tidak. Kedua dikemukakan oleh Chin (2000), faktor perawatan tali pusat yaitu mengenai pembalut  tali pusat apabila pembalut tidak steril maka dapat mendukung terjadinya infeksi tetanus. ketiga, faktor  resiko pencemaran lingkungan fisik dan biologi yaitu kondisi rumah yang masih sangat sederhana hanya sebuah rumah gubuk yang memungkinkan rumah tersebut perlidungannya tidak maksimal dibandingkan dengan rumah biasanya atau rumah sehat.

 

 

BAB IV

KESIMPULAN

  1. Kesimpulan

Kasus tetanus neonatorum yang terjadi pada bayi perempuan yang berumur 17 hari ini disebabkan karena penundaan akses pelayanan kesahatan. Hal ini terjadi karena bayi dilahirkan hanya dibantu oleh usaha ibu dan ayahnya sendiri tanpa bantuan oleh tenaga medis. Pada saat pemotongan tali pusar bayi hanya dilakukan secara sederhana dengan menggunakan gunting yang dilakukan oleh ayahnya. Hal ini menyebabkan sisa tali pusar terinfeksi bakteri tetanus karena  dipotong dengan alat yang tidak steril.  Penundaan pelayanan ini terjadi karena factor ekonomi yang kurang serta akses menuju pelayan kesehatan yang sulit. Kesulitan ini dilihat dari jauhnya jarak dan tidak tersedianya transportasi dari rumah ke fasilitas pelayanan kesehatan.

  1. Saran
    1. Sebaiknya persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan agar persalinan dilakukan secara bersih dan aman.
    2. Sebaiknya orangtua memanfaatkan pelayanan neonatal yang sudah tersedia di fasilitas kesehatan salah satunya pemotongan tali pusat bayi oleh tenaga kesehatan secara steril.
    3. Sebaiknya pihak pelayanan kesehatan setempat memberikan jaminan persalinan kepada keluarga Pak Yanto untuk memudahkan akses perawatan kehamilan, pelayanan bersalin dan nifas.
    4. Sebaiknya pemerintah menyediakan fasilitas pelayanan obstetrik dan neonatal secara merata agar dapat dengan mudah diakses oleh semua masyarakat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abrutyn, E., 2008. Tetanus. In: Fauci, A.S., et al. ed. Harrison’s Principles of lnternal Medicine. 17th ed. America: McGrawHill, 898-899.

 

Baqui AH, et al. 2009. Effect of timing of first postnatal care home visit on neonatal mortality in Bangladesh: a observational cohort study. BMJ 2009;339:b2826.

 

Blencowe H., et al. 2010. Tetanus toxoid immunization to reduce mortality from neonatal tetanus. International Journal of Epidemiology 2010; 39:i102–i109.

 

Blencowe H., et al. 2011. Clean birth and postnatal care practices to reduce neonatal deaths from sepsis and tetanus: a systematic review and Delphi estimation of mortality effect. BMC Public Health. 11(Suppl 3):S11 http://www.biomedcentral.com/1471-2458/11/S3/S11. Diakses tanggal 17 oktober 2013

 

Chin, J., Nyoman, K.I., 2000. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. 17th ed. Jakarta: Depkes RI

 

Depkes RI. 2002. Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal: bab I kala Persalinan, Bab Kala II Persalinan. Jakarta: Jaringan Nasional Pelatihan Klinik Kesehatan Reproduksi

 

Dina, Ana Resa. 2009. Gambaran Epidemiologi Kasus dan Kematian Tetanus Neonatorum di Kabupaten Serang Tahun 2005-2008. Skripsi. Universitas Indonesia. Jakarta

 

Djaja, Sarimawar. (2003). Penyakit Penyebab Kematian Bayi Baru Lahir (Neonatal) dan Sistem Pelayanan Kesehatan yang Berkaitan di Indonesia, http://digilib.litbang.depkes.go.id/go.php?id=jkpkbppk-gdl-res-2003-sarimawar-881-neonatal. Diakses tanggal 17 oktober 2013

 

Esposito S., et al. 2012. Can infants be protected by means of maternal vaccination?. Clin Microbiol Infect 2012; 18 (Suppl. 5): 85–92

 

LeFevre A. E., et al. 2013. Economic Evaluation of Neonatal Care Packages in a Cluster-Randomized Controlled Trial in Sylhet, Bangladesh. Bull World Health. 91:736–745

 

Pearson, Luwei Et al. 2007. Childbirth care. World Health Organization. Opportunities for Africa’s Newborns.

Rachmawati T., dkk. 2007.  Pola Penyakit Penyebab Kematian Bayi di Pedesaan dan

Perkotaan , Kondisi Sosio Ekonomi pada Kejadian Kematian Bayi di Indonesiab Hasil Riskesdas 2007. Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan Surabaya

United Health Group. 2011. Modernizing Rural Health Care:Coverage, quality and innovation. UnitedHealth Center for Health Reform & Modernization 9900 Bren Road East Minnetonka, Minnesota 55343, USA.

World Health Organization. 2008. Basic Newborn Resuscitation: Practical Guide. Geneva, Switzerland: World Health Organization. www. Who.int/reproductive health/publication/newbron resus citation/index.html. Diakses tanggal 19 oktober 2013

World Health Organization (WHO). 2006. Maternal immunization against tetanus.

20 Avenue Appia 1211 Geneva 27.

 

Lampiran

Ayah Potong Tali Pusar Bayinya Pakai Gunting

KAMIS, 21 JUNI 2012 08:59 BERITA UTAMA

Derita Keluarga Miskin yang Tinggal Sendiri di Tengah Hutan

DIRAWAT – Bayi perempuan berusia 17 dari keluarga miskin yang mengalami tetanus saat dirawat intensif di RS H Adam Malik Medan, ditemani sang ibu, Ayu, yang juga kondisinya memprihatinkan.

Medan-@harianandalas Seorang ayah memotong sendiri tali pusar bayinya yang baru dilahirkan dengan menggunakan gunting. Hal itu terpaksa dilakukannya karena demi membantu kelahiran sang jabang bayi.

Maklum saja, istrinya melahirkan di gubuk mereka yang jauh dari perkampungan. Di gubuk tempat mereka tinggal tidak ada orang lain, apalagi bidan maupun dokter untuk dimintai pertolongan.

Sayangnya, mungkin gunting yang digunakan untuk memotong tali pusar bayinya itu tidak steril. Bayi perempuan yang belum diberi nama itu kini jatuh sakit akibat mengalami tetanus  neonatorum atau tetanus pada bayi baru lahir.

Peristiwa memprihatinkan sekaligus mengharukan ini dialami keluarga miskin, Ayu br Situmorang (41) dan suaminya, Yanto (45). Keluarga itu tinggal di Kampung Berdikari, Kutalimbaru, Deli Serdang yang jauh dari perkampungan penduduk.

“Kami tinggal di hutan di Kampung Berdikari. Hanya kami yang tinggal di situ,” tutur Ayu saat ditemui di ruang perinatologi anak RSUP H Adam Malik Medan, Rabu (20/6).

Dikisahkannya, ia tinggal di situ bersama suami dan ketiga orang anaknya sejak 8 bulan lalu. Sebelumnya mereka tinggal di daerah Pematang Siantar dengan mengontrak rumah. Suaminya hanya bekerja serabutan. Suaminya ditawari kerja makanya mereka mau pindah dan tinggal di gubuk yang sekarang mereka tempati tanpa penerangan listrik itu.

Ia sebenarnya melahirkan dengan normal tanpa ada orang lain tepatnya tanggal 3 Juni lalu. Saat bayinya lahir, suaminya memotong sendiri tali pusar bayinya perempuan mereka dengan gunting. Setelah itu pusar bayi dibalut dengan perban yang baru.

Namun, dua minggu setelah kelahiran anak keempat mereka, tali pusar anaknya timbul kembali. Dengan pengetahuan keduanya yang minim, Yanto coba menghilangkan sisa tali pusar anaknya dengan mengusuk kaki dan perut si bayi. Tetapi, tetap saja tali pusar anak mereka menonjol.

Lalu mereka membawa bayi mereka ke klinik terdekat dari tempat tinggal mereka yang dengan berjalan kaki sekitar 9 jam. Dari klinik inilah baru ada transportasi. Setelah diperiksa, bidan klinik menganjurkan agar bayi tersebut dibawa ke RSUP H Adam Malik.

Berbekal bantuan ala kadarnya dari masyarakat yang iba melihat kondisinya dan si jabang bayi, mereka berdua pergi ke rumah sakit. Sesampai di rumah sakit, keduanya langsung ditangani tim medis.

“Kadang kami makan dengan ubi kalau tidak ada nasi. Suami saya hanya bekerja mendodos sawit milik orang,” tutur Ayu yang tampak kurus dan lemah saat ditemui di rumah sakit.

Kesulitan ekonomi yang menghimpit pasutri ini menyebabkan mereka juga selalu makan hanya dengan ubi bila tidak ada nasi dikarenakan tempat tinggal mereka yang jauh dari rumah warga sekitar. Kondisi ini juga membuat dua anak mereka tidak dapat mengenyam pendidikan.

Ayu juga mengaku merasa bingung karena tidak hanya memikirkan anaknya yang dirawat di rumah sakit, tetapi juga bingung memikirkan ketiga anaknya Dedi Syahputra (12), Kevin (7) dan Intan (3) yang kini tinggal bersama suaminya di gubuk mereka di tengah hutan.

Kasubag Hukum dan Humas RSUP H Adam Malik Sairi M Saragih mengatakan kalau bayi perempuan yang belum diberi nama (bayi Ayu-red) tali pusarnya mengalami tetanus neonatorum atau tetanus pada bayi baru lahir.

“Ayu dan bayinya masuk ke sini tanggal 16 Juni sore lalu dan berat badan bayi saat ditimbang 2,6 kilogram,” kata Sairi.

Saat ini bayi yang baru berusia 17 hari tersebut dirawat intensif di ruangan perinatolgi atau ruang NICU (Neonatologi Intensif Care Unit) rindu B RSUP H Adam Malik dan memakai incubator. Untuk minumnya melalui selang yang dipasang di hidung.

“Kondisinya stabil, suhunya normal. Hanya mengalami kejang dan sudah diberi obat anti kejang, infus, dan lainnya. Kita tidak memikirkan biayanya, yang penting kita merawat intensif si bayi,” ujar Sairi.

Tidak ada yang diharapkan Ayu selain ingin anaknya sembuh dan berterima kasih bila ada dermawan yang mau membantu kesulitan mereka.

Harian Andalas. 2012. Ayah Potong Tali Pusar Bayinya Pakai Gunting. http://harianandalas.com/Berita-Utama/Ayah-Potong-Tali-Pusar-Bayinya-Pakai-Gunting. Diakses tanggal 17 Oktober 2013

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s