Paper Tumbuh Kembang anak: Kasus Gizi Buruk

TUGAS TERSTURKTUR

MATA KULIAH TUMBUH KEMBANG ANAK

PAPER DETERMINAN DAN KEBUTUHAN DASAR TUMBUH KEMBANG

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Tumbuh Kembang Anak

Disusun oleh :

  1. Igusti Ratna Suminar     G1B008119
  2. Siska Fiany                     G1B011006
  3. Hanum Choirunisa         G1B011014
  4. Irfan Febiary                  G1B011026

 

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT

PURWOKERTO

2013

 

BAB I

PENDAHULUAN

Tumbuh-kembang adalah gabungan kata pertumbuhan (growth) dan perkembangan (development). Tumbuh yang peristiwanya disebut pertumbuhan adalah proses yang berhubungan dengan ertambah besarnya ukuran fisik karena terjadi pembelahan dan bertambah banyaknya sel, disertai bertambahnya substansi intersiil pada jaringan tubuh. Kembang yang periswanya disebut perkembangan adalah proses yang berhubungan dengan fungsi organ atau alat tubuh karena terjadinya pematangan (Suyitno dan Narendra, 2002).

Proses tumbuh kembang merupakan hal mendasar bagi kehidupan setiap manusia. Pertumbuhan dan perkembangan terjadi di sepanjang hidup manusia dimulai sejak lahir. Usia dini merupakan fase awal tumbuh-kembang anak yang sangat menenentukankualitas manusia di masa depan. Terdapat kebutuhan dasar tumbuh kembang yang harus dipenuhi sejak dini agar perkembangan selanjutnya bisa lebih optimal.

Kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang secara garis besar dikelompokkan ke dalam tiga kelompok yaitu kebutuhan fisik-biomedis (Asuh), kebutuhan akan kasih sayang atau emosi (Asih), kebutuhan latihan/rangsangan/bermain (Asah)(Soetjiningsih, 2003). Apabila kebutuhan dasar tersebut tidak terpenuhi dengan baik, maka akan beresiko terjadinya gangguan tumbuh kembang. Gangguan tumbuh kembang yang dimungkinkan terjadi salah satunya yaitu gizi buruk.

Kasus gizi buruk merupakan salah satu masalah kesehatan yang belum dapat terselesaikan di Indonesia. Gizi buruk adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami kekurangan atau defisiensi gizi. Kejadian tersebutumumnya dialami oleh bayi, balita dan anak-anak yang kebutuhan fisik-biomedisnya kurang terpenuhi. Kebutuhan gizi yang diperlukan dapat berupa karbohidrat, protein, dan kalori.Selain tidak terpenuhinya kebutuhan dasar terdapat beberapa determinan yang menyebabkan terjadinya gizi buruk. Gizi bruk dapat mengakibatkan anak terhambat dalam proses pertumbuhan maupun perkembangannya

Kasus yang akan dibahas yaitu tentang seorang bayi berumur 6 bulan yang menderita gizi buruk. Bayi tersebut menderita kekurangan gizi ketika berada diluar pengasuhan orang tua kandungnya. Permasalahan tumbuh kembang yang dialami bayi tersebut dilatarbelakangi oleh banyak faktor. Paper ini akan membahas tentang determinan dan kebutuhan dasar tumbuh kembang yang berkaitan dengan masalah gizi buruk pada bayi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KASUS

Rizal adalah seorang bayi laki-laki berumur 6 bulan yang menderita gizi buruk. Rizal yang ditingal pergi kedua orang tuanya ke Malaysia sebagai Tenaga Kerja Indonesia itu, selama ini diasuh oleh orang tua angkatnya. Orang tua Rizal tidak dapat kembali karena tidak memiliki ongkos. Rizal sudah sempat mendapat perawatan di rumah sakit secara intensif agar berat badannya kembali normal. Ketika Rizal pulang dari rumah sakit, kulit Rizal masih terlihat keriput. Sebenarnya Rizal masih membutuhkan perawatan, karena ia juga di diagnosis menderita radang paru-paru. Akan tetapi, orang tua angkatnya tidak memiliki cukup biaya, sehingga memutuskan untuk merawat Rizal dirumah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

LITERATUR REVIEW

Pertumbuhan adalah bertambah jumlah dan besarnya  diseluruhbagian tubuh yang secara kuantitatif dapat diukur, sedangkan perkembangan merupakan bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melalui tumbuh kematangan dan belajar (Wong, 2000). Pertumbuhan dan perkembangan pada anak terjadi mulai dari pertumbuhan dan perkembangan secara fisik, intelektual, maupun emosional. Pertumbuhan dan perkembangan secara fisik dapat berupa perubahan ukuran besar kecilnya fungsi organ mulai dari tingkat sel hingga perubahan organ tubuh. Pertumbuhan dan perkembangan intelektual anak dapat dilihat dari kemampuan secara simbolik maupun abstrak, seperti berbicara, bermain, berhitung membaca, dan lain-lain. Pertumbuhan dan perkembangan secara emosional anak dapat dilihat dari perilaku social di lingkungan anak (Behrman, 2000).

Pertumbuhan mempunyai ciri-ciri khusus, yaitu perubahan ukuran, perubahan proporsi, hilangnya ciri-ciri lama, serta munculnya ciri-ciri baru. Keunikan pertumbuhan adalah mempunyai kecepatan yang berbeda-beda di setiap kelompok umur dan masingmasing organ juga mempunyai pola pertumbuhan yang berbeda. Terdapat 3 periode pertumbuhan cepat, yaitu masa janin, masa bayi 0 – 1 tahun, dan masa pubertas.

Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Secara garis besar faktor-faktor tersebut dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu faktor dalam (internal) dan faktor luar (eksternal/lingkungan).Pertumbuhan dan perkembangan merupakan hasil interaksi dua faktor tersebut. Faktor internal terdiri dari perbedaan ras/etnik atau bangsa, keluarga, umur, jenis kelamin, kelainan genetik, dan kelainan kromosom. Berkaitan dengan faktor umur, seseorang akan mengalami kecepatan pertumbuhan yang sangat pesat pada masa prenatal, tahun pertama kehidupan dan masa remaja (Tanuwidjaya, 2003).

Selain faktor internal, faktor eksternal/lingkungan juga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Faktor eksternal dibagi menjadi faktor prenatal, faktor persalinan dan pasca natal. Faktor gizi pada masa prenatal, nutrisi ibu hamil sangat diperlukan terutama dalam mempengaruhi pertumbuhan janin pada trimester akhir kehamilan. Faktor pasca natal terdir dari gizi, stimulasi, psikologis, dan sosial ekonomi. Berkaitan dengan faktor gizi untuk tumbuh kembang bayi diperlukan zat makanan yang adekuat seperti ASI (Tanuwijaya, 2003).

Menurut Soetjiningsihkebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang secara garis besar dikelompokkan ke dalam tiga kelompok yaitu :

  1. Kebutuhan fisik-biomedis (Asuh)
  2. Kebutuhan akan kasih sayang atau emosi (Asih)
  3. Kebutuhan latihan/rangsangan/bermain (Asah)

Gizi merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap proses tumbuh kembang anak. Sebelum lahir, anak tergantung pada zat gizi yang terdapat dalam darah ibu. Setelah lahir, anak tergantung pada tersedianya bahan makanan dan kemampuan saluran cerna. Hasil penelitian tentang pertumbuhan anak Indonesia (Sunawang, 2002) menunjukkan bahwa kegagalan pertumbuhan paling gawat terjadi pada usia 6-18 bulan. Penyebab gagal tumbuh tersebut adalah keadaan gizi ibu hamil, pola makan bayi yang salah, dan penyakit infeksi. Gizi kurang pada anak balita dapat mempengaruhi perkembangan fisik dan kecerdasan.

Tumbuh kembang seseorang dapat dinilai. Penilaian pertumbuhan dan perkembangan dapat dilakukan sedini mungkin sejak anak dilahirkan. Deteksi dini merupakan upaya penjaringan yang dilaksanakan secara komprehensif untuk menemukan penyimpangan tumbuh kembang dan mengetahui serta mengenal faktor resiko pada balita, yang disebut juga anak usia dini.

Melalui deteksi dini dapat diketahui penyimpangan tumbuh kembang anak secara dini, sehingga upaya pencegahan, stimulasi, penyembuhan serta pemulihan dapat diberikan dengan indikasi yang jelas pada masa-masa kritis proses tumbuh kembang. Upaya-upaya tersebut diberikan sesuai dengan umur perkembangan anak, dengan demikian dapat tercapai kondisi tumbuh kembang yang optimal (Tim Dirjen Pembinaan Kesmas, 1997). Penilaian pertumbuhan dan perkembangan meliputi dua hal pokok, yaitu penilaian pertumbuhan fisik dan penilaian perkembangan. Masing-masing penilaian tersebut mempunyai parameter dan alat ukur tersendiri.

Menurut Pedoman Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita (Tim Dirjen Pembinaan Kesmas, 1997) dan Narendra (2003) macam-macam penilaian pertumbuhan fisik yang dapat digunakan adalah Berat Badan (BB), Tinggi Badan (TB), Pengukuran Lingkar Kepala Anak (PLKA). Pada masa pertumbuhan berat badan bayi dibagi menjadi dua, yaitu usia 0-6 bulan dan usia 6-12 bulan. Untuk usia 0-6 bulan pertumbuhan berat badan akan mengalami penambahan setiap minggu sekitar 140-200 gram dan berat badannya menjadi dua kali berat badan lahir pada akhir bulan ke-6. Sedangkan pada usia 6-12 bulan terjadi penambahan setiap mingu sekitar 25-40 gram dan pada akhir bulan ke-12 akan terjadi penambahan tiga kali lipat berat badan lahir. Pada masa bermain, terjadi penambahan berat badan sekitar empat kali lipat dari berat badan lahir pada usia  kurang lebih 2,5 tahun serta penambahan berat badan setiap tahunnya adalah 2-3 kg.

Pada usia 0-6 bulan bayi akan mengalami penambahan tinggi badan sekitar 2,5 cm setiap bulannya. Pada usia 6-12 bulan mengalami penambahan hanya sekitar 1,25 cm setiap bulannya. Pada akhir tahun pertama akan meningkat kira-kira 50% dari tinggi badan waktu lahir. Pada masa bermain penambahan selama tahun ke-2 kurang lebih 12 cm, sedangkan penambahan untuk tahun ke-3 rata-rata 4-6 cm.Pertumbuhan pada lingkar kepala ini terjadi dengan sangat cepat sekitar enam bulan pertama, yaitu dari 35-43 cm. Pada usia-usia selanjutnya pertumbuhan lingkar kepala mengalami perlambatan. Pada usia 1 tahun hanya mengalami pertumbuhan kurang lebih 46,5 cm. pada usia 2 tahun mengalamii pertumbuhan kurang lebih 49 cm, kemudian akan bertambah 1 cm sampai dengan usia tahun ke-3 dan bertambah lagi kurang lebih 5 cm sampai dengan usia remaja.

Perkembangan dipengaruhi oleh lingkungan biofisikopsikososial dan faktor genetik. Dalam perkembangan terdapat berbagai tahapan yang harus dilalui anak untuk menuju usia dewasa tahapan yang terpenting adalah pada masa tiga tahun pertama, karena pada tiga tahun pertama ini tumbuh kembang berlangsung dengan pesat dan menentukan masa depan anak kelak. Perkembangan pada anak mencakupperkembangan motorik halus, perkembangan motorik kasar perkembangan bahasa, dan perkembangan perilaku/adaptasi social.

Tumbuh kembang juga sangat tergantung pada pola asuh orang tua. Pola pengasuhan beberpa intaranya adalah pola asuh makan (PAM) dan pola asuh kesehatan (PAK). PAM dan PAK berkaitan erat dengan konsumsi, status gizi dan status kesehatan batita. Pengukuran PAM antara lain pemberian ASI, pemberian makanan pendamping ASI, pemberian makanan orang dewasa, dan seterusnya.WHO merekomendasikan bahwabayi harusdiberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, agar dapat mencapai pertumbuhandan perkembangan yang optimal. Selain untuk memenuhi persyaratan perkembangan, bayi harus menerima nutrisiyangmemadaidan makanan pendamping ASI yang aman secara terusmenerus hingga usia dua tahun(WHO / UNICEF, 2003 dalam Muhimbula).

ASI eksklusifmemiliki beberapa keuntungan termasuk dalam meningkatkan imunitas pasif terhadap infeksi,nutrisi untuk perkembangan fisik dan mental, emosionalkeamanan dan kedekatan dengan ibu. ASI eksklusif mengurangi kematian akibat infeksi pernapasan akut dan diare yang merupakan dua penyebab utamakematian bayi di seluruh dunia dan di samping itu memberikan perlindungandari penyakit menular lainnya (Niger, 2010). Anak yang masih menerima ASI atau ASI eksklusif umumnya tidak mengalami kekurangan gizi (Riyadi, 2011).

Makanan pendamping ASI adalah proses untuk memperkenalkanmakananke dalam asupan bayi saatASI saja tidak lagi cukup untuk memenuhi persyaratan gizi  yangdibutuhkan.  Makanan tersebut mendampingi ASI dalam pemenuhan gizi bayi . makanan pendamping ASI umumnya diberikan untuk bayi dengan rentang usia  6 sampai 24 bulanmeskipunasupan ASI tetap diberikan hingga berumur 2 tahun. Pemberian MP ASI tepat waktu dapat meningkatkan status giziyang baikdan mengoptimalkan pertumbuhanpada bayi dan anak-anak. Apabila pengenalan MP ASI dilakukan Terlalu dini atau terlambat  akan meningkatkan risiko yang akan berujung pada keadaan gizi buruk (Muhimbula, 2010).

Soetjiningsih (2003) dalam bukunya menjelaskan bahwa dampak jangka pendek dari kasus gizi buruk adalah anak menjadi apatis, mengalami gangguan bicara serta gangguan perkembangan yang lain. Sedangkan dampak jangka panjang dari kasus gizi buruk adalah penurunan skor IQ, penurunan perkembangan kognitif, gangguan pemusatan perhatian, serta gangguan penurunan rasa percaya diri. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kasus gizi buruk apabila tidak dikelola dengan baik akan dapat mengancam jiwa, dan pada jangka panjang akan mengancam hilangnya generasi penerus bangsa.Selain menghambat perkembangan, gizi buruk juga menghambat pertumbuhan seperti penurunan berat badan secara drastis, kulit keriput dan perut buncit.

 

BAB IV

PEMBAHASAN

Permasalahan yang terjadi pada kasus tersebut adalah seorang bayi yang berusia 6 bulan menderita gizi buruk. Bayi yang bernama Rizal ini, tidak  tumbuh dalam asuhan orang tuanya dikarenakan orang tuanya yang bekerja sebagai TKI ke Malaysia.Rizal diasuh oleh orang tua angkat sehingga ia tidak memperoleh kebutuhan dasarnya yaitu ASI. Orang tua angkat bayi tersebut hanya memberikan susu formula sebagai pengganti ASI. Rizal sudah sempat dirawat dirumah sakit, tetapi masih dalam keadaan yang kurang baik. Kulit rizal masih keriput walaupun kesehatannya sudah mengalami kemajuan. Selain itu, Rizal juga didiagnosis menderita radang paru-paru.

Menurut pertumbuhan dan perkembangan di pengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal terdiri dari perbedaan ras/etnik atau bangsa, keluarga, umur, jenis kelamin, kelainan genetik, dan kelainan kromosom. Dalam kasus ini bayi tersebut mengalami gangguan tumbuh kembang yang disebabkan oleh faktor keluarga dan umur. Faktor keluarga ini termasuk ke dalam penyebab terjadinya kekurangan gizi dikarenakan bayi tersebut tidak memperoleh hak asuh yang semestinya. Hak asuh tersebut merupakan salah satu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Dalam memenuhi kebutuhan dasar orang tua tidak hanya berkewajiban untuk memberikan asuhan kepada anaknya, melainkan juga harus memenuhi kebutuhan psikologis untuk anaknya. Pemenuhan kasih sayang akan memperkuat hubungan emosional antara anak dengan orang tua. Jika kebutuhan psikologis tersebut terpenuhi bayipun akan lebih optimal dalam proses perkembangannya.

Selain faktor keluarga, faktor internal yang mempengaruhi gangguan tumbuh kembang pada bayi tersebut adalah faktor umur. Berkaitan dengan faktor umur, seseorang akan mengalami kecepatan pertumbuhan yang sangat pesat pada masa prenatal, tahun pertama kehidupan dan masa remaja. Rizal berada pada fase tahun pertama kehidupan, oleh karena itu diperklukan asupan gizi yang adekuat untuk menunjang pertumbuhannya. Ketika gizi tersebut tidak terpenuhi maka akan timbul kelainan defisiensi gizi seperti yang dialami rizal.

Umur bayi yang masih terlalu dini, dengan pengasuhan yang kurang tepat menyebabkan bayi akan rentan terserang penyakit maupun kelainan. Bayi rentan terhadap penyakit karena system imun yang terbentuk belum sempurna.  Tidak dipenuhinya asupan ASI kepada bayi semakin memudahkan bayi terkena gizi buruk, karena ASI adalah asupan yang menandung gizi sempurna yang dapat mengoptimalkan tumbuh kembangnya. Penyakit radang paru yang di derita Rizal juga dapat dipengaruhi oleh tidak terpenuhinya kebutuhan ASI yang diperlukan untuk menjaga kekebalan tubuh bayi tersebut.

Faktor eksternal yang mempengaruhi tumbuh kembang anak yaitu faktor lingkungan yang terdiri dari gizi, stimulasi, psikologis, dan sosial ekonomi. Faktor eksternal yang menjadi penyebab defisiensi gizi pada Rizal yaitu kurangnya asupan gizi dan sosial ekonomi yang kurang memadai. Penyebab utama defisiensi gizi tersebut adalah tidak terpenuhinya asupan ASI pada bayi tersebut. Karena tidak terpenuhinya kebutuhan ASI, bayi tersebut kekurangan mikronutrien yang seharusnya ia dapatkan untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang.

Kasus gizi buruk erat hubungannya dengan masalah sosial ekonomi. Dalam kasus ini orang tua angkat Rizal dimungkinkan berada pada tingkat ekonomi menengah ke bawah. Selain tidak memperoleh asupan ASI, belum bisa dipastikan angkat Rizal mengkonsumsi susu formula yang sesuai dengan kebutuhan gizinya. Berdasarkan pustaka faktor sosial juga berperan dalam mempengaruhi jenis asupan yang diberikan pada Rizal.

Akibat gizi buruk yang dialami, pertumbuhan Rizal terganggu. Hal ini terlihat dari kondisi fisik yang menunjukan berat badan yang menurun dan kulit yang keriput. Kulit keriput ini disebabkan karena Rizal kekurangan mikronutrien yang diperlukan untuk menunjang pertumbuhannya. Gizi buruk yang dialami Rizal ini harus segera ditangani karena jika tidak segera ditangani akan berdampak buruk pada perkembangan. Telah dijelaskan oleh Soetjiningsih bahwa dampak jangka pendek dari kasus gizi buruk adalah anak menjadi apatis, mengalami gangguan bicara serta gangguan perkembangan yang lain. Sedangkan dampak jangka panjang dari kasus gizi buruk adalah penurunan skor IQ, penurunan perkembangan kognitif.

 

BAB V
PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Pertumbuhan adalah proses perubahan fisik dari seseorang yang dapat diukur. Sedangkan Perkembangan adalah suatu proses pendewasaan fungsi alat tubuh sehingga dari yang tidak bisa menjadi bisa. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan, terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Kebutuhan dasar tumbuh kembang yaitu kebutuhanfisi-biomedis (Asuh), kebutuhan emosi (Asih) dan kebutuhan mental (Asah). Gizi buruk yang dialami oleh Rizal termasuk kedalam kelainan berupa defisiensi gizi yang dapat menghambat proses tumbuh kembang. Faktor-faktor yang menebabkan riza kekurangan gizi diantaranya adalah kurangnya pemenuhan kebutuhan yang berkaitan dengan faktor gizi, social-ekonomi, umur, keluarga, pemenuhan kebutuhan dasar fisik dan emosi.

  1. Saran

Orang tua hendaknya memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anak dengan mengasuh, mengasihi dan mengasah kemampuan anaknya. Terutama pada tahun pertama kehidupan, agar anaknya kelak menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.

Daftar Pustaka

Behrman, R.E. dkk.2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Volume 1. Diterjemahkan oleh A. Samik Wahab. Jakarta: EGC.

Masithah, Tita. dkk. 2005. Hubungan Pola Asuh Makan Dan Kesehatan Dengan Status Gizi Anak Batita Di Desa Mulya Harja. Meia Gizi & Keluarga 29 (2): 29-39.

Masrizal, Mellova Amir. 2003. Effects Of Protein-Energy Malnutrition On The Immune System. Makara, Sains, Vol. 7(2): 69-73.

Muhimbula, Happiness S. 2010. Persistent Child Malnutrition in Tanzania: Risks Associated with Traditional Complementary Foods (A review).African Journal of Food Science Vol. 4(11): 680-692.

Narendra, Moersintowati B. dkk. 2008. Tumbuh Kembang Anak dan Remaja Edisi Pertama. Jakarta: IDAI.

Niger, Mst. Tamanna. dkk. 2010. Determinants of Malnutrition among the Children under 2 Years of Age. Pakistan Journal of Nutrition 9 (1): 27-34.

Riyadi, Hadi dkk. 2011. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi Anak Balita di Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Jurnal Gizi dan Pangan 6(1): 66-73.

Soetjiningsih. 2003. Perkembangan Anak dan Permasalahannya. Jakarta: EGC.

Suhendri. 2012. Orangtua ke Malaysia, Bayi 6 Bulan Derita Gizi Buruk. Bangkapos.com diakses tanggal 7 Maret 2013

Tanuwijaya, S. 2003. Konsep Umum Tumbuh dan Kembang. Jakarta: EGC

Wong, D.L.2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Diterjemahkan oleh Monica Ester. Jakarta: EGC.

 

Orangtua ke Malaysia, Bayi 6 Bulan Derita Gizi Buruk

Bangkapos.com – Sabtu, 8 September 2012 22:58 WIB

BANGKAPOS.COM, SINJAI – Bayi berusia 6 bulan penderita gizi buruk, Rizal Alqadri, mendapatkan perawatan intensif di ruang perawatan anak, Rumah Sakit Umum Daerah Sinjai, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan.

Rizal yang ditinggal pergi kedua orang tuanya ke Malaysia sebagai Tenaga Kerja Indonesia itu, selama ini diasuh oleh orang tua angkatnya Mardiana di jalan Bulo-Bulo Timur, Kelurahan Bongki, Kecamatan Sinjai Utara.

“Kedua orang tua Rizal berada di Malaysia sebagai TKI, kedua orang tua Rizal tidak dapat kembali karena tidak punya ongkos,” kata Mardiana, kepada wartawan, Sabtu (8/9/2012).

Mardiana yang setiap harinya berdagang di pasar tradisional menceritakan, kedua orang tua Rizal, Marwah dan Saleh menyerahkan Rizal kepada dirinya, saat Rizal masih berusia 2 bulan. Mardiana tidak mengetahui pasti berat badan Rizal saat baru lahir. Saat ini, bayi laki-laki itu mendapat perawatan intensif agar berat badannya dapat kembali normal.

“Alhamdulillah, berat badannya sudah berangsur-angsur bertambah, kendati kulitnya masih terlihat mengeriput dan mengering,” kata perawat RSUD Sinjai, Andi Tenri Yusuf. Tenri menambahkan saat masuk ke rumah sakit, berat badan Rizal hanya berkisar 3,5 kilogram. Namun setelah mendapat perawatan rumah sakit selama seminggu, kini berat badan Rizal sudah naik 2 ons.

Selain menderita gizi buruk, Rizal juga mengalami radang paru-paru. Sehingga pihak rumah sakit memberikan pelayanan khusus bagi Rizal. Tenri mengaku orang tua angkat Rizal sudah beberapa kali meminta Rizal untuk dirawat di rumah saja, namun pihak rumah sakit masih menahannya karena balita itu belum sembuh total.

 

Editor : suhendri

Sumber : Kompas.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s