Berteman si pemantik, berkobar semangatku

Tahun 2004..

Aku mengingatnya ketika aku dipilih mewakili sekolahku (SDN Sleman 4) bersama dua teman lain untuk mengikuti lomba murid teladan tingkat kecamatan. Jangan kau kira aku adalah anak yang ambisius, tidak! Saat itu, aku hanyalah anak kecil yang mencoba melakukan yang terbaik pada tugasku sebagai pelajar. Mungkin keberuntunganku adalah mewarisi gen ibuku yang –katanya- pintar saat di SD, ya.. karena beliau memang hanya sempat mengenyam pendidikan di SD saja. Ok..Kala itu ketika berlangsungnya lomba aku berada di satu ruangan di SDN 1 Sliyeg di kecamatan tempat aku tinggal. Sedangkan aku berasal dari desa yang menurut anak SD sangat jauh jaraknya dari kecamatan, bahkan berbatasan dengan kecamatan sebelah. Di sebuah ruangan, aku dipertemukan dengan peserta lain yang entah siapa dan dari mana saja. Dua temanku yang lain pun mereka berada pada ruangan terpisah. Jujur saja tubuhku gemetaran panas dingin, meski sebelumnya telah diberi asupan semangat oleh ibu Ningsih yang beberapa hari lalu dengan sabarnya mengajariku mempersiapkan perlombaan. Ya inilah waktu perdanaku berkompetisi dan disandingkan dengan orang – orang asing.  Sebelum beranjak dari depan ruangan itu, ibu Ningsih tersenyum padaku dan mengepalkan tangannya sambil berbisik “semangat”. Akupun cukup mempunyai energy dan mencoba melesaikan tugasku dengan usaha yang terbaik.

Singkat cerita hari pengumuman perlombaan pun datang, Alkhamdulillah pak Ali salah satu guru di SDku yang sedang berdiri di depan kelas itu berkata “Selamat FIkas, kamu juara 2 murid teladan. Persiapkan untuk perlombaan selanjutnya ya, karena dari juara 1, 2, dan 3 akan ditandingkan lagi dan yang terbaik akan dipilih untuk mewakili kecamatan di tingkat kabupaten”. Alkhamdulillah wa syukurillah.. mimpi apa aku semalam.. aku tak menyangka bahwa akan masuk tiga besar, walau bagaimanapun aku sangat bersyukur kala itu. Lomba tahap 2 dimulai, hari itu aku dipertemukan dengan perwakilan dari SDN Sliyeg 1 dan SDN Tambi 1. Sama seperti tahap 1, masing – masing SD mengirimkan 3 perwakilannya. Setelah lomba selesai, sebelum pulang kami bersembilan saling berkenalan dan disitulah aku dipertemukan dengan si pemantik bernama Ugie yang berasal dari SDN 1 Sliyeg. Namun sayangnya, timku tidak berhasil menjadi juara 1 dan tim dari Sliyeglah yang beruntung maju ke Kabupaten, Ugie salah satunya.

Inilah awal kisahku dengan Ugie. Seorang sahabat yang dari dulu hingga sekarang selalu meginspirasiku menjadi seseorang yang lebih baik. Menjadi anak yang membanggakan, menjadi teman yang mengesankan, menjadi orang yang serba bisa, seimbang dalam segala hal. Aku terus dan terus belajar darinya ketika semangatku melemah untuk menggapai cita. Terima kasih Ugie.

Beberapa bulan kemudian ada lomba siaga dan aku menjadi salah satu personel lomba gerak jalan. Saat aku dan teman – teman menunggu antrian gerak jalan. Posisiku saat itu membelakangi jalan raya, kemudian terdengar yel – yel yang menyebutkan SDN Sliyeg 1. Mereka menyanyikan yel – yel dengan semangat 45, diiringi dengan derap tepukan yang kompak. Terlebih murid perempuan yang memimpin yel-yel itu, suaranya sangat lantang dan mengesankan. sepertinya aku mengenal suaranya, gumamku. Akupun tertarik untuk melihatnya, dan ternyata itu adalah Ugie. Dari kejauhan aku hanya berdecak kagum melihatnya, karena aku bukan tipe anak pemberani dan mungkin menolak jika ditunjuk untuk menjadi komandan gerak jalan.

Tahun 2005..

Semasa Try Out SD, khususnya adalah try out tingkat kecamatan. Namun tidak semua anak kelas 6 yang dapat mengikuti, hanya 5 siswa saja yang dipilih dari masing – masing SD di kecamatan Sliyeg. Aku dipilih menjadi salah satu peserta try out itu. Acara hari itupun selesai, aku dan teman – temanku hendak pulang ke rumah dengan berjalan kaki, karena beruntung tempatnya dilaksanakan di SD tetangga (SDN Sleman 3) yang terhitung dekat dari rumahku. Sebelum menyeberang jalan menuju rumah, aku melihat Ugie sedang berdiri sendiri hanya ditemani tiang listrik pinggiran jalan raya. itu Ugie bukan ya? Akupun menghampirinya.

“Gie, ngapain?” suaraku mengagetkannya.

“Eh… ini nunggu jemputan.” Jawabnya dengan sedikit terbata – bata.

“eumm.. maaf nama kamu siapa ya? Ugie kebingungan.

Ugie tampaknya lupa denganku, “ini aku Fikas, kita kenalan waktu lomba murid teladan ituloh..”

“Oh.. iya aku ingat, kamu habis try out juga?”

“iya…ini aku mau pulang sama temen – temen, tuh rumahku masuk gang itu” jariku menunjukkan gang rumahku tepat di angka jarum jam 10.

Aku memang suka berkenalan dengan orang/teman baru, sehingga berusaha bersikap ramah dengannya. Karena Ugie menunggu sendirian, aku pun menemani dia menunggu jemputan. Tidak lama kemudian, orang yang menjemput Ugie pun datang.

“Aku pulang dulu ya” Kata Ugie.

“Iya hati – hati” Jawabku. Kami pun berpisah.

Ujian Nasional telah dilaksanakan, waktunya menunggu pengumuman sembari menentukan SMP  yang akan dipilih untuk melanjutkan sekolah. Aku ingat sekali, terjadi perdebatan sengit saat itu antara aku dan Ibu. Aku sempat menangis dan merajuk seharian karena ibu tidak mendukung keinginanku yng memilih SMP favorit di daerahku yaitu SMPN 1 Jatikarang. Aku tahu, bukannya ibu tidak menginginkan yang terbaik untuk anaknya, bagaimana mungkin? Beliau hanya khawatir terkait transportasi yang akan aku gunakan jika aku sekolah disana. Ya.. aku memang anak rumahan yang sampai kelas 6 SD, ketika menyeberang jalan raya saja harus dibantu tukang becak. Sedangkan aku diharuskan naik sepeda pulang-pergi menyusuri jalan raya-melewati pasar yang cukup hiruk-pikuk  selama 3 tahun, jika aku sekolah disana. Tak heran, ibuku sebegitu ngototnya menyuruhku ke sekolah lain dengan alasan di sekolah tersebut, aku bisa difasilitasi oleh angkot. Heumm… untunglah aku bisa meyakinkan ibu bahwa aku pasti mampu melewatinya bersama teman – teman SDku yang juga memilih SMPN 1 Jatikarang.

Perjuangan mendaftar SMP telah dilewati. Tes tulis yang terkenal memiliki standar nilai tinggi pun telah dihadapi. Pengumuman penerimaan siswa baru menyatakan bahwa saya diterima di SMPN 1 Jatikarang. Alkhamdulillah.. aku senang, begitu juga orang tuaku. Aku mendapatkan kelas 7E bersama teman semasa SD yang bernama Hima. Hari pertama sekolah, Aku dan Hima sangat bersemangat menggoes pedal sepeda, sambil tersenyum dan mengobrol di sepanjang jalan. Kami antusias bagaimana suasana sekolah baru dengan teman baru, guru baru, pelajaran baru dan lain – lain. Namun aku lebih khawatir dengan bagaimana teman baru yang ada disana, apakah sama dengan temanku semasa di SD? Yang aku dengar anak – anak di sekolah baruku ini gaya hidupnya lebih seperti remaja urban. Aku berpikir bahwa kemungkinan akan tidak cocok denganku, karena aku lebih menyukai kesederhanaan dalam bergaul.

Tiba kami di kelas baru, karena rasa excited yang melambung tinggi, aku dan Hima adalah siswa pertama yang memasuki ruangan itu. Suasana masih lengang sehingga kami bebas memilih tempat duduk yang kami sukai, yaitu bangku urutan ketiga dari depan, kanan ruangan. Satu – persatu siswa lain masuk. Kami hanya terdiam, duduk rapi sambil menundukkan pandangan karena rasa tidak percaya diri. Ya.. kami masih belum terbiasa berbahasa Indonesia kala itu, karena ketika di SD lebih terbiasa menggunakan bahasa lokal. Tiba – tiba seorang siswi mendekati kami, dia berinisiatif mengajak kami mengobrol. Dia adalah Ugie… ternyata kita satu sekolah. Jujur aku sangat senang satu sekolah dengan Ugie, terlebih satu kelas. Akan tetapi, disinilah aku tersadar Ugie adalah anak yang sangat pandai dan pastinya akan menjadi saingan terberatku di tahun pertama ini. Aku harus berusaha ekstra jika masih menginginkan predikat juara kelas. Hima dan Ugie.. diantara teman baru, hanya merekalah yang sudah pernah aku kenal sebelumnya, sehingga tidak butuh waktu lama untuk kami menjadi teman dekat. Kami bertiga ditambah Nia, seperti anak ABG pada umumnya, kamipun menjadi sahabat dekat dan tergabung dalam satu geng yang kemana – mana bersama.

Ada yang menarik dari persahabatan ini, aku dan Ugie khususnya. Ugie adalah sahabat yang sangat baik, dia sering sekali mentraktirku. Kami sering curhat masalah apa saja, dari tertawa hingga menangis bersama. Pernah suatu hari Ugie marah kepada ibunya, kemudian untuk menghibur anaknya, ibu Ugie datang ke sekolah dan kemudian kami pun makan bersama. Kami sering main bersama setiap pulang sekolah.  Tapi yang paling berkesan untukku adalah kami pernah memproklamirkan kepada teman – teman sekelas bahwa “Kami adalah sahabat di pergaulan, tapi kami adalah musuh dalam pelajaran” inilah semboyan kami. Semboyan itu hanyalah simbol bahwa kami akan terus berusaha menjadi yang terbaik dengan usaha masing – masing. Meski aku mengakui, Ugie banyak membantuku terutama dalam hal belajar Bahasa Inggris, dia sangat piawai. Nilai ujian kami kerap kali berkejar-Kejaran, saling sikut untuk mendapatkan posisi tertinggi. Namun pada akhirnya aku memang kalah dari Ugie, aku hanya mampu meraih peringkat kedua. Ya.. dia pantas mendapatkan itu, karena dia pandai dalam segala hal, tetapi aku tak putus asa, aku akan terus berusaha menjadi yang terbaik semampuku.

2007-2008..

Tahun kedua SMP, kami mempunyai kelas baru masing – masing, hanya Ugie dan Nia yang tetap satu kelas. Selama itu, kami tetap berteman baik. Sampai pada akhirnya di tahun ketiga aku, Ugie dan Nia berkumpul lagi di kelas 9D, sayangnya Hima terpisah di kelas sebelah. Kami masih sedekat dulu.. tidak ada yang berubah. Sampai pada ujian nasional dan pengumuman nilai ujian nasional. Ugie memang membanggakan, dia masuk peringkat 3 besar, sedangkan aku hanya masuk 10 besar tapi aku tetap bersyukur.

Tiba saatnya kami bingung memilih SMA. Ugie dengan mantapnya memutuskan untuk melanjutkan di SMAN 6 Cirebon. Sedangkan aku sangat dilema antara memilih SMA atau SMK. Aku sebenarnya lebih menginginkan SMK, karena aku lebih berpikiran untuk segera bekerja setelah lulus, sama sekali tak terpikir untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi. Aku tidak ingin lama – lama membebani orang tua. Orang tuaku adalah petani yang telah berusaha keras untuk menyekolahkan anaknya. Tapi ada kendala, postur tubuhku yang “imut” membuat peluangku diterima di SMK sangat kecil, walaupun kemungkinan dari nilai memenuhi kualifikasi. Ibuku akhirnya menyarankanku untuk melanjutkan ke SMA. Keinginan orangtuaku tidak muluk – muluk, tidak menuntut masuk SMA terfavorit, mereka hanya ingin aku sekolah dengan baik agar memiliki derajat yang lebih tinggi dari orang tuanya. Seperti kalam Allah ini, “…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS. Almujadalah: 11). Akhirnya akupun sekolah di SMAN 1 Sliyeg, yang dekat dari rumahnku.

Selama SMA Ugie tinggal di Cirebon di rumah neneknya, dia pulang ke rumah hanya ketika liburan semester. Tapi kami masih bersahabat baik, kami masih saling menyemangati terutama dalam hal akademis. Ketika Ugie pulang ke rumah, aku main ke rumah Ugie ataupun sebaliknya, dan kami saling pamer nilai raport. Alkhamdulillah aku bisa menjadi yang terbaik di kelas semasa SMA. Ugie lebih memiliki saingan berat disana, tapi dia masih bisa menjadi yang luar biasa diantara yang terbaik. Aku masih tetap “iri” dengan segala kelebihannya dan hal itu selalu membakar semangatku. Sadar atau tidak.. Ugie adalah motivatorku.

2011..

Awal tahun ke-3 SMA, Aku mendengar bahwa salah satu kakak kelasku bisa masuk kuliah dengan beasiswa penuh hingga ditanggung biaya hidupnya. Aku kepo, tiba – tiba aku terpikir untuk bisa mendapatkan keberuntungan itu. Cita – citaku semasa kecil adalah menjadi dokter anak, jika itu terlalu tinggi maka alternatif kedua adalah menjadi seorang guru. Mungkin ini adalah kesempatan emas, seperti menemukan seberkas cahaya di kegelapan. Aku mengikuti alur cahaya itu, tanpa disangka aku dapat meraihnya. Beasiswa bidik misi  jurusan kesehatan masyarakat, salah satu universitas negeri di Jawa Tengah. Manusia memang kadang kurang bersyukur.. ditengah keberuntungan yang aku dapat, terselinap kekecewaan karena gagal masuk jurusan kedokteran ataupun pendidikan. Aku melakukan pembelotan dari cita – citaku, aku masih tidak terima, meski yang aku dapatkan saat itu adalah hasil usahaku juga. Kemudian Ugie menyadarkanku dari kata – katanya  ini.

“Banyak orang diluar sana, pengen masuk jurusan yang kamu dapat saat ini. Hei..masa kamu begitu? Jalanin dulu, lakukan yang terbaik. Belum mulai kok udah lesu duluan? Ayok semangat. See you on top sayang”

Sebait teks itu seakan menjadi pelecut yang langsung mencerahkanku dari kemuraman. Aku menjadi sadar dan meyakini bahwa apa yang terjadi padaku, semuanya adalah pemberian terbaik dari Allah untukku. Allah lebih mengetahui dan sangat mengasihi hamba-Nya. Alkhamdulillah, aku juga berterimakasih telah dipertemukan dengan Ugie, sahabat terbaik dan pembawa kebaikan. Dulu.. sebelum tahun ke-3 SMA, tak pernah terbayangkan olehku sketsa perkuliahan.. tapi kini aku bisa menikmati indahnya pendidikan dan pengalaman masa kuliah. Dunia kampus dengan segala isinya. Kini kami semakin dekat dengan tujuan kami, yaitu Puncak kesuksesan bersama, InsyaAllah. Kami telah menjadi mahasiswa tingkat 4. Ugie adalah mahasiwa Jurusan Ilmu Komunikasi dengan segala prestasinya di salah satu Universitas Negeri Jawa Tengah pula, tapi universitas kami berbeda. Pastinya dia selalu mengungguliku, dan aku akan terus belajar dari kelebihannya itu. karena mencontoh kebaikan itu tidak akan pernah salah kan?. Bagiku dia adalah pemantik yang ketika mengingatnya, semangatku.. membakar pesimis yang tak perlu🙂

Untuk Sahabatku Egie Nurmahabbi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s