Praktikum Lab. K3: Pengukuran Temperatur Efektif

LAPORAN PRAKTIKUM
LABORATORIUM KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

ACARA 5
PENGUKURAN TEMPERATUR EFEKTIF

Oleh :

Siska Fiany G1B011006
Ba’da Febriani G1B011009
Nurendah Agung Permatawati G1B011040
Novy Nur Kusumawardhani G1B011041
Mochamad Iqbal G1B011045
Indri Nur Oktaviani G1B011062
Meta Ulan Sari G1B011071
Siti Nurul Afiyanti G1B011072

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
PURWOKERTO

2014

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lingkungan kerja adalah tempat di mana pegawai melakukan aktivitas setiap harinya (Sihombing, 2004). Lingkungan kerja yang kondusif memberikan rasa aman dan memungkinkan pegawai untuk dapat bekerja optimal. Lingkungan kerja berpengaruh langsung terhadap sikap kerja dan menentukan prestasi kerja pegawai. Lingkungan kerja yang menyenangkan membuat sikap pegawai positif dan memberi dorongan untuk bekerja lebih tekun dan lebih baik. Sebaliknya, jika situasi lingkungan tidak menyengangkan mereka cenderung meninggalkan lingkungan tersebut (Idrus, 2006).
Ghiselli dan Brown (dalam Idrus, 2006) menyatakan bahwa lingkungan kerja berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas hasil kerja karyawan. Kuantitas dan kualitas hasil kerja yang optimal akan diperoleh apabila ada kenyamanan dalam lingkungan kerja. Kenyamanan dalam bekerja dipengaruhi oleh lingkungan kerja atau kondisi kerja dan faktor yang berkaitan dengan kerja tersebut. Kondisi kerja berkaita dengan faktor seperti cahaya, suhu asap, keamanan, kecelakaan, bising, debu, bau dan hal semacam itu yang mempengaruhi kinerja suatu pekerjaan atau kesejahteraan umum pekerja.
Sebagaimana telah dijelaskan untuk menyelenggarakan aktivitasnya di dalam ruang agar terlaksana secara baik, manusia memerlukan kondisi fisik tertentu di sekitarnya yang dianggap nyaman. Salah satu persyaratan kondisi fisik yang nyaman adalah suhu nyaman, yaitu satu kondisi termal udara di dalam ruang yang tidak mengganggu tubuhnya (Rilatupa, 2008). Suhu ruang yang terlalu rendah akan mengakibatkan kedinginan atau menggigil, sehingga kemampuan beraktivitas menurun. Sementara itu, suhu ruang yang tinggi akan mengakibatkan kepanasan dan tubuh berkeringat, sehingga mengganggu aktivitas juga. Dapat dikatakan kondisi kerja akan menurun atau tidak maksimum pada kondisi udara yang tidak nyaman. Oleh karena itu, dalam pekerjaan sehari-hari pegawai harus berada pada tempat kerja dengan suhu yang efektif.
Suhu efektif sebenarnya adalah suhu udara gabungan dengan kelembaban dan kecepatan gerak udara yang menimbulkan keadaan sifat panas (termal) yang sama (van Straaten, 1967 dalam Ahmad, 2008). Indonesia mempunyai iklim tropis dengan karakteristik kelembaban udara yang tinggi (dapat mencapai angka 80%), suhu udara relatif tinggi (dapat mencapai hingga 35¬oC), serta radiasi matahari yang menyengat serta mengganggu. Keadaan semacam ini dapat mengakibatkan tekanan panas pada pekerja (Talarosha, 2005).

Tekanan panas merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan agar produktivitas, penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja dapat dikendalikan secara maksimal mungkin. Tekanan panas merupakan faktor bahaya yang berpengaruh terhadap tenaga kerja, karena tekanan panas akan memberikan beban tambahan disamping beban kerja dari tenaga kerja itu sendiri dan jika tidak dikendalikan dengan baik sehingga melebihi nilai batas yang di perkenankan maka dapat menyebabkan penyakit akibat kerja dan dapat menurunkan produktivitas tenaga kerja (Santoso, 1985 dalam Annuriyana, 2010). Maka dari itu, diperlukan pengukuran terhadap suhu efektif di tempat kerja apakah hasilnya sudah memenuhi standar atau tidak agar bisa ditentukan pengendalian yang tepat.

B. Tujuan
Melakukan pengukuran temperatur efektif pada tempat kerja.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Suhu dan Suhu Efektif
Suhu adalah besaran yang menyatakan derajat panas dingin suatu benda dan alat yang digunakan untuk mengukur suhu adalah termometer. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat untuk mengukur suhu cenderung menggunakan indera peraba. Tetapi dengan adanya perkembangan teknologi maka diciptakanlah termometer untuk mengukur suhu dengan valid. Sedangkan suhu efektif yaitu Suhu efektif sebenarnya adalah suhu udara gabungan dengan kelembaban dan kecepatan gerak udara yang menimbulkan keadaan sifat panas (termal) yang sama (Batara, 2011). Berikut ini merupakan penjelasan dari suhu efektif:
1. Suhu Udara
Suhu lingkungan kerja dengan kehidupan sangat erat hubungannya. Kehidupan manusia dengan suhu di antara 0-30˚C, sedangkan suhu minimum dengan maksimum adalah -70˚C sampai 50˚C. Demikian pula efek cuaca kerja kepada daya kerja. Efisiensi kerja sangat dipengaruhi oleh cuaca kerja dalam daerah nikmat kerja sekitar 24-26˚C bagi orang-orang Indonesia. Suhu yang panas terutama berakibat menurunnya prestasi kerja pikir. Suhu panas mengurangi kelincahan, memperpanjang waktu reaksi dan waktu pengambilan keputusan, mengganggu kecermatan kerja otak, mengganggu untuk dirangsang. Kerja pada suhu tinggi dapat membahayakan, karenanya harus disertai penyesuaian waktu kerja dan perlu perlindungan yang tepat (Suma’mur, 1996 dalam Batara, 2011).
Suhu udara dapat diukur dengan dengan termometer dan di sebut suhu kering. Suhu basah adalah suhu yang ditunjukkan oleh termometer yang dibasahi dan ditiupkan udara kepadanya, dengan demikian suhu tersebut menunjukkan kelembaban relative (Suma’mur, 1996 dalam Batara, 2011).

2. Kelembaban Udara
Kelembaban udara dapat di bedakan menjadi :
a. Kelembaban Absolut
Kelembaban absolut adalah berat uap air per unit volume udara (misal : sekian gram air per satu liter udara).
b. Kelembaban Relatif
Kelembaban relatif adalah rasio dari banyaknya uap air dalam udara pada suatu temperatur terhadap banyaknya uap air dalam udara telah jenuh dengan uap air pada temperatur tersebut yang dinyatakan dalam persen (Suma’mur, 1996 dalam Batara, 2011).
3. Kecepatan Gerak Udara
Kecepatan gerakan udara yang besar dapat diukur dengan suatu anemometer. Anemometer merupakan alat ukur kecepatan angin yang sering digunakan oleh BMKG, untuk mengukur kecepatan angina . Sedangkan kecepatan kecil dapat diukur dengan termometer kata (Suma’mur, 1996 dalam Batara, 2011).
B. Penggolongan Suhu
Departemen Kimpraswil melalui proses yang panjang telah mempersiapkan beberapa standar yang berkaitan dengan masalah peningkatan kenyamanan termal ruang dalam bangunan. Standar ini dapat diacu sebagai pedoman dalam perancanaan bangunan gedung. Standar tersebut diantaranya adalah SNI T 03-6572-2001. Standar kenyamanan termal untuk daerah tropis seperti Indonesia dapat dibagi menjadi :
1. Sejuk nyaman, antara suhu efektif 20,8º C – 22,8º C
2. Nyaman optimal, antara suhu efektif 22,8º C -25,8º C
3. Hangat nyaman, antara suhu efektif 25,8º C – 27,1º C
Mengenai kenyamanan di dalam suatu bangunan telah dikemukakan oleh Givoni dan Koenigsberger (dalam Batara, 2011), tingkat kenyamanan suhu biasanya dibagi atas: dingin tak nyaman, sejuk nyaman, nyaman atau optimal nya-man, hangat nyaman, dan panas tidak nyaman.Optimal nyaman orang Indonesia ialah pada suhu udara 28oC, kelembaban udara nisbi 70% atau 25,8oC suhu efektif dengan batas bawah 24oC, kelembaban udara 80% atau 22,8oC suhu efektif.
C. Suhu efektif sebagai indikator tekanan panas
Indikator tekanan panas dalam industri dimaksudkan sebagai cara pengukuran dengan menyatukan efek sebagai faktor yang mempengaruhi pertukaran panas manusia dan lingkungannya dalam satu indeks tunggal. Terdapat beberapa cara untuk menetapkan besarnya tekanan panas salah satunya adalah dengan mengukur suhu efektif. Suhu Efektif (Corected Effectif Temperature) indeks sensoris dari tingkat panas yang dialami oleh seseorang tanpa baju, kerja enteng dalam berbagai kombinasi suhu, kelembaban dan kecepatan aliran udara (Suma’mur P.K., 1996 dalam Batara, 2011). Kelemahan penggunaan suhu efektif adalah tidak memperhitungkan panas metabolisme tubuh sendiri. Untuk penyempurnaan pemakaian suhu efektif dengan memperhatikan panas radiasi, dibuatlah Skala Suhu Efektif Dikoreksi (Corected Effectife Temperature Scale).
Standar mengenai interpretasi hasil pengukuran suhu efektif adalah sebagai berikut:
1. Jika temperatur efektif ≥ 28oC dapat terjadi heat stroke
2. Jika temperatur efektif ≥ 33oC dapat terjadi heat stroke besar
D. Mekanisme Panas Tubuh
Didalam kehidupan, tubuh manusia selalu memproduksi panas. Proses dalam menghasilkan panas ini disebut metabolisme. Proses metabolisme dalam tubuh merupakan proses kimiawi, dan proses ini terus berlangsung supaya kehidupan manusia dapat dipertahankan. Hasil dari metabolisme ini antara lain adalah energi dan panas. Panas yang dihasilkan inilah yang merupakan sumber utama panas tubuh manusia. Dengan demikian panas akan terus dibentuk walaupun dalam keadaan istirahat, selama proses metabolism berlangsung (Depkes RI, 2003).
Tubuh manusia selalu akan menghasilkan panas sebagai akibat dari proses pembakaran zat-zat makanan dengan oksigen. Bila proses pengeluaran panas oleh tubuh terganggu, maka suhu tubuh akan meningkat. Antara tubuh dan lingkungan sekitarnya selalu terjadi pertukaran panas dan proses pertukaran panas ini tergantung dari suhu lingkungannnya (Siswanto, 1987 dalam batara, 2011).
Bila suhu tubuh diturunkan terjadi vasodilatasi pembuluh darah kulit, yang menyebabkan suhu kulit mendekati suhu tubuh. Suhu tubuh manusia yang dapat kita raba atau rasakan tidak hanya didapat dari metabolisme tetapi juga dipengaruhi oleh panas lingkungan. Makin tinggi panas lingkungan, semakin besar pula pengaruhnya terhadap suhu tubuh. Sebaliknya semakin rendah suhu lingkungan, makin banyak pula yang hilang. Dengan kata lain, terjadi pertukaran panas antara tubuh manusia yang didapat dari metabolisme dengan tekanan panas yang dirasakan sebagai kondisi panas lingkungan. Selama pertukaran ini seimbang dan serasi, tidak akan menimbulkan gangguan, baik penampilan kerja maupun kesehatan kerja (Depkes RI, 2003) dikutip oleh (Muflichatun, 2006).
E. Pertukaran Panas Tubuh Dengan Lingkungan Sekitar
Produksi panas di dalam tubuh tergantung dari kegiatan fisik tubuh, makanan, pengaruh dari berbagai bahan kimiawi, dan gangguan pada sistim pengatur panas, misalnya pada keadaan demam. Faktor-faktor yang menyebabkan pertukaran panas di antara tubuh dengan dengan sekitarnya adalah (Suma’mur P.K.,1996 dalam Batara, 2011):
1. Konduksi
Konduksi adalah pertukaran panas diantara tubuh dan sekitarnya dengan melalui sentuhan atau kontak. Konduksi dapat menghilangkan panas dari tubuh apabila benda-benda sekitarnya lebih dingin suhunya dan dapat menambah panas kepada tubuh manakala benda-benda sekitarnya lebih panas suhunya.
2. Konveksi
Konveksi adalah pertukaran panas dari badan dengan lingkungan melalui kontak udara dengan tubuh.

3. Radiasi
Pertukaran panas antara tubuh dengan benda padat disekitarnya yaitu dengan cara menyerap atau memancarkan energy panas.
4. Evaporasi
Evaporasi merupakan pertukaran panas dengan penguapan, misalnya : panas dari tubuh dikeluarkan berupa keringat yang dikeluarkan melalui pori-pori kulit.
F. Efek Tekanan Panas Terhadap Tubuh
Efek Tekanan Panas Terhadap Tubuh adalah sebagai berikut:
1. Heat Cramp: kejang-kejang otot tubuh dan perut yang dapat menimbulkan rasa sakit, pingsan, lemah, neg dan muntahmuntah.
2. Heat Exhaustion: biasanya mengeluarkan keringat sangat banyak, mulut kering, sangat haus, lemah dan sangat lemah. Dapat terjadi pada keadaan dehidrasi.
3. Heat Stroke: Suhu badan naik, kulit kering dan panas, tremor. Keadaan ini disebabkan karena aliran darah ke otak tidak cukup karena sebagian besar aliran darah di bawa kepermukaan kulit yang disebabkan karena pemaparan suhu tinggi.
4. Miliaria: kelainan kulit sebagai akibat keluarnya keringat yang berlebihan. Tampak adanya bintik kemerahan pada kulit yang terasa nyeri bila kepanasan. Hal ini terjadi sebagai akibat sumbatan kelenjar keringat dan terjadi retensi keringat disertai reaksi peradangan (Depkes RI, 2003).
G. Pengendalian Lingkungan Kerja Panas
Pengendalian pengaruh pemaparan tekanan panas terhadap tenaga kerja dapat dilakukan dengan koreksi tempat kerja, sumbersumber panas lingkungan dan aktivitas kerja yang dilakukan. Koreksi tersebut dimaksudkan untuk menilai efektifitas dari system pengendalian yang telah dilakukan di masing-masing tempat kerja. Secara ringkas teknik pengendalian terhadap pemaparan tekanan panas di perusahaan dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Mengurangi faktor beban kerja.
2. Relokasi proses kerja yang menghasilkan panas.
3. Menurunkan temperatur udara dari proses kerja yang menghasilkan panas.
4. Penggunaan tameng anti panas dan alat pelindung yang dapat memantulkan panas.
5. Penyediaan tempat sejuk yang terpisah dengan proses kerja untuk pemulihan.
6. Lama Kerja
Untuk menghindari terjadinya gangguan kesehatan akibat terpapar suhu udara yang tinggi, lamanya kerja dan istirahat harus disesuaikan dengan tingkat tekanan panas yang dihadapi oleh pekerja. (Bernard, 1996) dikutip oleh (Muflichatun 2006).

BAB III
METODE DAN BAHAN
A. Metode
Metode yang yaitu pengukuran temperatur efektif dengan grafik temperature efektif.
B. Bahan
1. Angin yang diukur kecepatannya
2. Tempat kerja yang diukur suhu dan kelembabannya
C. Alat
1. Termometer basah
2. Termometer kering
3. Anemometer
4. Grafik temperatur efektif
D. Prosedur pengukuran

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengukuran
1. Temperatur basah : 27oC
2. Temperatur kering : 26oC
3. Kecepatan angin : 1/3 m/s
4. Temperatur efektif : 26oC

B. Pembahasan
Praktikum kali ini bertujuan untuk melakukan penguuran suhu efektif. Menurut Suma’mur, 1996 (dalam Batara, 2011) Suhu Efektif (Corected Effectif Temperature) merupakan indeks sensoris dari tingkat panas yang dialami oleh seseorang tanpa baju, kerja enteng dalam berbagai kombinasi suhu, kelembaban dan kecepatan aliran udara. Suhu efektif merupakan salah satu indikator adanya tekanan panas di tempat kerja. Dimana hasil pengukuran suhu efektif bisa dijadikan pembanding terhadap standar agar diketahui adanya tekanan panas di tempat kerja yang harus dikendalikan. Namun pengukuran suhu efektif ini memiliki kelemahan karena tidak memperhitungkan pengaruh radiasi yang ada.
Tempat dilakukannya pengukuran pada praktikum kali ini adalah daerah pintu masuk kampus program studi Pendidikan jasmani, kesehatan dan Rekreasi (PJKR). Hasil pengukuran menunjukkan bahwa temperatur basah dari tempat yang diukur adalah 27oC, temperatur kering 26oC dan kecepatan angin 1/3 m/s, sehingga suhu efektif yang didapatkan setelah dibandingkan dengan grafik adalah 26oC. Hasil menunjukkan bahwa suhu efektif yang didapatkan tidak melebihi standar atau masih dalam keadaan wajar. Dimana suhu efektif < 28 oC, sehingga bisa disimpulkan tempat yang diukur cenderung tidak berisiko akan tejadinya heat stroke pada pekerja.
Tercantum dalam SNI T 03-6572-2001 bahwa suhu 26oC termasuk dalam lingkungan yang tergolong hangat nyaman, dikarenakan lingkungan hangat nyaman antara suhu efektif 25,8º C – 27,1º C. Salah satu persyaratan kondisi fisik yang nyaman adalah suhu nyaman, yaitu satu kondisi termal udara di dalam ruang yang tidak mengganggu tubuhnya. Maka, bisa dikatakan daerah tersebut merupakan ruangan yang sudah baik dari segi pengaturan suhu dan perlu dipertahankan agar suhu efektif tetap dalam batas normal.
Suhu nyaman atau disebut kenyamanan termal Menurut ASHRAE (American Society of Heating, Refrigerating and Airconditioning Engineers, 1989 dalam Susanti dan Aulia, 2013), kenyamanan termal merupakan perasaan dimana seseorang merasa nyaman dengan keadaan temperatur lingkungannya, yang dalam konteks sensasi digambarkan sebagai kondisi dimana seseorang tidak merasakan kepanasan maupun kedinginan pada lingkungan tertentu. Arah bangunan dan ventilasi yang ada juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi suhu yang nyaman. Susanti dan Aulia (2013) menyatakan bahwa arah bangunan yang menghadap atau membelakangi sinar matahari berpengaruh terhadap kenyamanan, selain itu letak maupun jumlah ventilasi yang terkait dengan pertukaran udara juga berpengaruh terhadap kenyamanan. Seiring kemajuan teknologi, dalam mengusahakan lingkungan menjadi lebih nyaman secara termal, salah satu caranya adalah dengan memasang mesin penyejuk yang biasa dikenal dengan air conditioner.
Efisiensi kerja sangat dipengaruhi oleh cuaca kerja dalam daerah nikmat kerja sekitar 24-26˚C bagi orang-orang Indonesia. Bisa dilihat bahwa suhu 26oC termasuk dalam daerah kerja yang menimbulkan kenyamanan bagi pekerja. Suhu yang nyaman harus senantiasa dipertahankan, karena jika suhu panas terutama berakibat menurunnya prestasi kerja pikir. Suhu panas mengurangi kelincahan, memperpanjang waktu reaksi dan waktu pengambilan keputusan, mengganggu kecermatan kerja otak, mengganggu untuk dirangsang (Suma’mur, 1996 dalam Batara, 2011). Depkes RI (2003) menyatakan efek tekanan panas terhadap tubuh bisa jugamenyebabkan terjadinya heat cramp, heat exhaustion, heat stroke dan miliaria. Kerja pada suhu tinggi dapat membahayakan, karenanya harus disertai penyesuaian waktu kerja dan perlu perlindungan yang tepat (Suma’mur, 1996).
Tidak hanya suhu panas, suhu rendah juga dapat megakibatkan permasalahan pada tenaga kerja. Suhu ruang yang terlalu rendah akan mengakibatkan kedinginan atau menggigil, sehingga kemampuan beraktivitas menurun. Sementara itu, suhu ruang yang tinggi akan mengakibatkan kepanasan dan tubuh berkeringat, sehingga mengganggu aktivitas juga. Dapat dikatakan kondisi kerja akan menurun atau tidak maksimum pada kondisi udara yang tidak nyaman (Rilatupa, 2008). Oleh karena itu, suhu yang nyaman sangat diperlukan untuk menigkatkan efisiensi kerjasehinnga produktivitas kerja pun akan meningkat.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Pengukuran suhu efektif tempat kerja dilakukan dengan mengukur suhu basah, suhu kering dan kecepatan angin yang kemudian hasilnya dihitung dengan menggunakan grafik suhu efektif. Alat yang digunakan dalam pengukuran ini adalah termometer basah, termometer kering dan anemometer digital.

B. Saran
1. Sebaiknya suhu efektif yang sudah baik ini (26oC) dipertahankan agar pegawai tetap nyaman dalam bekerja.
2. Sebaiknya pengukuran suhu efektif dilakukan dalam ruangan tempat kerja tertentu yang digunakan secara rutin digunakan oleh pegawai agar dapat diketahui bahwa suhu efektif yang ada sudah memenuhi standar untuk pekerja.
3. Sebaiknya terdapat penjelasan terlebih dahulu mengenai tujuan pengukuran suhu efektif yang lebih jelas agar praktikan lebih optimal dalam memahami prktikum ini.
4. Sebaiknya perlatan laboratorim keselamatan dan kesehatan kerja ditambah khususnya alat pengukur Indeks Suhu Basah Bola (ISBB), karena pengukuran suhu efektif masih belum memperhitungkan pengaruh radiasi.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, M. 2008. Kenyamanan Lingkungan Kerja di Kapal Perikanan. Jurnal Ilmu Lingkungan. Vol. 2 (2) hal: 1- 11.
Annuriyana, Eka. 2010. Hubungan Tekanan Panas Dengan Produktivitas Tenaga Kerja Bagian Pencetakan Genteng di Desa Jelobo Wonosari Klaten. Skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Surakarta
Batara, M. 2011. Pengaruh Tekanan Uap Saat Perebusan Tandan Buah Segar Kelapa Sawit ( TBS ) Dan Terhadap Kekuatan Dinding Sterilizer Di PKS Dolok Sinumbah. Karya akhir. Program Diploma IV Teknologi Instrumentasi Pabrik Departemen Teknik Elektro Universitas Sumatera Utara. Medan.
Depkes RI, 2003. Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan. Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat. Jakarta.
Idrus, .muhammad. 2006. Implikasi Iklim Organisasi Terhadap Kepuasan Kerja dan Kualitas Kehidupan Kerja Karyawan. Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro. Vol.3 (1) hal: 94-106.
Muflichatun. 2006. Hubungan antara Tekanan Panas, Denyut Nadi dan Produktivitas Kerja pada Pekerja Pandai Besi Paguyuban Wesi Aji Donorejo Batang. Skripsi, Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang. Semarang.
Rilatupa, James. 2008. Aspek Kenyamanan Termal pada Pengkondisian udara dalam. Jurnal Sains dan Teknologi EMAS. Vol. 18 (3), hal: 191-198.
Sihombing,Umberto. 2004. Pengaruh Keterlibatan Dalam Pengambilan Keputusan, Penilaian pada Lingkungan Kerja dan Motivasi Berprestasi Terhadap Kepuasan Kerja Pamong Praja. http://www.depdiknas.go.id. Di akses tanggal 25 Desember 2014.
SNI 03 – 6572 – 2001 Tentang Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi Dan Pengkondisian Udara Pada Bangunan Gedung. http://ciptakarya.pu.go.id/pbl/asset/doc/sni/SNI_VENTI.PDF. Di akses tanggal 25 Desember 2014.
Susanti, L., dan Nike A. 2013. Evaluasi Kenyamanan Termal Ruang Sekolah SMA negeri Di Kota Padang. Jurnal Optimasi Sistem Industri. Vol. 12 (1) Hal :310-316.
Talarosha, Basaria. 2005. Menciptakan Kenyamanan Thermal dalam Bangunan. Jurnal Sistem Teknik Industri. Vol. 6 (3) hal: 148-158.

LAMPIRAN

Semoga Bermanfaat🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s